Saturday , 18 August 2018
update
15 Tahun Reformasi, Sebuah Diskusi

15 Tahun Reformasi, Sebuah Diskusi

Reformasi Indonesia telah menginjak umur ke-15. Begitu banyak pelajaran yang dapat diambil dalam waktu 15 tahun tersebut. Pada tanggal 21 Mei 2013, bertempat di Sari Pan Pacific, LSI (Lembaga Survei Indonesia) bekerja sama dengan Majalah Indonesia 2013 mengadakan diskusi ’15 Tahun Reformasi Indonesia’. Hadir beberapa pembicara dalam diskusi tersebut di antaranya; Djayadi Hanan, Direktur Riset SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting); Afra Suci Ramadhan, founder Pamflet; Umar Juoro, ahli ekonomi; Arif Zulkifli, Direktur Eksekutif Majalah Tempo.

Dalam diskusi tersebut disampaikan hasil survei yang dilakukan oleh SMRC mengenai pendapat masyarakat mengenai masa orde baru dan masa reformasi. Survei menunjukkan bahwa 70% masyarakat Indonesia menganggap bahwa masa setelah reformasi yang terjadi pada tahun 1998 jauh lebih baik jika dibandingkan dengan masa orde baru.

Pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secera signifikan terus meningkat. Akses pendidikan dan kesehatan semakin mudah diakses bahkan oleh masyarakat miskin sekalipun. Kesejahteraan masyarakat pun menjadi lebih baik dengan meningkatnya pendapatan masyarakat. Begitulah hasil yang ditunjukan oleh survei yang mengambil sampel sebanyak 1.200 orang dari seluruh Indonesia yang telah mewakili semua golongan. Survei tersebut juga ditujukan untuk masyarakat yang hidup masa orde baru dan reformasi sebagai perbandingan, sehingga dapat dikatakan sampel dalam survei ini adalah orang dewasa.

Survei ini juga menekankan kepada pendapat masyarakat tentang demokrasi. Menurut Djayadi Hanan, demokrasi dalam sebuah negara dapat diukur dengan melihat kepada dua hal, yaitu kebebasan berbicara dan kebebasan berserikat di negara tersebut. Masih dari hasil survei, fakta bahwa demokrasi di Indonesia saat ini tumbuh lebih subur melihat kebebasan berbicara yang semakin terjamin, dimana setiap warga negara memiliki hak untuk menyuarakan pendapatnya baik melalui media maupun melalui lembaga legislatif.Kebebasan berserikat juga menjadi lebih baik, terbukti dengan bertambahnya jumlah NGO (Non Government Organization) di Indonesia.

Selain itu, demokrasi di Indonesia yang menjadi lebih baik pun dibuktikan oleh freedom house. Freedom house merupakan lembaga survei milik Amerika Serikat yang mengukur tingkat “demokrasi” di dunia. Terdapat 3 kategori dalam freedom house, yaitu freequite freedan not free, dengan nilai 1 untuk negara dengan demokrasi terbaik, dan nilai 7 untuk negara dengan demokrasi terburuk. Indonesia saat ini masuk ke dalam kategori FREE dengan nilai 2,5. Pada masa orde baru Indonesia masuk ke dalam kategori NOT FREE dengan nilai 7.

Media sebagai salah satu alat reformasi kini telah memiliki kebebasan yang diatur dalam menyampaikan berita dan informasi. Arif Zulkifli bercerita tentang kehadirannya dalam konferensi WINA yang diadakan oleh UNCEC (konferensi PBB untuk melawan korupsi). Konferensi tersebut menghasilkan Pasal 13 yang menyatakan bahwa pers memiliki peran yang penting dalam mengawasi jalannya pemerintahan dan memberantas korupsi. Namun, yang menjadi perdebatan adalah apakah sesungguhnya definisi dari wartawan itu sendiri, karena definisi wartawan sendiri berbeda di setiap negara.

Amerika Serikat mendefiniskan wartawan sebagai juru tinta yang bekerja pada lembaga media, sedangkan Meksiko mendefinisikan wartwan sebagai perangkat jurnalistik yang tidak mainstream. Maka, berdasarkan definisi wartawan dari Meksiko, setiap orang yang mempublikasikan berita hanya melalui media sosial sekalipun (misalnya Twitter ataupun Facebook) telah dapat dikatakan sebagai wartawan. Perdebatan ini masih berlanjut sampai saat ini, namun hal yang dapat disimpulkan adalah di setiap negara demokrasi, media merupakan salah satu aspek yang paling penting.

Reformasi juga telah membuat perekonomian Indonesia menjadi lebih baik. Umar Juoro juga mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini lebih sejahtera jika dibandingkan dengan masa orde baru. Namun seiring dengan kesejahteraan yang meningkat, ketimpangan ekonomi pun meningkat. Mengutip perkataan Umar Juoro “Sekarang, orang yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin”.Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pemerataan pendapatan dan pembangunan di Indonesia. Ketimpangan ekonomi ini jugalah yang telah membuat demokrasi berjalan tidak lancar karena rakyat merasa pesimis dengan adanya demokrasi.

Ekonomi memiliki hubungan yang erat dengan demokrasi. Sebuah negara dapat memiliki atmosfer demokrasi yang baik jika pendapatan negara tersebut minimal 6500 USD per kapita, seperti contohnya Korea Selatan dan Brazil. Sedangkan saat ini Indonesia masih memiliki pendapatan sekitar 3500 USD per kapita. Rendahnya tingkat pendapatan Indonesia perkapita salah satunya disebabkan oleh melemahnya sektor regulated (sektor yang dikuasai pemerintah) seperti perdagangan minyak dan pembangunan infrastruktur. Disaat yang sama, sektor-sektor non regulated (sektor yang dikuasai swasta) seperti komunikasi, perdagangan pangan dan real estate semakin meningkat. Keadaan ini tentu saja membuat pendapatan negara berkurang karena sektor regulated kalah bersaing dengan sektor non-regulated.

Berbicara tentang reformasi, tentu juga akan berbicara tentang pemuda, karena sesungguhnya reformasi di Indonesia pun dapat diraih dengan adanya perjuangan dari para pemuda. Afra Suci sebagai founder Pamflet (organisasi kepemudaan yang memberi perhatian khusus kepada keadaan politik dan demokrasi di Indonesia) memberikan hasil riset yang menunjukan bahwa pada saat ini pemuda Indonesia merupakan pemuda yang apatis, materialistis, egois dan memiliki rasa nasionalisme yang rendah. Keadaan inilah yang membuat pemuda seperti acuh tak acuh dengan keadaan negaranya sendiri dan hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri.

Hal ini dapat dilihat dari semakin rendahnya advokasi pemuda kepada masyarakat yang semakin menurun dan semakin pasifnya pemuda dalam menanggapi kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Namun, sebagai seorang pemuda, Afra juga mancoba untuk membela para pemuda dengan mengatakan bahwa kondisi pemuda saat ini sesungguhnya adalah produk dari manusia-manusia di masa lampau. Sifat materialistis pemuda disebabkan oleh perekonomian yang terus meningkat dan dengan semakin mencoloknya ketimpangan sosial dan ekonomi yang ada.

Nasionalisme yang rendah disebabkan oleh pendidikan kewarganegaraan yang hanya menyentuh ranah normatif dan terdapat jarak yang terlalu jauh dengan kehidupan nyata. Sifat egois pemuda disebabkan oleh terkungkungnya kekritisan pemuda (terutama di sekolah, dimana seorang guru selalu menjadi yang paling benar) dan kepekaan sosial. Sifat apatis pemuda pun sebagai hasil dari depolitisasi melalui kebijakan pendidikan pemerintah yang tidak transparan, birokrasi yang rumit dan eksklusif. Bagaimanapun keadaannya, sampai saat ini pemuda masih merupakan tonggak utama reformasi di segala bidang.

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa bagaimanapun keadaan ekonomi, demokrasi dan pemuda saat ini, tidak ada kata terlambat untuk maju menjadi lebih baik. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju lain, 15 tahun reformasi Indonesia masihlah menjadi waktu yang singkat untuk sebuah perjuangan. Masih begitu panjang perjalanan bangsa Indonesia untuk menjadi negara demokrasi yang maju dan mampu bersaing dalam globalisasi. oleh karena itu, tidak ada kata berhenti maupun beristirahat dalam perjuangan ini. Hidup Reformasi!

 

Penulis : Geby Devtiana M. (Mahasiswi SSE Jakarta)
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top