Wednesday , 21 November 2018
update
30 Hari ‘Mencari’ Takwa

30 Hari ‘Mencari’ Takwa

Ramadhan sudah mengintip, apa kabar persiapan kita? Berbicara persiapan tentu mengandung banyak makna. Termasuk di dalamnya persiapan fisik, psikis, finansial, dan tentu yang tak kalah utama: ilmu. Tentu amat naif jika kita masuk ke dalam Ramadhan dalam keadaan minim ilmu. Keadaan ini berpotensi mengurung kita dalam sikap minimalis ibadah dan loyo beramal. Rugi nian orang macam ini. Di saat banyak orang panen pahala dan kebaikan dari Allah SWT, justru mereka sudah merasa puas—lebih tepatnya malas mungkin—dengan amal seadanya. “Yang penting mah gue puasa, bro!” Mungkin pernyataan sejenis ini yang akan menjadi senjata andalan. Na’udzu billahi min dzalik.

Ilmu terkait Ramadhan tak hanya berkisar pada apa dan bagaimana puasa yang baik itu. Bukan pula berhenti pada mengetahui apa dan bagaimana amal-amal utama lainnya. Ada beberapa hal lain yang tak harusnya kita ilmui pula. Ambil contoh tentang keutamaan Ramadhan. Meski sudah sering kita jumpai kajian ini, hendaknya kita bisa masuk lebih dalam kepada penghayatan pentingnya Ramadhan. Mengapa? Coba simak petikan hadits dan atsar berikut.

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya`ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan” (dalam Musnad Imam Ahmad)

“Bulan kalian hampir tiba.” (Hadits Rasulullah SAW)

“Bulan zakat (red: penyucian) kalian telah tiba.” (Utsman bin Affan r.a.)

Saking pentingnya Ramadhan, Rasulullah SAW, para sahabat, dan generasi salaf memang terbiasa berdo’a, berharap, saling mengingatkan, serta menasihati terkait bulan ke-9 dalam penanggalan Hijriyah ini. Bahkan ada satu keterangan mencengangkan seperti berikut:

“Generasi Salaf berdoa sejak 6 bulan sebelum Ramadhan agar dapat berjumpa dengan bulan tersebut. Jika Ramadhan tiba, mereka berdoa agar mendapat taufik, diberi kesungguhan dan semangat beribadah. Seusai Ramadhan mereka berdoa sepanjang sisa tahun tersebut agar ibadah Ramadhan mereka diterima Allah SWT.” (Syaikh `Athiyyah Salim)

Di kesempatan lain, Rasulullah SAW pun bersabda:

“Saat masuk malam pertama Ramadhan, setan-setan dan jin-jin pendurhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup hingga tidak satu pun pintunya yang terbuka, dan pintu-pintu surga dibuka hingga tidak satu pun pintunya yang ditutup. Sementara malaikat penyeru mengumumkan, ‘Wahai pendamba kebaikan datanglah! Wahai pendamba kejahatan berhentilah! Dan, Allah menetapkan orang-orang yang dibebaskan dari ancaman neraka.’ Itu dilakukan setiap malam.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ringkasnya, Ramadhan dalam pandangan generasi terbaik terdahulu ialah masa yang benar-benar didamba kehadirannya. Bagaimana dengan kita?

Sayangnya tak semua kaum Muslimin memiliki spirit laiknya para salafush shalih. Jauh-jauh hari Rasulullah telah mengingatkan adanya manusia jenis ini.

“Suatu ketika Nabi SAW naik mimbar lalu tiba-tiba berkata, “Amin, amin, amin.” Para sahabat bertanya tentang alasan beliau melakukan itu, maka beliau berkata, “Jibril menemuiku lalu berkata, ‘Siapa yang menjumpai bulan Ramadhan tapi dosa-dosanya tidak juga diampuni maka Allah pasti akan menjerumuskannya di ke dalam neraka. Muhammad, katakanlah, ‘amin.’ Maka akupun berkata, ‘amin.’” (Al-Hadits)

Mengapa begitu keras ancaman terhadap orang demikian? Demi mengetahui jawabannya, silakan jawab pertanyaan: Jika di bulan Ramadhan yang sudah demikian kondusif untuk ibadah saja mereka tidak menggapai ampunan Allah, bagaimana dengan bulan-bulan lain di mana tak ada jaminan Allah akan amannya mereka dari bisikan setan?

Setelah menghayati urgensi Ramadhan, tujuan Ramadhan perlu kita pahami pula. Mungkinkah seseorang sampai kepada yang dituju sedangkan ia tak tahu kemana harus menuju? Maka, Maha Pemurah Allah yang telah memberitahu kepada kita tentang tujuan (‘illat) Ramadhan ini.

“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Dari ayat populer ini dan dengan mentadaburi ayat setelahnya, maka membentuk pribadi bertakwa itulah tujuan adanya Ramadhan. Seberapa pentingkah takwa itu sebenarnya sehingga menjadi ‘illat dari Ramadhan? Berikut beberapa keterangan terkait urgensi takwa.

Takwa Sebagai ‘Illat Penciptaan Manusia

Coba tadaburi dua ayat berikut:

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56)

“Hai manusia beribadahlah kalian pada-Ku yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 21)

Takwa Sebagai Substansi Dakwah Para Nabi

Hal ini termaktub dalam firman Allah:

“Kaum Nuh mendustakan para rasul. Apabila saudara mereka, Nuh, berkata kepada mereka, ‘Tidakkah kalian bertakwa. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang dipercaya. Bertakwalah kepada Allah dan patuhlah kepadaku.’” (QS Asy-Syu`ara: 105-108)

Ayat yang serupa dengan ini bisa kita jumpai dalam QS Asy-Syu’ara: 123-126.

Takwa Prasyarat Berfungsinya Al-Qur’an Sebagai Petunjuk

Tidak berguna Al-Qur’an sebagai petunjuk yang akan menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat jika tak ada takwa dalam dada. Firman Allah:

“Alif Lam Mim. Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 1-2)

Takwa Solusi Segala Problema di Dunia

Problema manusia tidak akan lepas dari hal-hal seperti: kurangnya ilmu, fitnah dan krisis, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, dan ketenangan hati. Semua hal ini ternyata sudah Allah garansikan bisa kita atasi jika takwa kita benar-benar bulat kepadanya. Perhatikan beberapa firman Allah berikut:

“Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkan ilmu padamu. Dan, Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah: 282)

“Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia pasti akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS Ath-Thalaq: 2-3)

“Siapa yang bertakwa kepada Allah maka niscaya Dia akan menjadikan urusannya menjadi mudah.” (QS Ath-Thalaq: 4)

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik (ihsan).” (QS An-Nahl: 128)

Takwa Sebagai Kunci Kebahagiaan Akhirat

Allah telah mengabarkan:

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya’” (QS Az-Zumar: 73)

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air.” (QS Ad-Dukhan: 51-52)

Terakhir, bisa kita simpulkan bersama mengapa Ramadhan demikian istimewa ialah karena takwa dengan segala dimensinya adalah inti Ramadhan tersebut. Secara ringkas, jika kita bisa mengisi Ramadhan dengan segala sesuatu bernilai ibadah, maka mari memanfaatkan satu bulan (30 atau 29 hari) ini sebagai momen menggapai takwa. Sehingga pada akhirnya nanti takwa ini akan berfungsi sebagai mana asalnya, yakni tameng, penjaga, dan benteng dari segala kepayahan dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

*Diadaptasi dari materi Tarhib Ramadhan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Sabtu (6/7) oleh Ust. Asep Sobari, Lc.

Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top