Tuesday , 18 December 2018
update
Adonan Kue Cinta

Adonan Kue Cinta

“Berapa  ember, Dil, yang telah kita kumpulkan selama tiga hari?”
“Alhamdulillah, 27 ember Boy!” jawab Adil dengan semangat.
“Alhamdulillah,”

Hari keempat, kami berkumpul di rumah si keras kepala. Di sana kami mengumpulkan semua informasi pekerjaan yang tertera pada kolom koran. Kami buka satu persatu, tak kunjung juga kami dapati. Terlihat benih-benih kekecewaan mulai menggelayut di wajah masing-masing. Sempat aku bertanya, “Apakah dengan mencarikan pekerjaan ayah Adil ke kota adalah cara yang tepat, atau kami harus sedikit lebih berusaha lagi?” Untuk hari ini, tak satu pun kami dapati kata-kata ‘lowongan pekerjaan’.

Tubuh ini remuk redam, tertampar  tajamnya udara, terpanggang sengatan matahari hingga meraja butiran jagung-jagung keringat yang kerembas keluar poriku.  Sepertinya sistem metabolisme  dalam tubuhku tak menghasilkan ATP (energi tubuh, biologi) yang cukup untuk menopang tubuh. Kurebahkan badan yang kurus dan tipis ini di dipan, sambil kuceritakan kesulitan ini padaNya.

Gugur bunga tanpa bicara
Jatuh tak berharga tanpa berkemuka
Terkadang bertanya apakah ini suratan dariNya
Terkadang pula ingin serta merta menangisanya dalam duka

Kepala asaku telah terpukul kaku
Mati dan terkubur tanpa berita haru
Terkadang menuai pilu
Namun untuk apa aku harus merasa malu

Kalau angin mampu mencari arah untuk berhembus
Kalaupun air akan berenang mencari muara
Maka aku..
Tak akan berhenti meski darah tak lagi membubus
Tak akan berhenti walau hari  berkata ‘waktumu telah hangus’

Sudah tak terhitung lagi jumlah koran yang kami buka hari ini. Kami diam, tak ada canda dari si keras kepala  atau bunyi mulut Anam saat mengunyah tebu. Benar-benar  tanpa kata. Hening seribu hening. Aku teringat dengan catatan kemarin yang keberikan pada Adit.

“Dit, kau masih menyimpan catatan tentang poin rencana kita yang kuberikan padamu?”
“Masih, sebentar,” sambil mengambil sesuatu dari kantong celana pendeknya.
“Ini Boy,” dia menyerahkan padaku.
“Menurutmu, apakah kita masih percaya dengan ini?” sambil kutunjukkan secarik kertas berwarna kecoklatan.
“Jangan patah arang, Boy. Masih banyak pilihan yang harus kita coba,”
“Bisa aku melihatnya?” Anam bertanya.
“Bagaimana jika poin kedua kita gabung dengan poin lima yang aku tambahkan?” seraya menulis semua kata dalam barisan poin ke lima pada kertas tersebut.
Setelah membacanya aku terkejut. Kuperlihatkan pada Adit temuanku.

“Tak kusangka kalau ramuan tebu mampu membuat kepalamu encer, Boy,” Adit sesumbar sembarangan.
“Baru tau kau, Dit?”
“Ayo jangan berlama-lama, kita ke pasar,”
”Baiklah,” jawab mereka berdua serentak.

***

Kami tiba di toko kelontong milik Koh Alim.
“Koh, terigu dan tepungnya masing 3 kg,” teriak Adit.
“Apa lagi?” tanya Koh Alim sembari tangannya cekatan memasukkan pesanan dalam kresek besar.
“Gula putih 2 kg, mentega 4, adonan kue 5, Koh,”
“Tunggu sebentar la.. Wek ambilkan dulu,”

Maklum, Kawan. Adit sudah tau seluk beluk pasar. Sebelunya, sudah kuceritakan bukan? Jangankan masalah tepung dan terigu yang murah, harga cabai merah keriting pun dia tau. Itulah kelebihan yang diberikan Tuhan untuknya. Kali ini memang dia berguna dan sangat menentukan keuangan kami. Sebelumnya telah kukatakan pada Adil perihal rencana kami. Namun, Ia tak tahu jika rencana berubah. Kemudian ia membagi uang hasil penjualan batu, tak banyak.

Kami pun tiba di rumah Adil dengan bawaan begitu banyak. Kulihat Anam mengantongi tebunya untuk mengangkat terigu. Adil yang menyaksikan kami datang ke rumahnya sangat  heran.

“Bukankah hari ini kita tak punya jadwal ke sungai?” Adil heran.
“Ya, Boy, kami ingin bertemu ibumu,”
“Buat apa?”
“Nanti kau tahu,”
‘Ayo masuk kalian,”

Kami menyerahkan perlengkapan untuk membuat kue pada ibu Adil. Beliau memang terkenal pandai membuat kue. Banyak orang kampung  jika sedang mengadakan hajatan atau pesta meminta pertolongan ibu Adil untuk membuat kue. Siapapun orang sekampung tahu kalau beliau jago membuat kue. Kami menjelaskan niat kami dengan cara perlahan agar beliau tak merasa tak enak hati atau bahkan akan membuat marah karena tersinggung. Akhirnya beliau pun menerima usulan baik kami.

Seminggu setelah kami membantu ibu Adil, terdengar kabar dari Adil bahwa kondisi keluarga mereka lumayan membaik. Tak sungkan ayah Adil membantu ibu untuk mengaduk adonan kue. Mungkin inilah satu kesempatan yang sangat dirindukan Adil. Ia melihat orang tuanya kembali merasakan syahdunya kebersamaan. Tak pernah diragukan alasan inilah mereka dipersatukan.  Nampak jelas senyum lebar dari keduanya saat saling berbagi tugas. Saat baskom hijau itu menjadi saksi merekahnya kembali cinta mereka yang sempat tertumpuk karung ekonomi. Saat tembok-tembok yang berlumut saling berceloteh yang iri dengan dengan kehangatan keluarga Adil.

Penulis : Anton Nuari
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top