Saturday , 18 November 2017
update
Ahmad Hassan : Ikon PERSIS yang Menyejarah

Ahmad Hassan : Ikon PERSIS yang Menyejarah

Sosok yang cukup menyejarah dan monumental dikalangan aktivis pergerakan ketika itu, terutama di kalangan PERSIS (Persatuan Islam). Tokoh ini yang memiliki andil besar dalam membentuk pribadi Natsir yang cerdas, kritis dan religius. Sejarah mencatat bahwa Natsir adalah tokoh muda yang begitu pandai dalam berdiplomasi dan menuangkan gagasannya.

Ahmad Hassan atau Hassan bin ahmad lahir tahun 1887 di Singapura. Ayahnya bernama Ahmad yang berasal dari India dan dan bergelar Pandit. Ibunya bernama Muznah yang berasal dariPalekat Madras, tetapi lahir di Surabaya. Ahmad dan Muznah kawin di Surabaya ketika Ahmad pergi berdagang ke kota itu dan kemudian menetap di Singapura .

Tahun 1921, Hassan berpindah ke Surabaya dengan maksud mengurus toko tekstil milik paman dan gurunya. Abdul Latif berpesan kepadanya agar di Surabaya nanti tidak bergaul dengan seorang yang bernama Faqih hasyim yang dianggap sesat karena menganut paham wahabi. Di surabaya ada yang bernama kaum tua dan kaum muda.

Hassan merantau ke Bandung untuk mempelajari cara menenun di sebuah lembaga tekstil peemrintah. Ia bermaksud mendiirikan perusahaan tenun di Surabaya bersama kawannya. Selama di Bandung, Ia tinggal di rumah Haji Muhammad Yunus, salah seorang pendiri Persis. Tapi tak lama berselang, Hassan lebih memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan fokus untuk menimba ilmu keagamaan. Bersama Haji Muhammad Yunus, Hassan banyak belajar ilmu agama dan memilih untuk bergabung di PERSIS.

Ahmad Hassan bukanlah tokoh tersohor yang aktif dan populer akan sumbangsihnya di bidang politik. Ia memilih fokus untuk membina kawula muda dari segi kapasitas agama. Natsir, adalah muridnya yang sangat populer akan pemikiran dan pribadi yang sangat religius. Atas nasihat Hassan sebagai mentor bagi Natsir, Natsir yang pandai berbahasa Belanda mendebat pendeta yang menyudutkan Nabi Muhammad SAW melalui surat kabar yang beredar ketika itu. Aksi ini mendapat dukungan penuh dari Hassan dan juga mentor Natsir yang lain yakni K.H Agus Salim.

Tak hanya Natsir yang banyak belajar kepada Hassan terkait ilmu agama, presiden pertama Indonesia yakni Soekarno juga belajar agama kepada Hassan. Meski Soekarno tidak mewarisi pemikiran Hassan, namun Hassan tak kenal lelah untuk terus menularkan ilmu agama kepadanya. Hubungan Hassan dan Soekarno semakin terlihat ketika Soekarno diasingkan ke Endah, Flores, oleh pemerintahan Belanda. Soekarno acapkali berkorespondensi kepada Hassan terutama menyangkut masalah-masalah agama. Kumpulan surat-menyurat Soekarno kepada Hassan diabadikan dalam buku “Di bawah Bendera Revolusi Jilid 1”. Hassan-lah yang setia mengirimkan Soekarno majalah dan buku-buku Islam untuk menemani hari-hari sepinya Soekarno selama pembuangan.

Ahmad Hassan adalah orang yang konsisten akan pemikiran dan gagasannya. Pemahaman dan pemikirannya senantiasa berlandaskan al-qur’an dan as-sunnah. Gagasan dan pemikiran kenegaraan juga tak pernah ia pisahkan dengan konsep islam. Bagi Hassan, Islam adalah agama syumul yang mengatur segalanya termasuk hal-ihwal kenegaraan. Ketika Soekarno merumuskan konsep Nasionalisme yang memisahkan peran agama, Hassan pun menolak. Nasionalisme ala Hassan, ketika kecintaan kita kepada bangsa dan tanah air kita, kita landaskan kepada islam. Suatu negara tidak boleh melandaskan prinsip kenegaraannya hanya berdasarkan kepentingan rakyat saja namun harus ada kepentingan dan cita-cita mulia Islam didalamnya. Gagasan inilah yang diwariskan kepada murid kesayangannya, Natsir.

Tahun 1936 didirikannya MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) sebuah wadah perjuangan Islam yang menyatukan berbagai macam ormas Islam. Didalamnya bergabung NU, Muhammadiyah, Persis, Sarekat Islam, dan hampir semua ormas Islam lainnya kecuali Ahmadiyah. Tiga tahun berselang, diadakan Kongres Islam di Solo yang membicarakan berbagai persoalan agama dan politik termasuk aliran sesat dan beberapa kasus yang menghina Islam. Persis dipilih sebagai ketua komisi untuk membahas kasus aliran sesat dan kasus yang menghina Islam ketika itu. Pemilihan dan pengangkatan ini tak lepas atas sumbangsih Hassan yang berhasil membuat PERSIS disegani dan dihormati oleh ormas islam lainnya.

Ahmad hassan memiliki reputasi yang cukup memikat karena berani berhadapan langsung dengan aliran-aliran sesat di indonesia. Tahun 1933, Hassan berdebat dengan Ahmadiyah dan diliput secara nasional. Bisa dibilang, Persis menjadi tersohor dan sangat disegani ketika itu tak terlepas dari peran besar tokoh yang menyejarah dan monumental yakni Ahmad Hassan. Sosok Ahmad Hassan layak disejajarkan dengan tokoh pergerakan lainnya; Cokroaminoto, Agus Salim, Wahid Hasyim, dan sebagainya.

 

Diadaptasi dari buku “Risalah Politik A.Hassan” Penerbit Pembela Islam Media.

 

Penulis : Dina Fauziah, Sekretaris Umum KAMMI MADANI 2013/2014

Leave a Reply

Scroll To Top