Saturday , 18 November 2017
update

Al-‘Ashr dalam Al-Azhar

Surat Al-‘Ashr adalah satu di antara sekian surat dalam Al-Qur’an yang memiliki jumlah ayat minimalis. Namun demikian, tak berarti bahwa kandungan makna di dalamnya pun tidak penting. Bahkan Imam Syafi’i pernah berujar:

“Kalau manusia seanteronya sudi merenungkan Surat ini, sudah cukuplah itu baginya” (dikutip dari kitab tafsir Al-Azhar)

Berikut terjemahan per ayat surat Al-‘Ashr yang dikutip dari tafsir Al-Azhar:

1. Demi masa!

2. Sesungguhnya manusia itu adalah di dalam kerugian.

3. Kecuali orang yang beriman dan beramal yang shalih dan berpesan-pesanan dengan Kebenaran dan berpesan-pesanan dengan kesabaran.

Lalu, bagaimana kandungan makna surat ke-103 yang diturunkan di Mekah ini? Berikut sekilas ulasan tafsir dari kitab tafsir Al-Azhar karya H. Abdul Malik Karim Amrullah (akrab disapa Hamka atau Buya Hamka).

“Demi masa!” (ayat 1). Atau demi waktu `Ashr (Indonesia: Asar). Yaitu waktu petang hari seketika bayang-bayang badan sudah mulai lebih panjang daripada badan kita sendiri. Di saat inilah umat Islam diperintah untuk mendirikan sholat Asar.

Terdapat dua macam penafsiran terhadap ayat pertama ini.

Pertama, Syaikh Muhammad Abduh melalui Tafsir Juzu’ ‘Amma menerangkan bahwa telah menjadi adat bangsa Arab apabila hari telah sore mereka duduk bercakap-cakap. Mereka membicarakan soal-soal kehidupan dan lain-lain tentang urusan sehari-hari. Karena banyak percakapan yang ngelantur, kerap terjadi pertengkaran atau sakit hati sehingga menimbulkan permusuhan. Sehingga ada yang mengutuki waktu Asar (petang hari) dengan mengatakan: Waktu Asar waktu yang celaka atau naas, banyak bahaya terjadi di waktu itu. Turunlah ayat ini memberi peringatan “Demi waktu Asar”. Perhatikanlah waktu Asar. Bukan waktu Asar yang salah, melainkan manusia yang mempergunakan waktu itu untuk hal yang sia-sialah yang salah.  Padahal kalau digunakan untuk hal yang berfaidah tentulah waktu Asar itu akan membawa manfaat.

Kedua, “Demi masa!”. Artinya, masa atau waktu secara keseluruhan. Waktu yang kita dalam bahasa Arab bisa disebut dengan `Ashr. Suka-duka, naik-turun, muda-tua, dan hidup-mati dijalani melalui kurun waktu tertentu. Allah SWT bersumpah dengan waktu atau masa, agar kita tidak menyia-nyiakan atau mengabaikannya. Sejarah kemanusiaan ditentukan oleh edaran masa.

“Sesungguhnya manusia itu adalah di dalam kerugian.” (ayat 2). Di dalam masa yang dilalui itu nyatalah bahwa manusia selalu berada dalam kerugian. Sehari mulai lahir ke dunia, di hari dan sehari itu usia sudah kurang satu hari. Setiap hari dilalui, sampai hitungan bulan dan tahun, dari muda ke tua, hanya kerugian jua yang dihadapi.

Di waktu kecil senanglah badan dalam pangkuan ibu, itu pun rugi karena belum merasai arti hidup. Setelah mulai dewasa kita bisa berdiri sendiri, beristeri, atau bersuami. Namun, kita tetap rugi  sebab hidup mulai bergantung kepada tenaga dan kegiatan sendiri, tidak lagi ditanggung orang lain. Demikian seterusnya selalu ada kekurangan atau kerugian selama masa hidup manusia.

“Kecuali orang yang beriman,” (permulaan ayat 3). Ada yang tidak akan merasakan kerugian sepanjang  masa hidupnya. Mereka ialah orang-orang yang beriman. Orang-orang ini mempunyai kepercayaan bahwa hidupnya ini adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa. Iman menimbulkan keinsafan guna apa dia hidup di dunia ini, yaitu untuk berbakti kepada Maha Pencipta dan kepada sesamanya manusia. Iman menimbulkan keyakinan bahwa sesudah hidup ini ada lagi kehidupan akhirat . Itulah hidup yang sebenarnya, hidup yang baqa. Di sana kelak segala sesuatu yang kita lakukan selama masa hidup di dunia ini akan diberi nilainya oleh Allah.

“Dan beramal yang shalih,” (lanjutan ayat 3). Selanjutnya, ciri orang yang tidak merugi ialah mereka yang beramal shalih. Sinar Iman yang telah tumbuh dalam jiwa itu dan menjadi keyakinan dengan sendirinya menimbulkan perbuatan yang baik.

Dalam kandungan perut ibu tubuh kita bergerak. Untuk lahir ke dunia kita pun bergerak. Maka, hidup itu sendiri pun adalah gerak. Gerak itu adalah gerak maju. Berhenti sama dengan mati.

“Dan berpesan-pesanan dengan kebenaran.” Nyatalah sudah bahwa hidup yang bahagia itu adalah hidup bermasyarakat. Hidup menyendiri adalah hidup yang sangat rugi. Maka hubungkanlah tali kasih sayang dengan sesama manusia dan berilah peringatan apa yang benar. Dengannya hal yang benar itu dapat dijunjung tinggi bersama. Begitu pula sebaliknya. Peringatkanlah mana yang salah, supaya yang salah itu dijauhi. Dengan demikian beruntunglah masa hidup.

“Dan berpesan-pesanan dengan kesabaran. ” (akhir ayat 3). Tidaklah cukup kalau hanya saling menasihati ihwal kebenaran. Sebab hidup di dunia itu bukanlah jalan datar saja. Kerapkali kaki ini terantuk duri atau teracung kerikil. Banyak orang rugi lantaran dia tidak tahan menempuh kesukaran dan halangan hidup. Dia rugi sebab dia mundur atau dia tidak berani maju. Dia berhenti di tengah perjalanan. Padahal berhenti artinya pun mundur. Sedang umur berkurang juga. Di dalam al-Quran banyak diterangkan bahwa kesabaran hanya dapat dicapai oleh orang yang kuat jiwanya. Lihat surat Fushshilat (41): 35. Orang lemah, maka merugilah ia.

Maka, dengan pengecualian yang empat ini: (1) Iman, (2) Amal shalih, (3) Saling menasihati dalam kebenaran, (4) Saling menasihati dalam kesabaran ini kerugian yang mengancam masa hidup itu dapat dielakkan. Kalau tidak ada empat hal ini, rugilah seluruh masa hidup kita. Wallahu a’lam.

*Diringkas dan diadaptasi dari kitab tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka

Oleh: Nur Afilin

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top