Saturday , 21 October 2017
update
Alquran (Bukan) untuk Dibanggakan!

Alquran (Bukan) untuk Dibanggakan!

Semua umat Islam pasti mengenal Al-Quran. Ya, ia adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad lewat perantara Jibril. Bahkan, kitab fenomenal dan luar biasa ini tidak hanya terkenal di kalangan kaum muslimin saja. Orang-orang dari kalangan di luar Islam banyak yang amat mengenal Al-Qur’an. Lalu, bagaimana seharusnya kita memposisikan Alquran?

Mestinya setiap diri muslim bangga terhadap Alquran. Banyak keajaiban dalam Alquran yang tidak mungkin kita temukan di kitab-kitab, ensiklopedia-ensiklopedia, buku-buku referensi mana pun. Misalnya, prediksi-prediksi akurat nan tentang kekalahan bangsa Romawi. Jauh sebelum kejadian peristiwa itu, Allah SWT sudah menyatakannya dalam Alquran.

“Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, kerena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha penyayang” (QS Ar-Rum: 2-5).

Selain itu, ada juga ilmu pengetahuan, seperti ilmu biologi. Kita ambil contoh, ketika membahas tentang penciptaan manusia, Alquran sudah menerangkan sebelum ilmu biologi tersusun seperti saat ini. Firman Allah dalam Alquran:

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang di panjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesusuatu pun yang dahulunya telah diketahunya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabilah telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan-tumbuhan yang indah.” (QS Al-Hajj: 5).

Belum lagi jika baca secara saksama. Tak ada satu pun ahli sastra yang meragukan kedalaman isi serta keindahan bahasa Alquran. Tantangan Allah dalam Alquran agar para penentang Alquran membuat yang serupa Alquran pun tak bisa dipenuhi hingga saat ini. Bahkan hingga kiamat nanti, niscaya Alquran memang tak bisa diserupakan.

Terlepas dari itu semua, apakah cukup hanya berbangga dengan kehebatan Alquran? Tentu saja tidak. Ia bahkan diturunkan bukan untuk sekadar bahan dikagumi belaka. Perlakuan paling minimal yang harus kita terhadap Alquran ialah membacanya. Saking pentingnya perkara membaca Alquran ini, terdapat banyak riwayat yang menyatakan keutamaan yang diperoleh para pembaca Alquran. Salah satu yang cukup popular ialah hadis Rasulullah SAW berikut:

“Bacalah Al-Quran. Sebab, Al-Quran akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada orang-orang yang membacanya.” (HR Muslim)

Maka, sebagai seorang muslim, masing-masing kita seyogianya merasa malu jika tidak membiasakan diri membaca Alquran. Lihat saja banyak orang non muslim di luar sana yang ternyata tidak sedikit gandrung terhadap Alquran. Mereka membaca, menghafal, dan bahkan mempelajari maknanya, meskipun tidak berlandaskan niat karena Allah.

Selain investasi akhirat berupa syafaat tadi, ketenangan jiwa niscaya akan didapat oleh mereka yang gemar membaca Alquran. Barangkali ini akan berbeda dengan mereka yang hanya doyan “mengonsumsi” koran. Lebih lanjut, Rasulullah SAW juga pernah menyebut bahwa rumah kita tidak akan terasa sejuk, damai, nyaman, dan tenteram jika tidak pernah dibacakan ayat-ayat Alquran di dalamnya.

Oleh karena itu, sungguh disayangkan manakala Alquran yang Allah turunkan sedemikian hebatnya diabaikan begitu saja. Adalah sebuah hal ironis jika Alquran hanya menjadi hiasan meja. Dan lebih miris lagi ialah jika mereka yang banyak mengoleksi buku-buku besar berbagai disiplin ilmu, tapi sebuah mushaf Alquran pribadi pun tak punya. Mari bersama kita kembalikan posisi Alquran sebagai pedoman hidup, teman dekat, sekaligus sumber ilmu pertama dalam hidup kita.

Kontributor : Faqih Al-Fadli (Aktivis IPM Cabang Solokuro, Lamongan)

Editor : Nur Afilin

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top