Thursday , 20 September 2018
update
Balada Cemong, Disimpang Harapan…

Balada Cemong, Disimpang Harapan…

Senyum ini simpul,

Tapi nyata tak sesimpul yang terjalin (?)

Ini hanya semu yang retorika jadi kelabu.

Intrik bermata politik.

Politik pada yang mengaku terdidik.

Semakin muak mulai bergidik!

Ah, lagi ! moralitas dan solidaritas ini tanpa batas…

Tolak yang dipaksa untuk terukur,

Berubah seketika jadi bencana…

Justru metafosa jadi tulah,

Tak lagi tolak yang balak.

Mimpi-mimpi ini kemudian memudar,

Tergantung di langit ruangan.

Tercekat dalam kata, berbuih tanpa makna.

Meraung… bagai apa yang disebut macan pongah.

Tanpa asa, tanpa realita, tanpa nyata, bahkan tanpa nyawa !

Siapa mengeluh?

Siapa pula yang dikeluhkan?

Hendak mengaduh?

Antara sadar, dan entahlah….

Ternyata pada apa yang ada di diri.

Bahwa ini bukan dengan termometer A-B-C-D-E.

Bahwa ini bukan tentang suhu panas dan dingin.

Bahwa ini bukan hanya senyap gempita ceremonial.

Ah, apa pula predikat lekat tanpa perekat (?)

Apalagi katamu? Kaya atau miskin pula?

Kosong. Kotak, tanpa cahaya!

Ini realita kita,

Terkukung pada kebijakan tak bijak.

Terbelenggu pada dasar yang tidak mendasar,

Tejebak pula pada lumpur hidup berupa kebobrokan.

Ini harusnya kita,

Bertingkah layaknya gelar,

Berpijak juga pada yang benar,

Bukan DIAM dengan kelakar!

Bahwa barometer  tak perlu angka kawan!

Bukan pula abjad, atau gelar terbaiat.

Ini semua harusnya tentang maslahat, cukup!

Bahwa berusaha untuk berguna,

Bahwa bekerja untuk semua manusia,

Bahwa berkarya untuk bangsa.

Bahwa yang baik akan berbulir baik,

Bahwa moralitas tanpa batas itu nyata dari mimpi disiang bolong!

Maka gotong lah nyata, dari royong mimpi bahkan angan ini.

Wahai (kalian)… pewaris tahta negeri!

Penulis : Lusi Tri Jayanti

Leave a Reply

Scroll To Top