Saturday , 20 October 2018
update
Belajar Bersyukur

Belajar Bersyukur

Bersyukur sungguh tidak mudah. Sekiranya nikmat diri ini selalu kita kaitkan dengan segala yang dimiliki oleh orang lain, yang muncul biasanya adalah perasaan serba kurang. Kerapkali kita justru merasa bahwa orang lain lebih segalanya dari kita. Padahal, boleh jadi, demikian pula persangkaan orang lain terhadap diri kita. “Sawang sinawang,” begitu kata orang. Dalam konteks dunia rumah tangga, orang sering menyebut, “Rumput tetangga tampak lebih hijau.”

Saya ingin mengajak Anda untuk merenungkan kalimat berikut dengan serius. Banyak orang bisa membeli ranjang berkelas, tetapi tidak mampu membeli tidur pulas. Banyak orang bisa membeli obat mujarab, tetapi tidak mampu membeli badan sehat. Banyak orang bisa membeli rumah megah, tetapi tidak mampu membeli keluarga sakinah. Banyak orang bisa membeli karier mapan, tetapi tidak mampu membeli hidup tenang.

Sejatinya, nikmat terbesar itu bukan karena prestasi mentereng yang berhasil kita gapai. Nikmat terbesar dalam hidup adalah sesuatu yang kita butuhkan, meskipun tidak kita sadari sebagai nikmat. Napas, misalnya. Pernahkah kita mensyukuri napas itu sebagai sebuah nikmat yang super dahsyat? Orang baru tahu betapa menderita hidup tanpa napas, ketika sehari saja dia terserang penyakit asma. Demikian pula nikmat-nikmat lain yang sering kita anggap sebagai biasa, atau malah mungkin kita anggap sebagai bukan nikmat.

Pernahkah kita menyadari betapa besar nikmat berupa penglihatan, pendengaran, indra perasa, dan seterusnya itu? Padahal, bisa kentut saja merupakan nikmat luar biasa. Teman saya menghabiskan uang jutaan rupiah hanya gara-gara tidak bisa kencing. Belum lagi nikmat berupa pasangan setia dan anak-anak saleh. Subhanallah. Semua itu sungguh nikmat yang susah dinyatakan dengan baris kalimat.

Dapat beribadah dengan tenang itu merupakan nikmat. Lingkungan rumah atau kantor yang damai dan dijauhkan dari pengaruh buruk teman juga nikmat yang niscaya kita syukuri. Banyak orang menjadi koruptor bukan karena niat ingin melakukan korupsi. Kejahatan itu mereka lakukan semata karena terdesak oleh sistem yang mengharuskannya berlaku demikian.

Perjalanan meniti hidup ini memang tidak selalu mudah. Di tengah jalan, kita sering dihadang oleh keinginan demi keinginan. Terkadang malah keinginan-keinginan yang menyandera kita itu sifatnya duniawi belaka. Sikap yang paling bijak ialah tidak usah kita menggurui Tuhan. Umpama keinginan itu belum tercapai setelah berbagai ritme upaya, bersabarlah. Sangat boleh jadi kenyataan itu justru yang terbaik buat kita. Kita tidak selalu mampu memahami rumus Tuhan dengan baik.

Siapa sih yang ingin menjadi tukang becak, kuli bangunan, petani rumput, sopir angkot, petugas kebersihan, dan serupanya? Silakan tanyakan cita-cita anak sekolah. Umumnya mereka pasti akan menjawab ingin menjadi menteri, pengusaha, anggota legislatif, bahkan presiden. Adalah normal kalau setiap orang lebih menginginkan “roti” daripada “singkong”. Tetapi, yang perlu kita sadari adalah kapasitas kita. Tuhan sangat tahu itu.

Kalau kita ternyata dijadikan Tuhan seperti sekarang, yakinlah bahwa itulah yang pas menurut-Nya. Tugas kita tinggal menjalankan peran hidup ini sebaik mungkin. Lakukan saja segala yang di depan mata secara istikamah. Sembari demikian, jangan pernah lupa syukur dan ibadah. Ingat, apa, siapa, di mana, kapan, dan bagaimana kita, peluang untuk menabur benih manfaat itu tidak akan pernah terkunci. Munculnya ilmuwan itu karena ada guru-guru TK yang mendidik sepenuh kesungguhan. Kesejahteraan pejabat tinggi itu dikarenakan ada petani-petani miskin yang rajin menanam padi. Bahkan, lahirnya gedung megah pencakar langit juga pasti disebabkan ada kuli-kuli bangunan yang bersedia bekerja dengan upah rendahan.

Marilah belajar bersyukur. Sadarilah, sungguh kebahagiaan itu tidak mutlak dicapai dengan sesuatu yang serba materi dan berongkos mahal. Kebahagiaan sangat potensial bercokol dalam segala yang tampak sederhana. Simak kalimat berikut!

• Kebahagiaan itu kalau kita bisa membantu.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa bersatu.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa membahu.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa berguru.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa meniru.

• Kebahagiaan itu kalau kita bisa memberi.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa berbagi.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa menghormati.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa melindungi.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa memperbaiki.

• Kebahagiaan itu kalau kita bisa menunjukkan.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa menyelamatkan.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa memajukan.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa menenangkan.
• Kebahagiaan itu kalau kita bisa memuliakan.

M. Husnaini (Penulis buku Menemukan Bahagia)

 

Leave a Reply

Scroll To Top