Wednesday , 18 October 2017
update
Belajar dari Sebuah Mimpi

Belajar dari Sebuah Mimpi

mesopotamia
Judul: Mesopotamia: Mimpi Panjang yang Teramat Melelahkan
Penulis: Senja Nilasari
Penerbit: PING!!! (DIVA Press)
Cetakan: I, September 2014
Tebal: 220 halaman
ISBN: 978-602-296-023-2

Mendapatkan pengalaman bukan hanya ketika kita tersadar dengan mata terbuka saja. Namun, dari sebuah mimpi pun kita bisa belajar tentang kehidupan. Kita bisa menyadari bahwa mimpi bukan sekadar ilusi dan angan-angan, tapi mimpi merupakan perjalanan alam bawah sadar. Ada pula yang mengatakan bahwa alam mimpi merupakan alam dimana manusia “memasuki” cahaya Tuhan.

Kita bisa lihat dari kisah nabi Yusuf perihal mimpi yang memiliki banyak makna dan pelajaran bagi kehidupan. Juga dari para raja-raja dan orang terdahulu dengan mimpi-mimpinya di saat tidur. Mereka bisa mengantisipasi banyak hal yang mungkin akan terjadi. Begitulah, mimpi bisa memberikan informasi. Kita bisa belajar dari sebuah mimpi.

Kehadiran buku yang berjudul Mesopotamia: Mimpi Panjang yang Teramat Melelahkan ini akan mengajak kita untuk mengarungi sebuah mimpi sejarah kerajaan di Sumeria. Karya ini merupakan karya fiksi berupa sejarah masa silam, yaitu pada masa abad XXI sebelum Masehi.

Dikisahkan hiduplah Abdurrahman (Oman), seorang arsitek Iraq di Sumeria. Dia menjadi seorang budak dari orang-orang yang menolongnya ketika tiba-tiba berada di suatu tempat yang tidak ia kenal (h. 26).

Dirinya yang seorang ahli arsitektur andal pada abad XX setelah masehi (2014 M) tidak bisa berbuat banyak. Seakan-akan langkah dan gerak-geriknya diperlambat oleh keadaan yang menyertainya. Dia hanya bisa bergerak sesuai perintah tuannya. Secara akal sehat dia menyadari, bahwa dirinya bukan budak yang bisa menolak apa yang diperintahkan oleh orang yang menolongnya dan menjadi tuannya sendiri. Namun, apa daya, tak ada kekuatan berontak meski pikirannya sadar.

Dia menjadi budak tiga kali perjalanan dalam mimpi itu. Pertama, dia menjadi budak dari orang yang menolongnya, Tuan Abgal. Kedua, dia menjadi budak dari seorang yang berhasil membunuh Tuan Abgal, Tuan Halbi. Ketiga, dia menjadi budak Raja Shulgi dari sebagai hadiah dari Tuan Halbi untuk bekerja di lingkungan istana. Pertama-tama untuk membuat batu bata (h. 162).

Meskipun Oman seorang arsitektur dan mengaku kepada Raja Shulgi, dia tidak bisa diterima begitu saja karena berstatus budak pada saat itu. Namun, akhirnya berkat pertimbangan dari Raja Shulgi, Oman diminta pendapat tentang bangunan untuk pemujaan dewa-dewa penduduk Sumeria di kota Ur. Dia pun merancang bagian atas dari kuil yang bertingkat tiga itu.

Hingga akhirnya Oman tersadar dari mimpi panjangnya. Dan kuil di alam nyata itu setelah dikunjunginya memang dalam keadaan hancur. Dia menerka sebagaimana dalam mimpinya bahwa kuil yang tinggal satu tingkat itu hakikatnya bertingkat tiga. Bangungan itu hancur karena gerusan zaman yang terlalu lama (h. 213).

Dari mimpi itulah muncul suatu kenyataan bahwa kita tak memiliki kekuatan atas kehendak Tuhan. Mimpi menjadi sebuah alamat bagi kita untuk menjalani kehidupan lebih baik. Mimpi buruk yang dialami Oman itu jarang terjadi dalam kehidupan manusia. Bagaimana bisa Oman yang merupaan seorang arsitektur hebat dari Iraq dalam dunia lain menjadi budak yang bisa diperintah apa saja oleh tuannya. Walaupun pada akhirnya, berkat perjuangannya, dia juga diterima sebagai arsitek kuil kerajaan.

Itu semua menjadi tanda baik bagi Oman. Bahwa dirinya yang arsitek benar-benar harus menjadi seorang arsitektur profesional. Itu kemudian diwujudkannya dengan banyak karyanyta yang dikagumi dan diminati oleh dunia internasional.

Dari novel yang mayoritas berisi tentang perjalanan mimpi seorang Abdurrahman ini kita akan menemukan makna atau hakikat suatu mimpi bagi kita sendiri. Mimpi memiliki arti penting bagi masa depan yang akan kita jalani. Begitu pula dengan mimpi yang membangunkan kita di saat malam atau siang, itu bisa jadi menjadi sebuah pertanda bagi masa depan yang kita jalani. Mari kita berusaha untuk bermimpi yang indah dan baik dengan membangun pikiran yang lebih positif untuk menuju masa depan yang gemilang.

Peresensi: Junaidi Khab (pencinta baca yang tinggal di Surabaya)

Editor: Nur Afilin

 

One comment

Leave a Reply

Scroll To Top