Monday , 16 July 2018
update
Berawal dari Kajian

Berawal dari Kajian

Beberapa saat yang lalu usai mengisi mentoring di salah satu sekolah, seperti biasa aku mengambil motor di parkiran yang kebetulan dekat dengan kantin di paling belakang sekolah. Di kantin itu ada seorang laki-laki yang mungkin salah satu penjual dan sedang menjaga dagangannya. Sebelum naik ke motor, saya sempat berbicara sebentar dengan salah satu kakak kelas yang ikut rohani Islam (Rohis) di sekolah tersebut.

Setelah itu, ia pamit untuk duluan dan saya sendiri menyusul bersiap untuk pulang. Sesaat sebelum pulang, laki-laki pedagang di kantin tersebut kemudian memanggil, dan akhirnya saya berhenti sebentar untuk memakai perlengkapan motor, menuruti panggilan tersebut. Ia mengatakan sesuatu padaku.

“Mba, itu habis ada acara apa ya?” kata pedagang.

“Rohis, Mas.”

“Memang Rohis itu apa?”

Pada saat pertanyaan itu, aku sebentar terdiam berpikir dalam benak dan pikiran,“Ini mungkin orang baru di sekolah atau mungkin non muslim yang  sangat ingin tahu kegiatan Rohis itu seperti apa.” Dengan tegas langsung kujawab.

“Kegiatan keagamaan, Mas,” jawab Dian yang berpikir bahwa ia non muslim.

“Memang apa saja yang diajarkan kegiatan itu?”

Pada saat pertanyaan itu, tidak langsung kujawab karena sempat bertanya dalam hati apa yang sebenarnya ingin ia ketahui. Kulihat dari ekspresinya saat pertanyaan yang itu memang sedikit berbeda, seperti ekspresi menyindir dan tidak suka. Aku masih terdiam menunggu ia selesai berbicara karena kelihatannya masih ada yang mau didiskusikan lagi.

“Diajarkan ajaran agama ya, Mba? Kejiwaan dan berbuat baik sama orang?” tukas pedagang.

“Insya Allah, Mas. Memang ada apa ya?”

“Kalau belajar itu apakah harus tahu saja atau juga harus dipraktikkan dalam kehidupan?”

“Harus dipraktikkan juga. Dari kita yang mengajar juga harus mencontohkan kepada didikan kita, tidak hanya lewat lisan saja.”

“Artinya, diajarkan juga untuk senyum pada orang lain, dan menegur bila bertemu orang lain?”

“Iya, semuanya,” jawabku dengan perasaan tidak enak.

“Bila saya perhatikan, anak-anak Rohis di mana saja seperti itu, ya?”

“Bagaimana maksudnya, Mas?”

“Pada diam-diam, kalau bertemu orang lain juga tidak menegur. Sekali atau dua kali mungkin saya maklumi, karena bisa saja lagi ada masalah atau apapun. Tapi, ini hampir setiap kali, maka dari itu, saya berpikir, apa saja yang diajarkan di Rohis. Memang tidak semuanya, tapi kalau yang lain saja bisa mengapa yang lainnya tidak bisa. Saya sempat berpikir juga, apa teroris seperti ini. Diajarkan juga belajar agama diam-diam lalu tiba-tiba menghilang.”

Setelah mendengar kalimat tersebut, aku merasakan badan langsung merasa lemas dan ingin mengomentari semua pertanyaan dan pernyataan seperti itu. Tapi, karena laki-laki tersebut terlihat lebih tua, aku tidak bisa berbuat banyak. Terhadap yang lebih tua harus dihormati dan dihargai. Ia kembali berargumen yang cukup menyakitkan.

“Apa semua anak Rohis begitu? Lalu untuk apa belajar agama kalau cuma tahu saja, tapi tidak dipraktikkan. Saya melihat, lebih luwes orang yang biasa-biasa saja yang tidak ikut Rohis. Semoga tidak dimasukkan ke hati, saya hanya melihat yang sebenarnya.”

Yang terpikir saat itu sedikit agak rumit dan merasa bersalah. Terlebih kesehatan juga kurang mendukung hingga membuat sedikit malas. Aku harus mengatakan yang sebenarnya, tapi karena saat itu agak emosi, kawatir situasi dan kondisi tidak terkendali. Padahal, tidak semua anak Rohis seperti itu, walaupun diriku sendiri pernah melakukannya. Setiap persepsi dari siapapun itu, bila benar dan tidak ada yang salah, justru persepsi dan kritikan dari orang lain itu lebih benar dari pembelaan diri sendiri.

Apapun yang orang lain katakan, persepsi hanyalah masalah pengalaman masing-masing orang sehingga bisa berbeda-beda, karena begitulah pengalaman yang orang rasakan. Introspeksi diri adalah salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk memperbaiki diri dari kekurangan.

“Tidak apa-apa, Mas. Hal tersebut sangat bagus untuk menjadi saran dan kritikan ke depannya. Di rohis memang diajarkan seperti tadi yang baru dibicarakan. Mungkin mengapa ada begitu karena kita sendiri harus disalahkan. Memang tiap orang ada yang langsung paham sama yang diajarkan, ada juga yang tidak.”

“Iya, jangan dimasukkan dalam hati, Mba. Saya bicara semua ini memang tidak semua. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.”

“Kalau begitu, mungkin dari saya peribadi sebagai pengajar yang kurang benar mengajarkan mereka dan mencontohkan yang baik-baik. Rohis sendiri jelas mengajarkan kebaikan.”

“Saya tahu kalau Rohis itu baik, cuma ada beberapa yang tidak sesuai dengan ajarannya.”

“Lain kali, tegur saya saja bila terdapat kesalahan seperti ini lagi. Saya akan introsperksi diri dan memberikan yang terbaik untuk anak didik. Saya atas nama pribadi mohon maaf dan kalau bisa, jangan disangkut pautkan Rohis sama dengan teroris atau teroris terlahir dari rohis, itu tidak benar.”

“Baiklah, Mba. Saya mengerti, mohon maaf juga bila ada kata-kata yang menyinggung perasaan dan hati.”

“Bagaimana, Mas? Ada yang ingin ditanyakan lagi?”

“Sepertinya tidak ada. Maaf sudah mengganggu waktunya dan merepotkan.”

Setelah percakapan tersebut, aku langsung pamit pulang dan sepanjang perjalanan masih saja memikirkan hal yang tadi sempat dibicarakan. Di sepanjang perjalanan, aku berpikir mungkin ini teguran dari Allah dan membuat untuk malas tersenyum. Peristiwa tersebut sangat baik untuk melakukan perbaikan diri ke depannya dan sangat banyak pelajaran bisa diambil dari percakapan tadi.

Selama ini aku mungkin kurang dipercaya orang walaupun labelnya sebagai anak Rohis atau aktivis dakwah. Mungkin pula karena dari sikap dan perilaku sehari-hari yang disadari ataupun tidak, telah membingungkan orang lain. Walaupun hanya satu atau dua orang, tapi harus diingat juga tabiat manusia yang menggeneralisasi setiap orang dengan mudah.

Sampai di rumah, aku cerita kepada teman-teman juga orang tua. Inilah komitmen yang harus dijalankan setiap muslim. Apakah ia sanggup atau tidak, di sinilah salah satu tempat ujiannya. Semua kerabat dekat dan orang tua memberi semangat dan dukungan agar hal seperti itu tidak dijadikan beban dan jadikan sebagai pengalaman berharga. Karena di setiap langkah manusia, terdapat sesuatu yang tidak diketahui selain Allah.

***

 “Kamu harus sabar. Ingat, Allah tidak menginginkan hamba yang lemah. Dia lebih suka hamba yang kuat,” ujar Ibu.

“Iya, aku paham, tadi sempat sedikit emosi saja. Kalau saja orang tersebut kukenal, mungkin akan dengan mudah ditegurnya.”

“Sudahlah, sekarang kamu istirahat, jangan berpikir yang tidak-tidak terhadap siapapun, termasuk Allah. Kalau ada apa-apa, panggil saja Ibu.”

“Iya, terima kasih ya, Bu.”

Setiap manusia harus berhati-hati dalam berkata, bersikap, berperilaku apapun yang terjadi karena ada banyak pihak di belakang yang akan ikut terbawa meski mereka tidak tahu apa-apa. Pandangan orang lain di luar sana mungkin menganggap Rohis atau aktivis dakwah seperti malaikat yang tidak pernah melakukan salah walaupun mereka sebenernya tahu tidak ada manusia sempurna.

 

Penulis : Reza Arghavin Putra
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top