Monday , 17 December 2018
update
Berikan Pelayanan Terbaik

Berikan Pelayanan Terbaik

Sebuah hadis populer yang sering kita ucapkan dan kita dengarkan berbunyi, “Sebaik-baik manusia ialah yang paling baik akhlaknya, dan paling banyak memberikan manfaat untuk sesama.” Hadis itu singkat, tetapi memuat makna yang sangat mendalam. Betapa bahagianya andai kita termasuk orang yang didefinisikan dalam sabda Rasulullah barusan. Siapa sih yang tidak senang dengan orang yang perilakunya paling bagus sekaligus gemar meringankan urusan sesama?

Ajaran Islam memang begitu indah. Tidak hanya mengurus soal ibadah kepada Tuhan, tetapi juga menata pola pergaulan dengan sesama makhluk Tuhan. Bahkan, di antara hikmah ibadah ialah agar manusia beragama memiliki kelembutan dan kepedulian sikap terhadap selainnya. Shalat, misalnya, dapat memagari manusia dari berbuat buruk. Syahadat, zakat, puasa, apalagi haji, jelas mengandung spirit kemanusiaan yang hebat bagi kedamaian hidup bermasyarakat. Allah menggelari siapa saja yang tekun beribadah tetapi berperilaku busuk terhadap sesama sebagai pendusta-pendusta agama.

Sayangnya, kita sering puas hanya karena sudah merasa khusuk dalam ibadah ritual. Jarang sekali mau meneliti apakah ibadah kita sudah memiliki efek positif terhadap perilaku diri atau belum. Kita mudah lupa bahwa yang kerap memasukkan orang ke surga adalah kemuliaan sikap di luar ibadah ritual. Padahal, terlalu banyak dipaparkan kisah orang-orang yang memiliki pahala ritual segunung, tetapi diabaikan oleh Allah akibat masih menanggung hutang kezaliman yang belum lunas.

Islam memang agama yang sangat membumi. Ajaran Islam juga sangat mengutamakan pelayanan terbaik. Semangat melayani itu tercermin dalam mandat Rasulullah yang berbunyi, “Mudahkanlah, jangan engkau buat susah. Gembirakanlah, jangan engkau bikin kapok.” Jamak diketahui, sebagai duta sekaligus kiblat keberislaman, Rasulullah merupakan sosok pemimpin yang sangat melayani. Beliau itu teladan zaman yang paling lapang dada, paling tepat logat bicara, paling lembut watak, paling ramah pergaulan.

Sebagai pemimpin besar, Rasulullah tidak pernah mencela, apalagi berlaku kasar. Kejahatan dibalas dengan pengampunan. Apabila menghadapi dua perkara, beliau pasti memilih yang paling mudah, selama tidak berpretensi maksiat. Tidak heran, bagi yang melihat Rasulullah sepintas, dia akan takut bercampur hormat. Bagi yang sering bergaul dan mengenal baik beliau, dia akan mencintai tanpa batas. Ketika marah, Rasulullah memalingkan muka. Jika senang, beliau memejamkan mata. Itulah di antara akhlak mulia Rasulullah yang diamini oleh lawan sekaligus lawan.

Bandingkan dengan kebiasaan keseharian kita. Ketika menduduki posisi yang sedikit terpandang, misalnya, segera kita pasang badan. Enggan memudahkan, apalagi melayani urusan sesama. Kalau memegang jabatan yang dibutuhkan orang, semboyan kita ialah “Kalau bisa dibuat susah, kenapa harus dipermudah. Kalau bisa dibikin lambat, kenapa mesti dipercepat.” Sembari begitu, kita sangat menikmati penderitaan sesama yang sudah mengelu-elukan uluran tangan kita. Pusing amat dengan perasaan orang lain, asalkan kepongahan diri dapat terpuaskan.

Enyahnya sikap memberikan pelayanan terbaik model begitu mudah sekali dijumpai dalam kantor-kantor administrasi pemerintahan. Ketika mengurus kepentingan remeh, orang terpaksa menunggu berjam-jam tanpa kepastian. Sudah begitu, pegawai yang diharapkan segera bisa menangani urusan, malah bersantai sambil menikmati rokok dan kopi. Jangankan memberikan informasi memadai dan profesional, ketika ditanya, jawaban yang keluar justru kalimat tidak sopan. Semua kira-kira pernah mengalami kejadikan demikian. Mengurus suatu urusan di kebanyakan kantor pemerintahan, benar-benar menuntut kesabaran ekstra.

Tidak hanya berhenti di kantor administrasi pemerintahan, pelayanan di lembaga pendidikan juga setali tiga uang. Kebanyakan kantor administrasi di lembaga orang-orang pintar itu juga kerapkali gagal memberikan pelayanan terbaik. Jika hendak berurusan dengan pegawai akademik di sebuah sekolah atau kampus, yang harus dipersiapkan lebih dahulu adalah telinga tebal dan muka tembok. Soalnya, pekerjaan berjibun sering membuat pegawai akademik bersikap kurang simpatik. Mudah sekali menyemprot dengan kalimat kasar ketika diminta untuk lebih responsif. Satu-satunya sikap ialah ikhlas dan sabar.

Aneh, kearifan Islam berupa pelayanan terbaik itu lantas dicuri oleh orang bukan Islam. Sering kita jumpai beberapa negeri yang minim penduduk Islam, justru memiliki pelayanan sangat baik. Antre, misalnya, sudah menjadi budaya. Profesionalitas kerja menjadi pemandangan lumrah. Disiplin dan tanggung jawab mereka dalam bertugas malah mengungguli kita yang, katanya, mengerti Al-Qur’an dan hadis.

Ada toko barang kelontong yang laris manis. Pengunjungnya selalu mengular. Padahal, barang yang dijual biasa saja. Tempatnya juga sederhana. Sepintas, tidak ada yang istimewa dibanding toko-toko selainnya, apalagi yang lebih besar. Satu-satunya ciri khas di toko barang-barang keperluan sehari-hari itu ialah sikap penjualnya dalam melayani pelanggan. Senyum ramah disertai sapa akrab telah menarik minat pelanggan sehingga senang datang.

Pelayanan terbaik, itulah resep hebat Islam yang berhasil dibuktikan oleh pemilik toko sederhana itu. Tentu pelanggan tidak merasa perlu untuk tahu bahwa pemilik toko itu ternyata seorang Kristen taat. Sekarang, bagaimana dengan kita yang terus bangga mengaku sebagai umat terbaik, sementara memberikan pelayanan terbaik dengan tulus kepada sesama saja, kita enggan?

M. Husnaini (Penulis buku Dan Allah pun Tertawa)

Leave a Reply

Scroll To Top