Thursday , 23 November 2017
update
Bobroknya Sebuah Akar Keteladanan

Bobroknya Sebuah Akar Keteladanan

Ketika kita berbicara tentang sebuah kata yaitu keteladanan, maka akan terbesit dalam pola pikir kita pada sebuah kata lainnya, yakni contoh. Kalau disangkutpautkan dengan personal, maka akan terjadi sebuah definisi “menjadi contoh bagi lain”.

Mungkin sebagian dari pembaca heran membaca judul tulisan ini. Memangnya akar keteladanan itu ada? Maka, akan saya jawab dengan lantang: Ada. Ia berwujud pada sebuah oknum yang pada tulisan saya berjudul “Toleransi yang Dipertanyakan” sudah saya singgung, guru.

Namun, di sini bukan hanya sekadar guru biasa, melainkan guru agama. Mengapa guru agama? Karena mau tidak mau, agama merupakan sebuah mata pelajaran yang di dalamnya secara jelas disampaikan nilai–nilai religiusitas, karakter, pedoman hidup, akhlak, dan lain-lain.

Dalam konteks ini, saya akan mengambil satu agama saja yang menjadi agama yang saya anut, Islam. Tentu, seorang guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) secara tidak langsung menjadi seorang ustaz ataupun dai. Secara tidak langsung pula, guru PAI berperan sebagai salah satu referensi utama di sebuah sekolah atau institusi pendidikan lainnya dalam hal akhlak dan religiusitas. Tentunya, seorang guru PAI perlu untuk menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW menjadi pedoman hidupnya. Seorang PAI tentu sadar bahwa segala tingkah laku termasuk ketika mengajar adalah dakwah dan menjadi contoh utama.

Tetapi miris,  ketika saya kembali memasuki sebuah SMA X saya mendapati sebuah fenomena yang luar biasa dan mungkin hal yang maklum di negeri ini tapi menyedihkan. Seorang guru PAI yang baru diterima sebagai guru di SMA tersebut kedapatan merokok. Lebih ironis lagi mengingat guru tersebut kini didapuk menjadi pembina Rohis SMA tersebut.

Bahkan, ketika saya tanyakan kepada beberapa pengurus Rohis di sana, mereka pernah melontarkan sebuah pengakuan, “Mas, Pak IK kalau ngisi Batual (program Tahsin) sering sambi ngerokok, Mas”. Luar biasa sekali, batin saya.

Padahal, kita ketahui bersama bahwa merokok itu dalam Islam merupakan perkara yang syubhat antara makruh dan haram. Hingga kini ia masih menjadi pembahasan di kalangan ulama. Tetapi, ketika saya membaca artikel pada sebuah blog yang membahas tentang hukum merokok dalam Islam, di sana disampaikan tentang sebuah hujjah yang mengharamkan merokok. Saya sebagai orang yang anti rokok pun menyepakatinya. Hujjah tersebut, antara lain:

Pertama: Rokok adalah sesuatu yang buruk dan sama sekali bukanlah sesuatu yang baik. Dan agama Islam mengharamkan segala yang buruk. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“…Dan (Rosul) itu menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan segala yang buruk …”. (QS Al-A’raf: 157).

Siapa pun yang berakal dan mau jujur, kalau ditanya apakah rokok termasuk sesuatu yang baik atau tidak, pasti mereka menjawab, “Tidak, bahkan rokok adalah sesuatu yang buruk.”

Buruknya rokok juga  bisa dilihat dari adanya larangan merokok di sana-sini. Kita bisa jumpai di berbagai tempat umum seperti gedung-gedung pertemuan, masjid-masjid, sekolah, hingga rumah sakit. Buruknya rokok juga diketahui dari para perokok yang melarang anaknya untuk merokok. Tidak satu pun dari perokok yang mengajari anak-anaknya agar pandai merokok seperti dirinya. Bahkan keburukan rokok terbukti dengan pernyataan pabrik rokok sendiri yang menyatatakan dalam iklan maupun bungkus rokoknya dengan tulisan “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin” atau “Merokok Membunuhmu”. Lalu, apakah para perokok menutup mata atau pura-pura buta dengan membeli sesuatu yang jelas-jelas disepakati tentang bahayanya?

Kedua: Rokok adalah sesuatu yang membinasakan. Buktinya, salah satu penyebab kematian terbesar di dunia adalah rokok. Maka, orang yang mengkonsumsi rokok sama dengan orang yang meminum racun. Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala melarang manusia membunuh dirinya sendiri:

“…Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (QS Al-Baqarah: 195).

Rokok sangat membahayakan kesehatan badan, merusak pernafasan, jantung, impoten, kanker, dan penyakit lainnya, sebagaimana tertulis di bungkus rokok dan papan reklame. Ayat di atas menjelaskan keharaman rokok dan membantah orang yang memakruhkannya, karena sesuatu yang dihukumi makruh tidaklah akan merusak badan, sedangkan rokok jelas merusak, sekalipun mulut bisa berbohong dengan mengingkari kenyataan ini. Bahkan para dokter dan ahli medis telah sepakat akan bahayanya rokok bagi kesehatan manusia. Telah digelar berbagai seminar kedokteran yang berskala internasional, para dokter mengambil kesimpulan bahwa rokok telah menyebabkan berbagai macam penyakit yang berbahaya.

Ketiga: Allah mengharamkan segala sesuatu yang mudharat (bahaya)nya lebih besar dari manfaatnya seperti arak dan judi, sebagaimana firman-Nya:

”… Dan dosa keduanya (arak dan judi) lebih besar ketimbang manfaatnya… ” (QS Al-Baqarah: 219).

Rokok jelas bahaya dan dosanya lebih besar dari manfaatnya yang belum jelas sehingga termasuk hal yang diharamkan Allah. Sesungguhnya, manfaat rokok hanyalah klaim dan pembelaan dari dari perokok belaka tanpa ditunjang dalil dan bukti.

Dalam kaidah fiqih disebutkan ”Mencegah kerusakan/bahaya lebih didahulukan daripada mengambil manfaat”. Maka, seharusnya kita mendahulukan mencegah diri kita dari bahaya rokok dengan tidak merokok daripada mengambil manfaat menkonsumsi rokok yang hanya isapan jempol belaka.

Keempat: Dalam agama Islam dilarang melakukan perbuatan yang membahayakan diri dan orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah shollollohu ’alaihi wa sallam:

”Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.” (HR Baihaqi dan al-Hakim dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Rokok tidak diragukan membahayakan diri dan orang lain, sehingga termasuk hal yang dilarang. Bahkan asap rokok juga membahayakan para perokok pasif (orang yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok orang lain).

Kelima: Agama Islam melarang kita mengganggu sesama muslim, sebagaimana fiman-Nya :

“Dan sesungguhnya orang-orang yang mengganggu/menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dengan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Bau rokok juga mengganggu orang yang ada di sekitarnya. Anehnya, apabila kita menghadiri sholat Jumat atau shalat berjamaah lainnya, alih-alih memakai wewangian malah adasaja yang mengganggu jamaah lain dengan bau rokok.

(http://awwamisasi.wordpress.com/2009/10/06/hukum-rokok-dalam-islam-adalah-haram/)

Tidak berhenti di situ saja, juga saya dengar dari pengurus Rohis di sana, guru tersebut dan seorang guru baru lainnya pernah menfitnah salah satu alumni Rohis yang mengadakan kegiatan mentoring di SMA itu dengan sebuah pernyataan yang mengarah bahwa alumni tersebut membawa ajaran yang Islam sesat atau berbahaya. Padahal, guru tersebut tidak melakukan upaya tabayyun (meminta penjelasan) dahulu kepada pihak tertuduh. Jadi ingat dengan firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian

dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan

janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka

memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik

kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat

lagi Maha Penyayang” . (QS Al-Hujurat: 12)

Ketika alumni tersebut mengklarifikasi hal tersebut, ternyata guru yang memberi info kepada kedua guru agama ini hanya salah ucap. Kemudian, kedua guru agama tersebut juga tidak menyatakan bersalah dan tidak minta maaf kepada alumni yang telah dizalimi tersebut.

Mungkin ini adalah salah satu gambaran dari sekian banyak guru di negeri ini. Jadi, hanya sebuah mimpi jika kita menginginkan tercipta sebuah pendidikan apabila pendidik yang menjadi akar pendidikan tidak bisa menjadi teladan. Tetapi, kita tidak boleh berputus asa. Mungkin masih banyak pula di sudut–sudut negeri ini sosok–sosok guru PAI yang berkualitas. Kita perlu banyak belajar dari mereka. Semoga kedua oknum guru tadi segera tersadarkan dan memahami kembali sosok identitas diri mereka yang seharusnya.

Mari menjadi orang yang peka terhadap fenomena–fenomena kecil di sekitar kita. Meski kecil, dampak yang dihasilkan bisa sangat besar. Jangan takut mengkritik dan dikritik karena itu adalah bagian dari pembelajaran. Teruntuk guru PAI di Indonesia yang luar biasa.

Febrian Indra Rukmana (Mahasiswa UNS)

Editor: Nur Afilin

 

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top