Thursday , 13 December 2018
update
Boleh Berbeda Asalkan Tetap Bersatu

Boleh Berbeda Asalkan Tetap Bersatu

Adanya perbedaan dalam menentukan awal bulan puasa dan jatuhnya hari raya adalah sudah merupakan hal biasa. Sejak dulu, saya masih kecil, perbedaan itu sudah saya alami. Orang menyebut bahwa, sekelompok dalam menentukan awal bulan menggunakan hisab dan kelompok lainnya menggunakan rukyat. Perbedaan cara menetapkan awal bulan itu kadang menjadikan hasilnya berbeda.

Sebagian orang mengira bahwa perbedaan itu hanya antara warga NU dan warga Muhammadiyah. Padahal sebenarnya tidak selalu begitu. Tidak sedikit pondok pesantren yang juga warga NU menggunakan hisab, dan sebagian lagi menggunakan rukyat. Pondok pesantren yang menggunakan hisab dan yang menggunakan rukyat tidak pernah berselisih, mereka masih bersatu. Para kyai yang beda pandangan itu tidak merasa bermasalah.

Selain itu, ada sementara orang menganggap bahwa, mereka yang menggunakan hisab lebih modern dan pengetahuannya lebih tinggi dibanding yang menggunakan rukyat. Lagi-lagi pendapat itu juga tidak tepat. Mereka yang menggunakan metode rukyat dalam menentukan awal bulan sebenarnya juga telah mampu mengetahui di mana letak bulan pada saat itu. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaan kriteria dalam menentukan awal pergantian bulan itu. Ada yang menggunakan kriteria tertentu dan ada yang tidak. Dengan begitu, perbedaan itu sama sekali tidak terkait dengan tingkat kepintaran atau kecanggihan teknologi yang digunakan oleh masing-masing kelompok yang berbeda.

Adanya perbedaan itu seringkali juga timbul pertanyaan, apakah tidak mungkin hal itu bisa disamakan ? Jawaban idealnya memang begitu, bagus sekali andaikan diperoleh kata sepakat atau titik temu. Akan tetapi, siapapun akan sulit melakukannya. Persoalan yang menyangkut kelompok, keyakinan, dan apalagi terkait kegiatan ritual tidak mudah dipersatukan. Buktinya, sejak dulu perbedaan itu tetap berlangsung. Bahkan dalam sejarahnya, perbedaan semacam itu sudah muncul sejak Rasulullah masih ada. Namun ketika itu, setiap ada perbedaan, Nabi menjadi penengah dan kemudian persoalannya selesai. Posisi sebagai nabi itu sekarang tidak ada, maka sementara cara yang tepat adalah dibiarkan saja berbeda asalkan mereka masih rukun.

Namun, hal yang menggembirakan, manakala diamati secara saksama, perbedaan itu dari waktu ke waktu tampak semakin menipis. Sudah semakin biasa, orang NU shalat di masjid yang dikenal beridentitas Muhammadiyah dan begitu pula sebaliknya, orang Muhammadiyah shalat lima waktu atau shalat jum’at di masjid yang dikenal didirikan oleh orang NU. Kita sudah bisa melihat orang Muhammadiyah duduk bersama-sama orang NU melakukan kegiatan yang sama, yaitu tahlil misalnya. Atau juga, ada saja orang NU yang sama dengan orang Muhammadiyah, yaitu tidak rajin melakukan kegiatan tahlil, istighosah, dan semacamnya. Perbedaan itu kiranya, ke depan, akan semakin berkurang.

Hal yang terkait dengan kegiatan ritual rupanya memang berpotensi untuk berbeda-beda dan tidak mudah disatukan. Perbedaan seperti itu tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga di mana-mana. Untuk menyatukannya tidak mudah oleh karena kegiatan ritual tidak bisa diferifikasi, mana yang diterima atau mana yang ditolak. Bahwa satu cara diterima, sementara yang lain ditolak tidak pernah ada buktinya. Diterima atau ditolak sebuah kegiatan ritual bukan tergantung orang, organisasi, partai atau lainya, tetapi tergantung pada pemilik otoritas, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Atas sifat kasih sayang-Nya, semua amal baik, apapun bentuknya, semoga diterima oleh-Nya.

Oleh karena itu, silakan saja berbeda, sebagaimana perbedaan itu juga terjadi di kalangan para kyai pesantren. Di antara mereka itu ada yang menentukan awal bulan dengan hisab dan ada pula yang menggunakan rukyat. Antar kyai pesantren yang berbeda tidak merasa ada masalah yang perlu diributkan. Kyai lewat kitab-kitabnya juga mengajarkan kepada santrinya semua cara dalam menentukan awal bulan, yaitu cara hisab dan juga rukyat. Kyai yang menggunakan hisab tidak pernah membuang kitab yang membahas tentang rukyat, dan begitu pula sebaliknya.

Ke depan yang perlu diajawab oleh semuanya adalah bagaimana agar umat Islam menjadi kaya ilmu, menjadi manusia unggul, mampu mewujudkan keadilan, selalu berusaha mendekatkan diri pada Allah lewat kegiatan ritualnya, dan selalu meningkatkan kualitas amal shalehnya. Untuk mewujudkan itu semua, umat Islam harus bersatu, saling bahu membahu, saling menghormati dan menghargai, selalu menjalin kasih sayang, memperkukuh silaturrahmi, sehingga terwujud masyarakat ideal, yaitu adil, makmur, damai, dan sejahtera. Wallahu a’lam.

Prof. Imam Suprayogo (Mantan Rektor UIN Maliki, Malang)

Leave a Reply

Scroll To Top