Thursday , 20 September 2018
update
Bukan Calo, Bukan Joki

Bukan Calo, Bukan Joki

Pernahkah diantara kita bertemu calo atau joki? Barangkali untuk sebagian orang bisa dikatakan sering. Biasanya para calo bisa ditemukan sewaktu acara konser musik atau pertandingan olahraga berkelas serta di terminal bis atau kereta api dimana untuk mendapatkan tiketnya cukup sulit. Joki? Lah, yang beginian jenis profesi apalagi tuh?  Istilah joki mungkin sering dikenal dalam arena balapan atau pacuan kuda. Lantas, apakah hanya itu? Tidak. Ternyata, dalam ujian seperti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) atau seleksi CPNS, praktik joki ternyata juga ada. Lho? Kok bisa? Yaa.. begitu lah realitanya.

Apa uniknya calo? Mereka hanya menawarkan barang atau jasa, tetapi belum tentu ikut menikmati apa yang ditawarkan. Misal, ketika seorang calo  menawarkan tiket konser Justin Beiber (lho mengapa harus JB yang jadi contoh? Ah, tak apalah), apakah ia juga ikut menonton? Belum tentu. Lalu, bagaimana pula dengan joki? Prinsipnya hampir sama.  Seorang joki memainkan tugas yang akan menghadirkan hasil untuk orang lain. Begitu hasil tercapai, maka Sang Joki bukanlah penikmat hasil. Jadi, baik calo maupun joki sama-sama tidak menikmati esensi dari usahanya. Kalau ada yang bertanya; lah kan calo dapat untung berlipat dari hasil penjualannya? Eitss… fokus kita bukan pada hal itu, tapi persoalan apa ditawarkannya, ia sendiri tak menerapkan. Gitu!

Jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, tanpa sadar sebenarnya kita pun sering melakukan praktik percaloan. Buktinya, adakah kita menawarkan orang lain tentang sesuatu, tapi kita tak melalukannya? Barangkali sering. Allah SWT berfirman dalam Surat Ash-Shaf ayat 2-3:

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sangat besar kemurkaan Allah pada orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan” . 

Lantas, kalau begini kondisinya akan banyak yang berdalih tak layak untuk menyeru kebenaran. Alasannya, apalagi kalau bukan merasa belum layak untuk menyampaikan/menasihati karena diri sendiri juga belum sepenuhnya baik.

Bukankah jika kita memiliki satu pengetahuan, lalu hanya menyembunyikannya, maka yang demikian itu juga tidak baik? Karena dikatakan “sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”  (Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari, Tarmidzi)Jadi? Serba salah dong, disampaikan tapi tidak melakukan salah, tahu tapi lebih memilih diam juga salah. Ya disinilah dituntut keserasian antara ucapan dan perilaku. Bukti konkrit itu sangat penting. Dalam psikologi, dijelaskan oleh Bandura dalam teori social cognitif  –> observational learning, yakni seseorang akan belajar dengan memperhatikan. Apa yang bisa diperhatikan? Perilaku.

Sekarang mari kita tempuh jalan tengah yang semoga saja menjadi solusi bijak. Sampaikanlah kebenaran yang kita ketahui, sembari  terus berusaha agar pribadi kita juga mampu menerapkannya sebaik mungkin. Jangan sampai karena alasan diri yang belum sempurna, lantas membiarkan lingkungan tak mendapatkan kebaikan yang sebenarnya kita tahu. Mau menunggu kesempurnaan dulu? Sampai kapan? Bagi sebagian orang yang salah dalam menafsirkan, maka kekurangan yang ada pada dirinya akan dijadikan alat untuk berdalih. Katanya belum pantas, tapi tetap anteng dengan kekurangan tersebut. Akhirnya, jangankan memperbaiki kondisi sosial, ranah individu pun tak sempat diperbaharui.

Kemudian, istilah joki bagaimana? Mungkin tidak terlalu ramai dalam pengaplikasiannya. Pernah dengar candaan seperti ini? “Mau shalat ya, saya nitip aja ya…hehehe”. Lah, masihkah perlu dijelaskan lagi bahwa shalat itu amalan pribadi? Ups, tadi kan hanya bercanda? Okelah. Meskipun hanya sebuah candaan , tapi mari kita pahami lagi. Ibadah yang sifatnya pribadi ya penerapannya pun mesti masing-masing. Tak bisa menggunakan jasa joki seperti apapun. Lain halnya jika amalan kifayah dimana jika sudah ada yang mewakil, maka lunasnya hutang yang lain.

Jadi, duhai sahabatku yang budiman yang telah menyempatkan waktunya untuk membaca notes singkat ini, marilah kita bersama-sama saling berbenah diri. Semoga secuil pesan mampu menyelipkan hikmah.

Wallahu a’lamu bisshawwab.

 

Leave a Reply

Scroll To Top