Saturday , 24 June 2017
update
Cermin Cinta dan Persaudaraan

Cermin Cinta dan Persaudaraan

“Saudara seiman itu adalah dirimu
Hanya saja dia itu orang lain
Sebab kalian saling percaya
Maka kalian adalah satu jiwa
Hanya saja kini hinggap di jasad yang berbeda

(-Al Kindi-)

 

Sejatinya tiap kita yang beriman adalah saudara, tiap kita adalah sesama yang saling merasa dan mencinta. Jiwa-jiwa yang butuh pencerahan melalui tiap binar cahaya yang terpaut dari sesimpul senyum dan sedalam tatapan saudaranya.

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)

Iman. Iya, iman. Allah Swt memanggil jiwa-jiwa yang ingin merasakan manisnya persaudaraan yang dilandasi karena cinta-Nya, mesti dimulai dari sebentuk yakin dalam hati, seucap cinta yang terikrar, dan seluruh tubuh melakukan. Maka mencintai saudara, perlulah pelurusan niat yang kuat agar kemudian Allah Swt membentangkan tali-tali persaudaraan yang nantinya iman menautkan, mengeratkan, dan saling menguatkan.

Lalu tengoklah kembali tentang firman persaudaraan, “…Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu..”

“Ini adalah makna yang sesungguhnya”, begitu para ulama berpendapat. Tercerahkanlah kita, PASTI akan terjadi perselisihan diantara orang-orang yang beriman kepada Allah Swt dan hari akhir, kemudian lanjutannyalah yang menjadi penawar perselisihan, “…..dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Jikalah saat ini kita menyadari bahwa akan terjadi perselisihan di antara Mukmin dan penawarnya adalah takwa, maka ingatlah pula sabda Rasulullaah Saw, “Mukmin yang satu adalah cerminan bagi mukmin yang lainnya.”

Betul, mukmin yang satu adalah cerminan bagi mukmin yang lainnya. Sebagaimana kita tahu sewaktu kecil, cermin adalah yang memantulkan bayang-bayang kita dengan menampakkan apa yang ada pada diri kita. Kotornya badan, rambut yang tak beraturan, baju yang tak rapi, atau bahkan muka yang masam.

Maka sungguh, di saat kita bercermin dan menemukan sesuatu yang kotor pada wajah kita, bukanlah cermin yang kita bersihkan, terlebih sampai mencaci cermin atau bahkan dipecah, sungguh bukan itu. Tapi bersihkanlah wajah kita dengan lembut, sisir rambutnya, rapikan bajunya, semprot dengan pengharum.

Begitupun persaudaraan. Jika ada perselisihan dan hadir perlakuan yang tak menyenangkan, tahan diri untuk tak suka kepadanya. Bersabarlah untuk tak berkeluh atas sikap buruknya. Tetapi, hal pertama yang semestinya dilakukan ketika ada kerenggangan antara kita dan persaudaraan adalah menyadari bahwa setiap mukmin adalah cermin bagi saudara yang lainnya.

Itu berarti, hadirnya suasana-suasana tak mengenakkan pastilah tumbuh dari hati dan sikap kita, terlebih iman yang tak kunjung memuncak, terus berada dalam jurang ke-futhuran. Maka, bercerminlah! Bercerminlah pada saudara seiman, agar cela yang terlihat menyadarkan kita, bahwa kitalah yang tengah ‘kotor’, bukan bayang-bayang kita yang muncul pada cermin. Hingga tak ada lagi peristiwa buruk rupa, cermin dibelah. Kita yang salah, saudara seiman yang dicaci.

Ah, sungguh, bermuhasabah itu nikmat, memohon ampun atas dosa dan khilaf kita kepada-Nya selalu melahirkan ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Maka, mari bersaudara dengan terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya, berusahalah untuk terus mencintai karena-Nya, hingga kelak Allah Swt menempatkan kita pada sebaik-baik tempat di jannah-Nya.

 

 

Penulis : Muhammad Majid Badaruddin, Fb: Majid Muhammad, Tw: @majid_badar
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top