Thursday , 13 December 2018
update
Cukup Satu Saja!

Cukup Satu Saja!

Demikian hal ini saya ucapkan untuk mengantar harapan besar pada sosok pemimpin negarawan. Sosok yang diharapkan mampu memiliki fungsi kepemimpinan dalam upaya mencapai tujuan bernegara secara utuh. Sebagai rakyat, boleh kita menuntut kejujuran, keadilan, komitmen, integritas, atau pun hal-hal positif lain. Namun, banyaknya tuntutan ini akan dengan mudah dilupakan oleh yang memiliki kekuasaan legitimasi sebagai pemimpin negarawan.

Untuk itu, kalau boleh, satu hal saja yang akan saya minta: pikiran pemimpin negarawan. Keputusan pemimpin negarawan menjadi hal yang sangat strategis dalam menciptakan kesejahteraan ataupun kehancuran. Bermula dari hal ini, maka landasan dalam membuat keputusan perlu dijadikan fokus utama untuk dikawal.

Sebagai manusia pemimpin negarawan juga memiliki prosedur perilaku yang sama dengan kita. Melalui proses berpikir dalam kognisi dengan mengasosiasikan berbagai pengalaman dan hasil pembelajaran akan menghasilkan suatu pemikiran yang kemudian dapat dirasakan melalui afeksi. Ketika proses berpikir dan merasa sudah mendapat kesatuan untuk bertindak, maka dorongan kuat akan dimunculkan oleh konasi dalam bentuk motivasi hingga pada akhirnya terciptalah suatu perilaku tampak. Seperti inilah sederhananya ilmu psikologi bicara mengenai proses perilaku manusia.

Dari hal tersebut, tidakkah kita sadari pengambilan keputusan sangat dikontrol oleh pengalaman dan pembelajaran yang akan menjadi bahan utama dalam membuat keputusan? Bayangkan! Jika lingkungan pemimpin negarawan menuntutnya untuk mengambil keuntungan berupa uang dari kepemimpinannya, maka uang pula yang akan menjadi fokus pikirannya. Selanjutnya, sudah dapat ditebak, korupsi, permainan bawah meja, atau hal lain yang dapat memberikan uang adalah pemikiran terbaik untuk kemudian diwujudkan dalam kebijakan. Mengerikan, bukan?

Sayangnya, hal mengerikan ini sudah menjadi rahasia umum di negara kita tercinta. Untuk menjadi seorang pemimpin di tingkat kabupaten, calon Bupati harus menghabiskan ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. Lantas bagaimana jika kekuasaan legitimasi yang diharapkan memiliki tingkat lebih tinggi? Tak perlu logika berat untuk menjawabnya.

Ini baru masalah uang. Belum lagi dengan kepentingan-kepentingan pihak lain yang hendak menunggangi. Jika “penunggang” ini terus menjadi fokus pikiran, maka kebijakan akan diarahkan pula pada kepentingan tersebut. Hal ini akan menjadi pengalaman yang disimpan dalam memori dan akan menjadi bahan baku dalam membuat kebijakan.

Berlandaskan logika dan pengetahuan sederhana inilah wajar kiranya saya meminta satu hal saja dari pemimpin negarawan, yakni pikirannya. Pikiran pemimpin negarawan hanya untuk rakyatnya. Biarkan rakyat yang menjadi pengalaman dan pembelajaran sebagai bahan baku berpikir dalam memproses keputusan. Sehingga rakyatlah yang akan dipikirkan untuk mendapat kesejahteraan, rakyatlah yang akan dipikirkan untuk mendapat keadilan dan rakyatlah yang akan mengantarkan pemimipin negarawan mencapai kesempurnaan hakikatnya.

Sekali lagi, kejujuran, keadilan, komitmen, integritas, kepedulian, tak akan kumintakan lagi dari sosok pemimpin negarawan. Saya yakin mereka hanya akan membuat janji-janji diplomatis untuk memenuhi banyaknya kriteria-kriteria yang  saya harapkan. Maka, saya hanya meminta satu, yakni pikiran mereka untuk rakyat. Lakukan permintaan sederhana itu secara berkelanjutan, niscaya kejujuran, integritas, komitmen, kepedulian akan terwujud tanpa harus berat menanggung janji-janji yang dibuat hanya untuk melegakan hati.

Kontributor: Hasan Fahrur Rozi (Ketua Bidang Kajian Strategis PK KAMMI Sholahuddin Al Ayyubi UNS 2014)

Editor : Nur Afilin

 

Leave a Reply

Scroll To Top