Saturday , 18 November 2017
update
Dahlan-Asy’ari

Dahlan-Asy’ari

“Umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama, harus siap bertempur melawan Belanda dan sekutunya yang berusaha menguasai Indonesia kembali” (K.H. Hasyim Asy’ari)”

Tak lama lagi perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-69 datang. Ada baiknya kita melakukan refleksi kembali tentang makna perjuangan bagi umat dan bangsa. Mungkin salah satu caranya ialah menelaah perjalanan para kusuma bangsa yang sudah mendahului kita.

Bicara tentang perjuangan, saya teringat pernyataan penulis dan sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara. Katanya, para ulama sejak dahulu telah menyumbang kontribusi signifikan dalam sejarah bangsa Indonesia. Maka, barangkali dua di antara sekian ulama yang layak kita ketahui lebih lanjut ialah K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari. Bagaimana tidak, karya nyata keduanya hingga kini masih berdiri dengan kokohnya: Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Siapa yang bisa menafikan peran besar dua ormas Islam terbesar di Indonesia itu?

Mungkin sudah banyak buku, diskusi, dan penelitian yang membedah sejarah dan sepak terjang keduanya. Namun demikian, sepanjang pengetahuan saya, belum banyak (atau minimal belum familiar) kajian yang mengetengahkan persamaan atau titik temu di antara K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari. Bisa jadi ruang kosong inilah yang mendorong Susatyo Budi Wibowo menelurkan karya berjudul Dahlan Asy’ari: Kisah Perjalanan Wisata Hati. Buku yang diterbitkan Diva Press pada Maret 2011 ini secara umum terlihat bertujuan menggiring pembacanya untuk tidak fanatik buta kepada salah satu tokoh dan/ atau ormas yang didirikannya. Sebaliknya, Susatyo seakan hendak berpesan kepada kita untuk bisa saling menghargai satu sama lain.

Apa saja isi buku setebal 268 halaman ini? Sesuai visinya, Susatyo sedari awal membuka kajian dalam buku ini dengan menjabarkan ihwal pertalian darah serta persamaan guru dan ilmu antara K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari. Pada Bab 1 dengan tajuk “Syekh Maulana Malik Ibrahim”, penulis mengajak kita menyimak kisah perjalanan Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik. Ternyata jika ditelusuri lebih lanjut kedua ulama ternama itu adalah keturunan Syekh Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri) yang merupakan cucu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Oleh karenanya, Bab 1 dijadikan penulis tempat untuk mengisahkan sekilas perjalanan kakek-cucu yang merupakan anggota Wali Songo itu. Penjabaran hikayat keduanya (terutama Sunan Gresik), menurut penulis, ialah lantaran mereka merupakan ulama yang menjadi tokoh sentral periode awal penyebaran Islam di Pulau Jawa. Terlebih Sunan Gresik kerap disebut sebagai wali tertua dan sesepuh Wali Songo saat itu.

Masuk ke Bab 2 “Titisan Darah Sunan Giri”, riwayat singkat masa kecil dua kiai pengandang gelar pahlawan nasional itu dikupas oleh penulis. Hal paling menarik, menurut saya, adalah penjelasan pada subbab “Saudara Seperguruan”. Disebutkan di sana bahwa Kiai Dahlan dan Kiai Asy’ari adalah sahabat akrab saat sama-sama menggali ilmu di pondok pesantren pimpinan K.H. Saleh Darat di Semarang. Saking akrabnya Kiai Asy’ari muda kala itu biasa memanggil Kiai Dahlan muda dengan sebutan “Mas”. Sebaliknya, Kiai Dahlan sering menggunakan kata “Adi” untuk menyapa Kiai Asy’ari. Ketika memasuki pesantren itu, usia Kiai Asy’ari 14 tahun dan Kiai Dahlan 16 tahun. Keduanya tergolong santri yang cerdas saat itu (hal. 82).

Adapun Bab 3 yang menggunakan tajuk “Membangun Masyarakat” digunakan Susatyo untuk membahas kiprah awal dakwah Kiai Dahlan di Yogyakarta dan Kiai Asy’ari di Jombang. Narasi gerak dakwah keduanya disampaikan terpisah dalam subbab tersendiri. Kisah seputar “pelurusan” arah kiblat dan dibakarnya surau Kiai Dahlan disampaikan dengan narasi yang runut. Demikian juga cerita permulaan Kiai Asy’ari mendirikan pondok pesantren di Desa Tebuireng, Kec. Diwek, Jombang. Selain fenomena maraknya ragam kemaksiatan di wilayah Tebuireng kala itu, kisah dakwah bil hikmah Kiai Asy’ari kepada Marto Lemu juga menjadi poin menarik untuk digarisbawahi. Marto Lemu adalah salah satu dedengkot pelaku maksiat yang memiliki banyak pengikut. Tak ayal jumlah santri yang dididik Kiai Asy’ari pun bertambah setelah tobatnya Marto Lemu.

Bahasan utama tentang kontribusi duo Kiai ini ada pada Bab 4 “Demi Kepentingan Umat”. Sejarah pendirian Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, Pandu Hizbul Wathan (HW), PKU, dan aneka aksi Kiai Dahlan demi mewujudkan citanya bagi umat dan bangsa secara apik tersaji di sini. Pada gilirannya, warisan Kiai Dahlan itu menyumbang peran di hampir seluruh sendi kehidupan bangsa Indonesia hingga kini. Tak cuma itu, penulis Susatyo juga mengabarkan kepada pembaca episode akhir hayat Kiai asal Kauman, Yogyakarta itu. Salah satu bagian yang kiranya patut diperhatikan ialah dua pesan terakhir Kiai Dahlan saat memberi sambutan pada rapat tahunan Pengurus Pusat Muhammadiyah (hal. 182), yaitu:

  1. Hidupi-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari kehidupan dari Muhammadiyah.
  2. Tidak mungkin Islam lenyap dari seluruh dunia, tetapi tidak mustahil Islam terhapus dari bumi Indonesia. Siapa yang harus bertanggung jawab?

Adapun bagian Kiai Asy’ari tak kalah heroik pula. Justru kita mesti banyak berterima kasih kepada beliau akan nikmat kemerdekaan Indonesia ini. Alih-alih berkutat pada urusan keilmuan di pondok pesantren, Kiai Asy’ari malah mencetuskan fatwa yang kemudian dikenal sebagai “Resolusi Jihad”. Tak heran jika rakyat dan santri lantas bersatu menghalau kedatangan Belanda yang membonceng Sekutu ketika memasuki bumi Surabaya pada 10 November 1945. Momen wafatnya Sang Kiai pun pantas untuk kita gali maknanya. Ya, beliau dijemput malaikat beberapa saat setelah menerima tamu utusan Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Allahu akbar.

Terakhir, penulis mengajak kita memaknai perjalanan kedua maestro dakwah Nusantara itu pada Bab 5 “Penutup”. Spirit ayat 49 Surat Al-Qamar digunakan Susatyo sebagai dasar analisis pamungkas. “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran,” begitu bunyi arti firman Allah tersebut. Usai mengetahui seluk-beluk sejarah emas yang ditorehkan K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari, kini saatnya kita mewarisi teladan hidup, pengabdian, dan perjuangan keduanya. Bukan malah sebaliknya, saling mencerca satu sama lain dan merasa selalu paling benar. Sebagaimana pendiri Muhammadiyah dan NU itu bekerja sama, bersahabat, dan saling hormat, maka demikian pula seharusnya para anggota dua organisasi tersebut di akar rumput. Muhammadiyah dan NU bukan untuk dipertentangkan dan dasar permusuhan. Keduanya berfungsi komplementer antar sesama elemen umat dan bangsa. Begitu kurang lebih pesan penulis.

Pesan tersebut dikuatkan oleh Guru Besar IAIN Surakarta Usman Abu Bakar melalui bagian “Pengantar” buku ini. Ia menilai urgensi buku Susatyo salah satunya ialah bisa memberikan kita pemahaman akan kebesaran beliau berdua sebagai tokoh Islam abad ke-20 yang telah mampu menjaga eksistensi umat Islam di Indonesia sehingga menjadi umat yang terbesar di dunia. Dengan demikian, ragam perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah (cabang) hendaknya diyakini sebagai kekayaan khazanah keilmuan Islam, bukan pemecah belah umat.

Namun demikian, tak ada gading yang tak retak. Dalam pandangan saya, buku Susatyo akan lebih kuat kedudukannya manakala ada pencantuman sumber terpercaya secara langsung pada bagian penting bahasan buku ini. Beberapa tempat saya melihat poin ini seperti luput dari perhatian. Akan tetapi, beberapa referensi yang dicantumkan pada “Daftar Pustaka” mungkin bisa jadi alamat pertama kita jika ingin menelusuri kesahihan tiap pembahasan yang ada. Akhir kata, selamat membaca. (Nur Afilin)

Pancoran, 13 Agustus 2014

Photo-0016

 

 

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top