Thursday , 20 September 2018
update
Datang untuk Menang

Datang untuk Menang

Usai shalat Isya dalam suasana sejuk segar udara Lembang, saya duduk membaca Al-Quran di dalam masjid. Kemudian, seorang anak datang menghampiri dan berkata, “Kang Hanafie, ‘afwan ganggu, Akang ada waktu nggak buat sharing?”

Thayyib, Insya Allah ada,” jawab saya.

“Begini Kang, kami merasa masih kurang belajar di sini. Kami ingin sharing sama Akang minimal satu minggu sekali. Akang bersedia, kan?” tanyanya.

Rasanya senang sekali mendengar kemauan anak itu. Kemudian saya menjawabnya seraya menyarangkan tangan di pundaknya sebagai tanda bersahabat, “Thayib insyaa Allah, bersedia.”

Lima menit berselang datang kawan-kawan dari si anak tadi ikut bergabung dalam obrolan. Jadilah kami satu kumpulan yang berjumlah lima orang.

Di sela-sela, percakapan seorang anak berkata, “Kang, kalau saya mau dengar bahasan materi yang bernuansa militer. Soalnya saya suka sama HAMAS.”

Saya kemudian memutar memori. Apa kira kira topik yang tepat untuk memberikan semangat kepada mereka. Tentu saja, agar perkumpulan itu kemudian tidak menjadi pertemuan yang pertama dan terakhir.

Mulanya saya memuji kemauan mereka. Lalu, saya memberikan support kepada mereka. Saya katakan kepada mereka, “Ini sebuah inisiatif yang sangat bagus, membentuk suatu kumpulan dan mengkaji hal-hal positif. Kenapa demikian? Karena HAMAS terlahir dari kumpulan-kumpulan kecil seperti ini.”

Seorang anak menyahut, “Emang benar, Kang? Gimana caranya HAMAS terlahir dari kumpulan kecil seperti ini?”

Saya memberi mereka sebuah pertanyaan, “Antum sudah mengetahui siapa pendiri HAMAS?”

Semua serempak menjawab, “Syaikh Ahmad Yasin!”

Nah, kalian sudah tahu Syaikh Ahmad Yasin. Siapa sebenarnya Syaikh Ahmad Yasin dan bagaimana beliau mendirikan HAMAS?”

Mereka bengong. Mereka tidak tahu bagaimana perjalanan beliau menjadikan HAMAS sebagai jama’ah yang memiliki kekuatan ruhani dan jasmani. Bahkan, kini HAMAS telah menjadi super hero untuk umat Islam lantaran mereka sudah berhasil melucuti kekuatan Zionis sang penjajah.

Saya kemudian bercerita di hadapan mereka tentang sosok Syaikh Ahmad Yasin.

“Syaikh Ahmad Yasin memang lumpuh, tapi kukuh. Dia ringkih tapi gigih. Pada usia 20 tahun, beliau sudah menjadi orator ulung yang mampu membakar semangat jihad pemuda Palestina. Dia memang syahid. Darahnya bersimbah di Gaza sana, namun percikan darahnya menyuburkan semangat jihad di bumi para anbiya.” Dan bla…bla…bla, terus saja saya ceritakan tentang riwayat Syaikh Ahmad Yasin sepengetahuan saya.

Cerita Syaikh Ahmad Yasin memang sangat menggugah. Anak-anak antusias mendengarkannya. Saya membuka diri agar mereka bertanya satu atau dua hal. Berbagai pertanyaan muncul. Salah satu pertanyaan yang menarik dan tidak bisa saya jawab adalah, “Kang Hanafie, AK47 beratnya berapa kilogram?”

Saya cuma tersenyum dan menjawab pertanyaan anak SMP yang polos itu, “Jujur saya tidak tahu berapa. Silakan tanya Mbah Google, pasti ada spesifikasinya.”

Tak terasa, jam di HP sudah menunjukan pukul 20:45. Saya rasa pertemuannya sudah cukup dan sharinga bisa dilanjutkan lain hari. Namun, lima orang anak itu minta dilanjutkan.

“Cerita perangnya belum, Kang..!”seru salah satu di antara mereka.

Kembali saya memutar pikiran. Karena mereka mau cerita berbau perang, saya kemudian bercerita tentang “Kuda Perang, Yang Berlari Kencang”.

Saya bertanya kepada mereka, “Ada yang tahu ayat yang menceritakan tentang kuda perang?”

Seorang dari mereka menjawab, “Al-‘Adiyat.”

“Tepat, antum benar. Allah bersumpah dengan kuda perang. Wal-adhiyaat.”

Saya katakan kepada mereka, “Jenis kuda ada banyak macamnya. Ada kuda yang dipakai delman, lajunya lambat dan harga jualnya tidak semahal kuda perang. Dan banyak kuda-kuda yang lain selain kuda perang. Dari sini coba kita mencari tahu, apa kiranya hikmah Allah bersumpah dengan kuda perang?”

Karena kuat. Karena mahal. Itu sebagian dari jawaban mereka.

“Kita lihat bagaimana jawaban Al-Quran,” lanjut saya.

“Dalam Al-Quran, disebutkan Allah bersumpah dengan kuda perang. Pertanyaannya, apakah berhenti pada kuda perang saja sumpah Allah itu? Ternyata tidak. Allah bersumpah dengan kuda perang yang larinya kencang. Kuda perang yang memercikan api pada telapak kakinya. Kuda perang yang menyerang tiba-tiba pada waktu pagi. Kuda perang yang menerbangkan debu. Juga kuda perang yang menyerbu ke tengah-tengah musuh.”

“Lihat! Apa alasan Allah melakukan sumpah pada kuda perang? Allah melakukan sumpah pada kuda perang yang datang untuk menang. Dan pesan saya, antum harus datang untuk menang seperti kuda perang yang Allah bersumpah atasnya. Bagaimana caranya supaya kita hadir menjadi pemenang? Lihatlah, bagaimana kuda perang yang Allah SWT bersumpah atasnya!”

“Dia berlari kencang. Jika antum ingin tampil menjadi pemenang, maka syarat yang pertama adalah harus mampu berlari kencang. Berlari kencang bukan berarti 100 km/jam, akan tetapi cepat dan tepat dalam bertindaka. Kalau ada tugas, segera diselesaikan, dan sebagainya.”

“Kedua, jika ingin hadir menjadi pemenang, maka antum harus seperti kuda perang yang memercikan bunga api pada kakinya. Hal ini menunjukan adanya kekuatan. Kuda andong atau delman yang menarik muatan ke pasar hempasan kakinya tidak sampai mengeluarkan percikan api, karena hempasan kakinya lemah. Ini berarti, kuda yang memercikan api memiliki kekuatan yang hebat. Dan orang yang hadir untuk menang bukan orang yang lemah.”

“Ketiga, Allah bersumpah atas kuda perang yang menyerang tiba-tiba. Ini menunjukan adanya strategi berperang. Yang memiliki stategi bukan kuda tapi pemacunya. Berarti, jika ingin tampil menjadi pemenang, antum harus punya strategi. Karena antum di sini sedang belajar, maka strateginya adalah strategi belajar yang efektif.”

“Kapan kuda perang itu melancarkan serangan? Dikatakan dalam ayat tersebut: di waktu pagi. Berarti orang yang ingin tampil menjadi pemenang harus bangun lebih awal. Antum di sini tidak cukup hanya belajar, tapi juga harus bangun sebelum orang lain terbangun dan melakukan shalat Tahajud.

“Terakhir, kuda perang yang menerbangkan debu dan menyerbu ke tengah musuh. Lihatlah kuda perang itu datang untuk menang, bukan untuk menjadi pecundang. Allah tidak bersumpah pada kuda perang yang lari tunggang langgang, tapi Allah bersumpah pada kuda perang yang siap hidup dan mati. Merasuk dan menerobos ke tengah kumpulan musuh. Maka, orang yang datang untuk menang hanya memilih dua jalan: hidup mulia atau mati khusnul khatimah.

Salah satu anak protes, “Hidup mulia atau mati sebagai syuhada!”

Saya hanya tersenyum.

Waktu sudah larut, anak-anak masih minta cerita. Namun, waktu sudah amat larut. Jam menunjukan pukul 23:30, waktunya tidur. Kami kemudian sepakat minggu depan atau kapan waktu akan sharing lagi. Harapan saya, semoga Allah mempertemukan saya kembali dengan mereka.

Kontributor : Hanafi Attazikie (FLP Jakarta Angkatan 17)

Editor : Nur Afilin

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top