Thursday , 20 September 2018
update
Dia Se Ra (1)

Dia Se Ra (1)

Nena Fauzia (Juara 1 Lomba Cerpen Indigenus Universitas Jenderal Soedirman)

Semburat sinar matahari senja itu, menggodaku untuk menatapinya dari balik jendela rumah. Daun pohon ketapang kemerahan berguguran di depan rumahku—mengingatkanku pada musim gugur di negeri ginseng. Kim Se Ra, sosok perempuan Korea yang akan selalu kukenang, tokoh utama dalam kisahku selama berjuang menjadi muslimah perantau di negeri penyebar hallyu.

***

Lima tahun yang lalu…
Aku tak pernah bermimpi untuk menginjakkan kaki di Korea, sebuah negeri oriental yang saat ini memiliki pengaruh budaya yang sangat kuat pada remaja di kawasan Asia. Namun Allah menghendakiku untuk menjalani satu babak penting di sana, dengan menakdirkanku menerima beasiswa program master (S2) dalam bidang ilmu holtikultura lingkungan untuk periode musim semi.

Universitas memfasilitasi kami. Aku tinggal di lantai 3 sebuah dorm. Banyak teman dari berbagai negara, namun sepertinya hanya aku yang terlihat menonjol. Aku adalah muslimah, berjilbab, lebar. Seiring dengan citra buruk Islam yang menyebar ke seluruh dunia, wajar bila aku sedikit khawatir untuk menelusup hidup di antara orang-orang liberal itu. Dan memang, banyak mahasiswa Korea asli yang terkesan menghindariku.

Mungkin karena itulah, seorang mahasiswi Korea asli yang menjadi anggota klub jurnalistik kampus suatu hari datang menghampiriku. Secara fisik ia sungguh cantik. Sekejap, saat aku memandanginya ketika berjalan mendekatiku, aku membayangkan tubuhnya terbalut gamis dan kepala hingga dadanya tertutup jilbab. Subhanallah, cantik luar biasa. Namun sapaan lembut khas Korea-nya segera membuyarkan lamunanku yang tampak mustahil itu.

“Jeoneun Kim Se Ra imnida. Saya dari klub jurnalistik kampus yang bernama Campus in News,” katanya memperkenalkan diri, menggunakan bahasa campuran Korea-Inggris. Kemudian ia menjelaskan bahwa untuk buletin edisi bulan ini, mereka tertarik untuk membahas tentang mahasiswa penerima beasiswa internasional yang beragama Islam. Ialah yang diberi tugas untuk mewawancaraiku.

Saat kupikir ini adalah kesempatan untuk bisa sedikit mengenalkan indahnya Islam pada orang Korea, maka aku pun menyetujui tawarannya.

***

Wawancara pertama pun dilaksanakan keesokan harinya. Seperti dugaanku, pertanyaan pertama Se Ra adalah tentang alasanku memeluk Islam. Saat itu aku diam sejenak.

“Karena Islam adalah agama yang benar,” akhirnya kupilih jawaban itu. Dan memang itu jawaban yang paling tepat.

“Jadi, dengan kata lain kau mengatakan bahwa agama lain salah?” lanjutnya dengan dahi berkerut.

Aku tersenyum. “Aku tidak perlu mengatakan itu, cukup kukatakan bahwa Islam adalah agama yang benar,” jawabku tegas.

Se Ra tampak sedikit mengedikkan bahu, lalu beralih ke pertanyaan selanjutnya. Semuanya mengalir begitu saja. Aku pun tak melebih-lebihkan setiap jawaban yang kulontarkan. Saat berhadapan dengan kawan lain agama, selalu ada semangat syi’ar di sana. Namun kali ini aku mencoba meredamnya, karena ia bertanya bukan semata-mata atas rasa ingin tahunya. Maka, kupegang kuat-kuat firman Allah Surat Al-Kaafirun ayat terakhir, lakum diinukum waliyadiin.

***

“Apakah kau nyaman dengan posisimu saat ini? Mmm, dengan penampilangmu yang… aneh?” tanya Se Ra pada hari terakhir jadwal wawancara.

Seperti biasa, jika menemui pertanyaan seperti ini, aku memilih berpikir sejenak. “Aku menjalaninya apa adanya. Karena seperti inilah seharusnya penampilan seorang muslimah. Citra buruk memang banyak menghinggapi Islam, tapi kurasa jauh lebih banyak orang-orang cerdas di dunia ini,” jelasku.

“Ya, orang-orang cerdas, yang tahu bagaimana cara menilai sesuatu. Orang-orang cerdas tidak akan berani menilai suatu hal sebelum mereka melihat hal itu dari berbagai sisi,” tambahku.

Se Ra mengangguk-angguk. “Jadi menurutmu, mereka yang menilai bahwa Islam itu salah mungkin saja belum melihat Islam dari berbagai sisi?” ujarnya.

Aku hanya tersenyum, membiarkan Se Ra menyimpulkan sendiri. Ia pun balas tersenyum, lalu berterima kasih dan segera mengakhiri proses wawancara itu.

Ingin kupanjatkan do’a untuknya, tapi aku ingat, semua do’a akan sampai kecuali untuk selain muslim. Hanya satu do’a yang dapat dipanjatkan dalam kondisi seperti itu, berikanlah ia hidayah, ya Allah…

***

Sekitar satu minggu kemudian, buletin Campus in News benar-benar terbit, dan berhasil kembali menjadikannya sebagai buah bibir. Se Ra pun memberi kabar lewat SMS dan menyatakan kembali rasa terima kasihnya padaku.

Tak ada pertemuan lagi antara aku dan Se Ra setelahnya, hingga musim semi berganti menjadi musim panas. Namun saat suatu hari aku sedang menunggu subway di subway station setelah berjalan-jalan dengan teman keturunan China asal Malaysia bernama Jessica ke Menara Namsan, aku melihat sosoknya tengah terduduk lemah di lantai. Wajahnya pucat dan ia terlihat sangat kesakitan.

Kim Se Ra-ssi!” panggilku. Aku segera merangkul pundaknya.
Kwaencanhayo?” tanyaku cemas.

***

Kami bergegas ke rumah sakit setelah Se Ra jatuh pingsan di pangkuanku. Setelah secara pribadi aku mendapat penjelasan dokter tentang kondisi Se Ra, aku segera masuk ke ruang perawatannya. Se Ra tertidur, dan tampak sangat lemah.

Tiba-tiba ponselnya yang kuletakkan di meja berdering. Dari layar ponselnya, aku melihat nama Park Min Hyuk—mungkin temannya.

Yoboseyo…” sapaku mengangkatnya.
Yoboseyo. Se Ra-ya?” balas suara laki-laki dalam telepon itu.
Jeoseong hamnida, jeoneun Haira, Se Ra-ui chingu,” jelasku.
Nugu? Se Ra-neun odisseoyo?” tanyanya bingung.
Jigeum, Se Ra-neun pyongwone isseoyo…”
Mwo?!”

Kurang dari satu jam kemudian, laki-laki bernama Park Min Hyuk dan teman-temannya yang ternyata merupakan rekan Se Ra di klub Campus in News datang ke rumah sakit. Saat melihat sosokku, aku bisa menangkap ekspresi kekagetan yang begitu jelas dari wajah mereka.

Jadi, yang orang yang menolong Se Ra adalah wanita berpenampilan aneh ini? Mungkin kalimat itu yang sedang muncul dalam benak mereka.
Aku segera menjelaskan semuanya pada Park Min Hyuk, yang ternyata merupakan ketua klub. Dan ketika mengetahui ada teman Se Ra yang bersedia menginap menemaninya, aku pun memutuskan pamit pulang. Saat itu Se Ra telah sadarkan diri. Sepertinya ia ingin mengucapkan sesuatu padaku, namun yang keluar dari mulutnya hanya kata keomawo.

***

Seminggu berlalu sejak Se Ra dirawat di rumah sakit. Aku tak pernah mendapat kabarnya lagi. Namun sapaan lembut darinya tiba-tiba mengagetkanku di suatu sore, saat aku sedang duduk menyendiri di taman kampus.

Annyeong, eonni,” sapanya. Ia menyerahkan sekotak nasi gulung. “Tenang saja, itu halal. Aku membuatnya sendiri,” lanjutnya seraya tersenyum.

Aku tersenyum kecil. “Lama tidak bertemu, bagaimana keadaanmu?”
Ia hanya menyunggingkan senyum, lalu mengalihkan pandangan ke arah sekitar. “Kenapa eonni tetap bertindak seperti ini?” tanyanya kemudian. “Eonni telah menceritakan bagaimana baik dan indahnya Islam, eonni juga telah menolongku, dan eonni… telah menutupi keburukanku. Ada infeksi di perut… sebuah kamuflase jujur yang sempurna, tak eonni katakan yang sebenarnya bahwa waktu itu aku terkena infeksi akibat aborsi ilegal…” lanjutnya. “Eonni tinggal menyuruhku masuk Islam, kenapa eonni belum juga melakukannya?”
Infeksi akibat aborsi ilegal. Pernyataan dokter saat itu membuatku jijik, marah, dan pilu.

Ya, waktu itu Se Ra harus menjalani perawatan karena menderita infeksi akibat aborsi ilegal, dan aku memang tak mengatakannya karena kewajibanku sebagai seorang muslim untuk menutupi aib orang lain. Tapi kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti ini?

“Kenapa, eonni?” tanyanya lagi.

Aku segera menguasai diri. “Saat itu, aku hanya melakukan kewajibanku. Bersikap baik, menolong sesama manusia, dan menutupi aib orang lain. Sedangkan ke-Islam-an, ia datang dari hati, bukan dari sikap baik yang orang lain berikan,” jelasku.

“Kami diajari untuk bertoleransi, tak memaksa, karena itu hanya akan memicu perpecahan. Tetapi sebagai seorang muslim, kami diajari untuk mensucikan Islam, dan mengajak pada kebaikan serta mencegah dari keburukan. Kami punya tugas untuk menyampaikan, dalam Islam kau bisa menyebutnya dengan da’wah, tapi itupun kami lakukan dengan cara yang baik, bukan dengan paksaan. Sekali lagi, karena Islam datang dari hati, yang dikendalikan oleh-Nya,” lanjutku.

Se Ra menatapku penuh perhatian, lalu tersenyum. “Jawaban eonni tak pernah tak memuaskanku,” ujarnya sembari menunjukkan kedua matanya yang menjadi garis. Ia lalu mengajakku jalan-jalan. Setelah memastikan bahwa hari itu aku tak ada agenda dan juga karena mendengar rengekannya, aku pun memilih menerima ajakannya. Aku memang butuh refreshing lagi, dan aku percaya pada Se Ra ia tak akan berani macam-macam padaku.

Ternyata Se Ra mengajakku ke Namdaemun Market, tempat berbagai pernak-pernik khas oleh-oleh dijajakan. Setelah puas melihat-lihat dan berbelanja, ia mengajakku ke tempat lain. Jurus rengekannya pun kembali meluluhkanku.

Namun ia mengajakku ke sebuah tempat tak terduga. DISKOTIK. Kakiku langsung berhenti melangkah begitu melihat papan reklame di depan pintu masuk.

“Kenapa, eonni? Kau tidak mau masuk?” tanya Se Ra. “Oh! Aku tidak akan memesankan alkohol untukmu, kita hanya akan melihat-lihat…” lanjutnya.

Entah dia pura-pura tidak tahu atau benar-benar tidak tahu, saat itu darahku benar-benar mendidih karenanya.

“Kau…” ucapku marah. “Ternyata masih banyak hal yang belum kau pahami tentangku, tentang hidup kami sebagai muslim, tentang Islam. Dan setelah apa yang kau alami, kau masih berani masuk ke tempat seperti ini, bahkan mengajakku yang kau tahu adalah seorang muslim?!” kataku—menatap Se Ra dengan tajam.

“Lihatlah kaki, lengan, leher, dan wajahmu. Seluruh tubuhmu. Kau seharusnya merasa jijik ketika para lelaki memandanginya dengan penuh nafsu. Bahkan seorang lelaki telah mengeksploitasinya dan membuatmu menderita karenanya…”

Se Ra hanya diam, mematung menatapku.

***
BERSAMBUNG

hallyu : gelombang tren budaya
dorm : asrama mahasiswa
Jeoneun Kim Se Ra imnida : Saya Kim Se Ra
Kim Se Ra-ssi : Nona Kim Se Ra
Kwaencanhayo : tidak apa-apa
Yoboseyo : Halo
Jeoseong hamnida, jeoneun Haira, Se Ra chingu : Maaf ini Haira, teman Se Ra
Nugu? Se Ra-neun odisseoyo : Siapa? Se Ra di mana?
Jigeum, Se Ra-neun pyongwone isseoyo : Sekarang Se Ra berada di rumah sakit
Mwo : Apa?

Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top