Wednesday , 14 November 2018
update
Dicari, Tayangan Ramadan Bermutu

Dicari, Tayangan Ramadan Bermutu

Ramadan sebentar lagi. Ya, segalanya bersiap menyambut bulan yang dinanti seluruh muslim di dunia ini, termasuk dunia perfilman Indonesia.

Momen Ramadan adalah momen plus-plus buat para sineas perfilman tanah air. Istimewanya, di momen ini mereka berlomba menyajikan tayangan yang menemani sahur dan berbuka para pemirsa. Beragam tayangan disajikan. Ada yang bergenre pengajian (taklim/tablig), konser Ramadan, lawakan, sinetron, dll.

Yang berbeda dari sajian program televisi Ramadan bukan hanya dari sisi waktu penayangan. Program Ramadan di televisi ditayangkan dengan kover/sampul yang menyesuuaikan tentunya dengan momen Ramadan itu sendiri. Sebagai contoh, sinetron Ramadan. Jika pada hari biasa, para pemain mengenakan pakaian biasa maka lain halnya pada saat Ramadan. Mereka mendadak berubah wujud mengenakan pakaian muslim (baju koko, jilbab, kopyah, dll).

Bukan tidak boleh. Tentunya para direktor tak ingin kehilangan kesempatan emas meraup rating penonton. Beragam adaptasi dibuat untuk menyesuaikan dengan momentum Ramadan. Tidak heran, penonton memang tertarik dibuatnya dengan tampilan menyesuaikan Ramadan tersebut.

Yang disayangkan adalah penyajian konten yang tidak berubah. Utamanya dalam sinetron, seringkali ditemukan tidak adanya perubahan isi cerita. Boleh jadi para pemainnya mengenakan baju muslim, berjilbab, dll. Tetapi, menjadi sorotan di dalamnya, apa yang dibawakan pemain dalam cerita. Film tetap saja mempertahankan pemain dan cerita pada line awal. Perebutan harta, kekasih, dll masih mewarnai sehingga image artis dengan pakaian muslim atau tidak nampak sama saja.

Tidakkah sadar bahwa semua itu menjadi ujung tombak perwajahan Islam yang ada? Kita juga mesti ingat bahwa dalam dunia ini tengah berlaku tontonan yang menjadi tuntunan. Alangkah berbahayanya jika dominasi tontonan terutama saat Ramadan tak ubahnya seperti hari-hari biasa yang miskin keteladanan.

Negeri ini merindukan film-film yang sederhana. Film yang mampu merefleksikan kehidupan nyata dan sarat hikmah sehari-hari. Bukan film yang mengajarkan euforia kehidupan bermegahan ataupun konflik tak berkesudahan. Namun terkadang hal tersebut memang sulit dilakukan.

Ironis memang. Alangkah lebih baiknya jika konten sinetron ataupun program lain turut ditransformasikan dan ditingkatkan agar nuansa Islami tidak hanya sekecap lidah saja. Usai Ramadan, segalanya lenyap tak bersisa.

Patut mendapat apresiasi tinggi yakni program sinekuis (sinetron kuis) besutan Deddy Mizwar berjudul Para Pencari Tuhan (PPT). Meski telah mencapai jilid keenamnya, tayangan ini selalu dinanti banyak pemirsa tanah air untuk menemani sahur dan berbuka mereka. Diakui, tayangan ini cukup sederhana lantaran mengangkat realita kehidupan masyarakat. Film ini berusaha menanamkan nilai Islam namun dengan pembahasaan yang ringan sehingga mudah diterima.

Msayarakat secara sadar/tidak sadar terinternalisasi nilai-nilai Islam melalui film yang mengangkat kisah 3 marbot (penjaga mushola) ini. Kisah yang sarat hikmah, sederhana, lugas, dan memasyarakat menjadikannya laris manis di kalangan penonton.

Semoga saja semakin banyak bermunculan ide-ide kreatif para sineas perfilman untuk menayangkan sajian edukatif dan islami ke tengah masyarakat. Masyarakat tanah air berhak mendapatkan sajian bermutu yang mencerdaskan.

Penulis : Sofistika Carevy Ediwindra

Leave a Reply

Scroll To Top