Wednesday , 20 June 2018
update
Eksotisme Historiografi Madinah

Eksotisme Historiografi Madinah

Jika di Mekkah terdapat Masjidil Haram yang di dalamnya terdapat Ka’bah, maka di Madinah terdapat makam Nabi Muhammad SAW dan taman Raudhah. Mereka yang menunaikan ibadah umrah dan haji di Mekkah hampir pasti tidak akan melewatkan momen ziarah ke dua tempat itu di Madinah.

 
Dalam bahasa Arab, Madinah tidak sekedar bermakna kota dalam wujud bangunan fisik melainkan terkandung makna dan visi filosofis-sosiologis. Madinah yang dalam bahasa Yunani mirip dengan konsep polis, mengasumsikan adanya aturan yang disepakati bersama oleh para penghuni yang tinggal di dalamnya. Tak heran, khalifah kedua Umar Bin Khattab pernah berkata “Madinah adalah induk dari segala kota, dari kota inilah, Islam membebaskan beberapa kota lainnya, seperti Mesir, Irak, Damaskus, dan lain-lain.”

 
Robert N. Bellah (1972) mengatakan, “Bahwa madinah merupakan salah satu bentuk pemerintahan modern yang melandaskan konstitusinya pada nilai-nilai kemanusian dan demokrasi. Piagam Madinah merupakan salah satu pencapaian pemerintahan nabi yang paling spektakuler karena mampu membangun konstitusi atau konsensus yang berlandaskan kebhinekaan kelompok, baik suku maupun agama.”

 
Piagam Madinah telah membuktikan salah satu esensi Islam adalah perdamaian dan persaudaraan. Fakta sejarah Piagam Madinah telah menegaskan perbedaan yang sangat mendasar dengan pandangan dan sikap politik sebagian kelompok yang selama ini mengampanyekan penegakan syariat Islam dalam ranah politik. Piagam Madinah secara eksplisit tidak merekomendasikan penegakan hukum Islam di tengah kemajemukan kelompok.

 
Yastrib beralih ke Madinah
Pada masanya, Yastrib merupakan salah satu kota yang cukup dikenal di dunia Arab. Jauh sebelum islam dikumandangkan di kota ini, nama Yastrib menjadi bahan pembicaraan semua kalangan, karena kota ini relatif tentram dan damai. Kondisi masyarakatnya amat berbeda dengan Mekkah.

Para sejarawan menyebut Madinah sebagai kota formatif, yaitu kota yang dibentuk dan dibangun oleh masyarakat yang eksodus dari tempat tinggal mereka, baik karena alasan konflik maupun alasan ekonomi. Pada mulanya kota ini adalah wilayah yang kosong, kemudian sebuah rombongan datang dan menamakannya Yastrib.

Yastrib mengacu pada makna orang-orang yang suka membuat kerusakan dan keburukan. Hal tersebut dalam rangka membedakan dengan orang-orang Quraish Mekkah yang telah memperlakukan nabi secara diksriminatif. Tatkala Muhammad datang ke Yastrib, lalu nama tersebut diganti dengan nama Madinah dalam rangka membedakan orang-orang Yastrib dengan orang-orang Pagan Quraish yang kerap kali melakukan tindakan tidak manusiawi kepada nabi.

Sedangkan Yastrib mengacu pada orang-orang yang pertama kali menempati kota tersebut, yaitu Yastrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Iram bin Abil bin Iwadh bin Iram bin Sam bin Nuh.a.s .

Dalam tradisi Arab, hal tersebut merupakan salah satu penghargaan terhadap sosok yang pertama kali datang ke kota tersebut. Dan sosok yang bisa menggantikan ketokohan Yastrib Bin Qaynuqah adalah Muhammad, Rasulullah SAW.

Hal tersebut membuktikan betapa ketokohan Nabi Muhammad sangat bersinar di Yastrib, sehingga memberikan daya tarik tersendiri bagi orang-orang Yastrib. Mereka merelakan untuk mengubah nama lama yang sudah melekat pada mereka menjadi nama baru yang identik dengan Nabi pada pengikutnya, yaitu Madinah. Yastrib pun berganti nama menjadi Madinah.

Kota Nabi
Salah satu keistimewaan madinah daripada kota-kota lainnya, karena kota ini identik dengan Nabi Muhammad SAW. Setelah nabi melaksanakan hijrah, kota ini dikukuhkan sebagai Madinah al-Nabi atau kota Nabi. Walaupun Nabi sejak lahir menghabiskan masa-masa remajanya di Mekkah, tetapi masa-masa akhir hidupnya selama 10 tahun di Madinah telah memberikan makna dan nilai yang amat mendalam. Beliau pun wafat di kota ini.

Muhammad Yasin Ghadhban (1993) menyebut Madinah sebagai Dar al-Hijrah (Kota migrasi) dan Dar al-raudhah (kota taman surga). Dibalik itu semua, karena kota ini semakin mengukuhkan ketauhidan yang merupakan inti ajaran Islam.

Dalam hal ini, Madinah semakin menyempurnakan nuansa monoteisme yang mewujud di dalam rumah Allah, Ka’bah. Dengan sangat sederhana dapat dikatakan bahwa Mekkah merupakan simbol monoteisme dalam narasi kecil. Islam adalah agama samawi paling akhir yang meletakkan bangunan monoteisme secara paripurna. Di kota Madinah ini nabi mengukuhkan monoteisme sebagai bagian terpenting dalam Islam, bahkan hal tersebut merupakan pangkal utama dalam ajaran Islam.

Komitmen La illaha illallah ( Tiada tuhan selain Allah sebagai bukti ketundukan dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT). Selain Allah SWT pada hakikatnya akan binasa dan tidak mempunyai kekuasaan dan kekuatan mutlak. Komitmen tersebut semakin dikukuhkan, tatkala disempurnakan dengan testimoni, Muhammadun Rasulullah. Testimoni ini mengandung sebuah pesan kuat, bahwa keyakinan Muhammad SAW sebagai Rasulullah sebagai sebuah jalan lapang untuk mengukuhkan monoteisme. Sebab dalam diri beliau terdapat kasih-sayang-Nya yang tak terbatas.

Kota Ilmu
Madinah juga dikenal sebagai kota ilmu (madinat al-ilm). Pada masa nabi, masjid nabawi menjadi salah satu pendidikan. Ditempat inilah Nabi membina dan membimbing tunas-tunas muda, yang nantinya akan dijadikan sebagai lokomotif pengembangan islam. Menurut Ashim hamdan dalam al-madinah al-munawwarah bayn al-adab wa al-tarikh menegaskan bahwa dari madrasah nabi” di Masjid Nabawi lahirlah sejumlah sahabat yang terkenal, diantaranya Abdullah bin Mas’ud, Abu Hurairah, Mu’adz bin JabaL, Sa’ad bin Mu’az dan abdullah bin Umar.

Mereka adalah para pewaris ajaran nabi yang dituangkan melalui hadis-hadis yang sangat berharga, sehingga umat islam bisa mengenal lebih dekat tentang ajaran dan akhlak nabi.

Madinah telah menjadi latar sejarah yang sangat kuat betapa ilmu pengetahuan menjadi salah satu pilar islam yang paling penting. Dalam sebuah hadisnya, Nabi menegaskan bahwa seseorang yang alim lebih utama dari 1000 orang ahli ibadah. Ilmu menjadi salah satu unsur penting dalam perkembangan islam, karena dengan ilmu tersebut khazanah islam bisa tersebar luas di dunia.

Penutup
Madinah telah menjelma sebagai salah satu kota penting di dunia. Setiap muslim pasti memimpikan untuk datang ke kota suci ini. Mengunjungi Madinah, berarti mengunjungi Nabi, setidaknya Masjid Nabawi yang merupakan tempat tinggal dan masjid Nabi, disamping itu terdapat pula kuburan nabi yang menjadikan seorang muslim berziarah dan berdoa disana.
Madinah akan mengisi batin setiap muslim dengan kenangan indah yang tidak akan terlupakan, bahwa dari kota yang sederhana dan tidak luas ini tonggak ajaran Islam disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.

NB : Diadopsi dari berbagai sumber dengan perubahan seperlunya.

Penulis : Dina Fauziah (Head of Public Relation KAMMI MADANI 2012/2013)
Editor : SCE

 

One comment

  1. Saya terpaksa berterus terang… yang saya kurang
    bersetuju dengan pedapat awak.. camna pon idea awak memang benar.

    . saya hormat awak atas penulisan ni

Leave a Reply

Scroll To Top