Sunday , 25 February 2018
update
Eman-Eman Si Muslimah (Emansipasi Muslimah)

Eman-Eman Si Muslimah (Emansipasi Muslimah)

dyahBiasanya tulisan tentang emansipasi perempuan erat kaitannya dengan hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April. Sudah sebulan yang lalu memang. Namun, bicara tentang perempuan akan selalu menarik. Kali ini  akan dibahas tentang peran perempuan khususnya muslimah dalam kegiatan sosial politik.

“Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan sembayang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (At-Taubah : 71)

Dari Tamim Ad-Dari dikatakan bahwa Nabi SAW bersabda : “Agama itu nasihat” Kami (para sahabat) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin, dan untuk kaum muslimin secara umun.” (HR Muslim)

Dari kedua nash di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa menyeru yang ma’ruf dan mencegah yang munkar adalah tugas bagi setiap orang-orang yang beriman, tak terkecuali muslimah. Islam adalah agama yang haq (benar), agama yang diridhoi oleh Allah. Oleh karena itu, menyampaikannya adalah tugas bagi setiap muslim.

Allah akan memintai pertanggungjawaban bagi siapa saja seorang muslim, apakah mereka menunaikan tugasnya atau tidak. Yakni menyampaikan risalah Allah dengan nasihat kepada para pemimpin atau masyarakat pada umumnya. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Ummu Darda yang menasehati Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Dari Zaid bin Aslam dikatakan bahwa Abdul Malik bin Marwan mengirimkan peralatan rumah tangga untuk Ummu Darda.

Pada suatu malam, Abdul Malik bangun, lalu memanggil pesuruhnya. Melihat pelayan itu agak lambat melaksanakan perimtahnya, Abdul Malik mengutuknya. Keesokan harinya, Ummu Darda berkata kepada Abdul Malik, “Tadi malam aku dengar kamu mengutuk pelayanmu ketika kamu memanggilnya. Aku pernah mendengar Abu Darda berkata : ‘Rasulullah SAW telah bersabda bahwa orang-orang yang suka mengutuk tidak akan mendapat syafa’at dan tidak bisa menjadi saksi pada hari kiamat.’’ (HR Muslim)

Peran muslimah dalam bidang sosial dan politik juga telah banyak dilakukan pada zaman Rasulullah. Muslimah pada saat itu paham betul serta mengamalkan akan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Mereka menyadari bahwa kewajiban itu tidak hanya milik lelaki. Bagaimana dengan Muslimah kini??

Perintah amar ma’ruf nahi munkar tidak hilang dan berubah, yang berubah adalah kondisi medan yang dihadapi para muslimah. Sejalan dengan berkembangnya zaman dan arus globalisasi, kegiatan sosial politik terbuka lebar,. Hal itu berarti juga bahwa peluang untuk menyampaikan kebaikan semakin banyak. Artinya lahan dakwah semakin luas.

Yang harus dilakukan oleh muslimah kini adalah membekali diri dan mengasah kepekaan sosial politik. Sekarang sudah zamannya emansipasi muslimah. Dengan segala kecenderungan potensi, maka fardhu hukumnya untuk muslimah ikut serta dalam agenda perbaikan. Contoh sederhana yang bisa dilakukan para muslimah adalah mengembangkan potensi yang dimiliki, bergabung dengan organisasi-organisasi yang bervisi baik, atau para muslimah juga bisa mengemukakan pendapat melalui lisan maupun tulisan, ikut memilih pemimpin atau amanah yang lebih besar lagi yaitu bersedia dicalonkan menjadi anggota legislatif, mengingat keterbutuhan 30% kursi bagi perempuan.

Muslimah dengan sifatnya yang feminim, buka berarti menghalanginya untuk ikut serta dalam kegiatan sosial politik. Satu kuncinya ialah proposional.

 

Penulis : Farisa Dyah (UNY/KAMMI Sleman)
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top