Thursday , 20 September 2018
update
Embun Kampung

Embun Kampung

Basah daun terselimuti embun
Membungkus indahnya merah merona di rimbun ilalang
Kutengok ada syurga kecil yang menawan pandangan
Kutengok ada keindahan yang memaku hati

Ingin ku petik tangkainya, kuhirup dan kemudian layu termakan waktu
Asaku mencaci,
Bukan hari yang tepat untuk mendapatkannya
Biarlah saat layu akan ku peroleh dirinya

Agar tangkainya melahirkan bunga merah merona di rumpunnya

 

Pertemuan dengan Adil menambah daftar kerutan di dahiku. Panjangnya melintang dari dahi sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan. Kami masih berupaya mencarikan solusi dari masalah yang satu ini. Adit nampak tak seperti biasanya, ia diam, sesekali memandangi langit,  seperti pawang hujan, Kawan. Lain lagi kalau Anam. Iia hanya peduli pada tebunya. Kalau habis ia seperti kehilangan waras. Mondar-mandir tak keruan.

Setelah pulang sekolah, aku memberikan sebuah lembar kertas kepada Adit. Isinya berupa hasil dari buah pemikiranku.
“Sepertinya poin yang kedua lebih baik, Boy,”
“Coba kulihat, Dit,” Anam meminta.
“Tahu apa kau ceroboh, urusi saja tebumu itu!” timbal Adit.
“Untuk langkah awal, kita kerjakan poin dua dulu, Boy,”
“Baiklah,”

Setelah selesai makan. Aku pamitan kepada ibu untuk pergi bermain bersama Adit dan Anam.
“Bagaimana Dit, apa sudah siap untuk hari ini?”
“Sudah, Boy”
“Siap untuk apa, Nan?” Anam bertanya.
“Sekali lagi kau tanya, kubuang tebumu itu! Ikut saja!” cetus Adit.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua.

***

 

“Boy, kami ikut turun ya,” pinta Adit dari tepi sungai.
“Turun saja kalian,” jawab Adil.

Kami bertiga turun ke sungai, membasahi tubuh kami untuk mencari batu-batu kecil yang siap dikumpulkan di tepian sungai. Gelombangan air tak berpola menghantam badan kecil kami. Sambil kuputarkan sebuah nyayian.

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Janganlah berganti.

***

Dengan tenaga empat orang yang seperti kesetanan, kami mengumpulkan batu kali yang lumayan cukup banyak untuk hari  ini, cukup, Kawan. Hatiku perih melihat keadaan kami. Namun, satu sisi aku akan merindukan saat-saat seperti ini. Begitu mahal memori ini untuk kugadaikan di pasar ikan di desa Tanjung Senang. Mata Adil berkaca-kaca melihat tingkah kami yang sedang asyik memainkan percikan air. Aku paham, ia merasa tak sampai hati berbagi penderitaannya kepada kami. Tapi kami tak punya alasan untuk acuh padanya. Maafkan kami, Dil.

“Kalau dirunut, hari ini kita harus bagi tugas, Boy”
“Apa tugasku, Mam?” Jawab Adit.
“Kau ke pasar dan cari info tentang poin kedua, Boy,” jawabku.
“Kalau aku apa?” tanya Anam.
“Habiskan saja tebu digenggaman tanganmu itu saja ceroboh,” seperti biasa Adit menjawabnya.
“Aku dan anam akan kembali ke sungai melanjutkan pekerjaan kita kemarin,”
“Hati-hati kalian berdua, Boy,”
Anam senyum mendengar perhatian Adit untuknya, dengan spontan Adit merespon.
“Awas kau, kalau menyusahkan mereka. Kutebangi semua pohon tebu di Tanjung Senang ini!”

Seperti yang telah kami sepakati. Kami berpisah setelah pulang sekolah. Adit ke pasar untuk mencari Koran sebanyak-banyaknya. Bekas para juragan kopi di pasar. Sedangkan aku dan Anam menyusul Adil disungai.

Malam ini badanku serasa rontok. Sendi-sendi berserakan telepas satu dengan yang lainnya. Bibirku pucat pasi karena terlalu lama berendam, mataku merah karena perih berlama-lama berendam di sungai. kuluruskan tubuh yang tak rapi lagi bentuknya ini. Sambil kuhitung kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tiga hari ke depan adalah jawaban, apakah strategi poin kedua bisa berhasil atau kami harus memilih strategi lain. Akhirnya kuputuskan untuk tidur. Mataku berkata, “Boy, aku juga butuh istirahat, coba kau tengok mesin jahit ibumu di dapur. Sekarang saja ia sudah tidur”.

(bersambung)

Penulis : Anton Nuari
Editor : SCE

 

Leave a Reply

Scroll To Top