Thursday , 24 August 2017
update
Gerbang Surga

Gerbang Surga

“Dan malam ini, di sini, di tanah yang Allah muliakan dengan ruh dan jasad para syuhada, Allah telah anugerahkan kemenangan besar yang bukan hanya melingkupi daerah Gaza, namun mencapai wilayah pertahanan musuh di wilayah Erez. Kemenangan yang bukan diandalkan karena persenjataan canggih. Kemenangan yang bukan didapatkan oleh jumlah personil pasukan yang banyak. Bukan juga karena rudal dan pesawat terbang yang terbang meraung-raung di angkasa. Namun, kemenangan yang Allah berikan karena kecintaan kita kepada Allah, karena shalat malam yang terus-menerus. Karena doa ayah dan ibu serta anak-anak yang mencintai kita. Kemenangan yang tertegak karena lafadz Lailahaillallah Muhammad Rasulullah yang selalu mengisi relung hati kita.” (hal. 462)

the gate of heavenDemikian sepenggal kutipan pembuka pernyataan Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah, yang menggemparkan dunia. Jajaran pemerintahan Israel dibuat marah bercampur takut. Apa gerangan yang terjadi? Mengapa Israel bisa menelan sebuah kekalahan memalukan? Siapa saja aktor kunci di balik kemenangan gemilang rakyat Palestina itu?

Alkisah, cerita berhulu pada serangan roket Harakah al-Muqawamah al-Islamiyyah (HAMAS) ke wilayah Israel sebagai bentuk perlawanan atas penjajahan kaum Zionis Israel yang tak kunjung henti. Merespons itu, Israel segera menggelar operasi yang diberi nama Cash Lead II. Parade kekuatan militer gabungan di bawah komando Kepala Israel Defense Forces (IDF) Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi pun disiapkan menggempur Gaza. Saat itu, yang ada dalam benak mereka adalah luluh lantaknya HAMAS sebagai kekuatan perlawanan rakyat Palestina.

Namun, di lain sisi, HAMAS ternyata memiliki rangkaian rencana besar yang brilian. Ismail Haniyah selaku Pemimpin HAMAS sekaligus Perdana Menteri Palestina memimpin langsung penyusunan strategi penghancuran pasukan Israel yang sejak 1948 menjajah Negeri Para Nabi itu. Umar Ayyash al-Azzam (Abu Sulaiman al-Hurr) dan pegiat HAMAS lain turut serta dalam operasi guna menyambut kedatangan pasukan Israel.

Di pihak Israel, tanpa menunggu lama, serangan udara helikopter canggih pun dilancarkan ke Gaza pada suatu Subuh. Naas bagi mereka, belum sampai target yang dituju, pasukan udara Israel justru meledak di angkasa Gaza. Terang saja itu menjadi sebuah awalan yang amat buruk bagi Israel. Tapi, mereka tak menyerah dan tetap melanjutkan serangan ke Gaza melalui pasukan darat terpilihnya. Mereka tidak tahu bahwa perangkap maut lain telah disiapkan para pejuang HAMAS di daratan Gaza.

Adalah Abu Sulaiman, salah satu komandan HAMAS yang kemudian banyak berperan. Tidak hanya cerdas, tegas, dan berwibawa, Abu Sulaiman merupakan sosok panglima yang berhati lembut. Ini dibuktikan dengan sikapnya tatkala HAMAS berhasil menangkap hidup-hidup 200 kontributor Shin Bet (mata-mata Israel) wilayah Gaza. Ia tidak memperlakukan para pengkhianat itu dengan sewenang-wenang. Mereka juga tidak dipaksa bergabung bersama pasukan HAMAS. Kebijaksanaan yang ditunjukkan Abu Sulaiman akhirnya meluluhkan hati para agen Shin Bet. Mereka pun dengan kesadaran penuh dari hati memilih terjun ke medan pertempuran melawan Israel yang selama ini mereka bela dengan terpaksa.

Maka, babak baru pertempuran itu pun dimulai di sini. Muncullah kemudian Yasser Abbas, mantan agen Shin Bet yang juga berprofesi sebagai guru. Di tengah kecamuk perang itu, ia memimpin ratusan kawan-kawan mantan mata-mata Israel lainnya berhasil merebut sebanyak 50 tank Merkava IV. Mereka paham bahwa varian tertinggi dari armada lapis baja militer Israel itu bisa akan sangat menguntungkan jika bisa dikuasai pasukan mujahidin.

Singkat cerita, Pasukan Hijau yang dipimpin Yasser Abbas itu sukses mengelabuhi militer Israel. Dengan mengendarai Merkava IV, Yasser dan kawan-kawan masuk ke jantung pertahanan militer Israel di kawasan Erez. Sontak pasukan Israel dibuat kelimpungan menghadapi serangan dadakan dari tank kebanggan mereka yang telah disandera Pasukan Hijau. Hasilnya, salah satu petinggi militer Israel, Kolonel Mendel Malatzky, pun dihantarkan ke alam barzah bersama banyak pasukan Israel yang melawan serangan Merkava IV.

Puncak dari serangan itu, Yasser dan pasukannya satu per satu menjemput syahid setelah Israel menambah personil pasukan secara besar-besaran. Dikisahkan juga di sana, bahwa mereka sempat melihat ada gerbang bercahaya di depan taman-taman yang indah sesaat sebelum Malaikat Maut menjemput. Dan pertempuran tidak berhenti di sini. Mujahidin HAMAS lain terus menjalankan operasi sebagaimana skenario yang telah disiapkan. Keadaan yang tidak menguntungkan bagi Israel itu kemudian berbuah keputusan yang menjadi bumerang bagi Israel.

Lantaran frustrasi dengan pilihan sulit, Presiden Israel Shimon Peres lalu menerima usulan Jenderal (Veteran) Amran Mitzna untuk melakukan operasi self-destruction secara rahasia. Demi menghindari penguasaan HAMAS atas gudang senjata di kawasan Erez, Israel memilih membumihanguskan seluruh daratan Gaza tanpa terkecuali. Mereka bahkan tidak peduli jika harus membunuh pasukan sendiri yang masih berada di medan perang. Tindakan inilah yang menjadi akhir dari keberhasilan skenario besar HAMAS. Rakyat Palestina pun bergembira atas kemenangan gemilangnya kali ini.

Pastinya gambaran seluruh peristiwa dalam novel berjudul The Gate of Heaven karya RH Fitriyadi itu amat kurang jika hanya ditangkap dari ringkasan di atas. Novel setebal 480 halaman terbitan Semesta (kelompok Penerbit Pro-U Media) pada 2010 ini memang menawarkan potongan-potongan kisah mendebarkan berdasarkan kisah nyata di lapangan pada operasi Cash Lead II. Jika membaca dengan seksama, mungkin pembaca akan merasa terbawa pada suasana yang ada dalam cerita. Penulis agaknya telah melakukan riset mendalam sehingga bisa menyuguhkan plot dan karakter yang kuat. Nama-nama tempat serta detail keterangan ihwal persenjataan modern juga menambah bukti kayanya data yang dipunyai penulis.

Namun demikian, laiknya novel kebanyakan, nuansa cinta, persahabatan, kegembiraan, dan sebagainya juga tetap ada pada novel perjuangan ini. Contoh paling kentara, misalnya pada bagian “Bersiap-Siaga”, dikisahkan bahwa di balik ketegasan seorang Fatah Aziz (pengawal pribadi Abu Sulaiman), ia bisa menjadi pribadi suami yang sangat romantis dengan istrinya. Berikut adalah secuil kutipan pada bagian tersebut:

Setelah selesai tilawahnya, maka Fatah akan mendekati Nafisa, ia segera memandang lekat ke wajah Nafisa sambil mengucek-ucek mata. Nafisa yang keheranan langsung bertanya apakah ada yang salah dengan wajahnya. Senyum manis merekah di wajah Fatah…
“Kanda selalu berpikir ketika membaca ayat yang mengatakan kecantikan bidadari bermata jeli, apakah ayat itu turun untukmu wahai Cinta… karena bagi Kanda mata Dinda indah selayaknya mata bidadari di surga?!”
Semburat merah merekah kembali tampak di wajah Nafisa ketika Fatah mengatakan seperti itu…
“Bahkan lebih indah lagi ketika memerah wajahnya seperti sekarang ini,” tambah Fatah…
(hal. 145)

Terlepas dari semua itu, walaupun sebagaian besar bagian dalam novel ini menggambarkan seputar jihad qital (perang), bukan berarti novel ini menganjurkan setiap pembacanya untuk segera bergabung bersama HAMAS di Gaza. Kalau pembaca menggali amanat novel ini dengan lebih luas, bukan mustahil akan sampai pada kesimpulan akan makna jihad dalam Islam secara komprehensif.

Akhir kata, selamat membaca dan merasakan suasana Gaza saat bergejolak. Semoga dengan demikian hati pembaca sekalian ikut tergerak untuk bangkit berjihad sesuai dengan kapastitas masing-masing. Karena jihad adalah atap agama kita, Islam.

Nur Afilin

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top