Wednesday , 22 October 2014
update
Gunung Berapi, Simbol “conscientizacao” Komunitas MAGMA

Gunung Berapi, Simbol “conscientizacao” Komunitas MAGMA

Kader KAMMI layaknya seperti gunung berapi. Di dalam dirinya terdapat
sebuah fluida, disebut sebagai lava panas yang mendalam dari kedalaman nurani, terdapat banyak sekali endapan berupa sikap kritisnya, obyektifnya,
rasionalitasnya. Ia sesekali akan meledak, secara ekstrusi, memuntahkan endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus. Meminjam istilah Amin Sudarsono, elaborasi ini menggunakan konsepsi “conscientizacao” ala Freire.

Magma adalah materi inti dari kesadaran kader KAMMI yang berupa cairan, liat, merah legam dan sangat panas. Aktivitasnya disebabkan oleh tingginya suhu kesadaran akan distorsi realitas, yang kemudian berusaha menghancurkan tembok primodial. Banyaknya endapan yang terkandung akan muncrat. Magma yang keluar menuju permukaan akan terus mengalir ke semua liukan tubuh KAMMI.

‘Ring of fire’, daerah yang sering mengalami guncangan kesadaran dan letusan gunung berapi itu mengelilingi cekungan hati kader KAMMI. Area ini berbentuk seperti kepalan tangan dan mencakup wilayah basis gerakan dan pemikiran KAMMI.

Fenomena cincin api ini membuat setiap kader KAMMI teringat akan kehidupan KAMMI. KAMMI dalam hidupnya akan selalu memberikan dua hal yang berbeda kepada setiap insan yang bernaung di dalamnya. Satu sisi dia bisa menjadi sebuah ancaman, ancaman bagi mereka yang distorsi realitas, baik di dalam maupun di luarnya, sisi lain juga bisa menjadi sebuah berkah bagi yang
lain. Tingkah laku ini terkadang membuat orang “terancam” bahkan merasa “terintimidasi”. Sedangkan satu sisi MAGMA juga mampu “mensejahterakan” lainnya serta juga menjadi “penolong” bagi mereka.

Ketika seorang kader mampu melakukan pembongkaran-pembongkaran atas kerangka berpikirnya ia lantas menemukan makna “kebenaran” dengan basis intelektual yang ia miliki. Ia tidak akan lagi terjebak pada “hegemoni” sistem dan struktur yang melingkupi dirinya. Ia akan menapak pada fase “kesadaran kritis” untuk memastikan dirinya paham posisi dirinya dalam KAMMI.

Meminjam istilah Buya Prof. Dr. Hamka ketika menjadi Ketua Majelis Ulama
Indonesia tahun 1971 yang dalam buku Ijtihad Membangun Basis Gerakan karya Amin Sudarsono, kita memang seperti “Kue Bika. Posisi KAMMI dihimpit oleh dua kekuatan dan entitas. Di satu sisi, KAMMI mesti memiliki keberpihakan kepada entitas rakyat marjinal yang aspirasi dan keinginan mereka mesti diejawantahkan dalam aksi-aksi KAMMI. Akan tetapi, di sisi lain, KAMMI juga berhadapan dengan kekuasan politik yang menghegemoni. Kekuasaan politik tersebut tidak hanya terbentuk dalam wujudnya sebagai entitas “negara”, tetapi juga aktor-aktor politik non-negara yang berada di lingkar-lingkar kekuasaan.

Namun kemudian, Amin Sudarsono memberikan sebuah alternatif yakni  basis gerakan dan kesadaran kritis aktivis KAMMI mesti diperkuat, dan MAGMA (Komunitas Pegiat KAMMI Malang Raya) bertepatan tanggal 29 maret 2013, dalam deklarasi manifesto KAMMI untuk di Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang silam,  lahir manjadi salah satu alternatif sebagai wadah kader KAMMI malang untuk berproses menjadi pemimpin yang piawai dalam berpolitik dan profesional membangun gerakan.

MAGMA adalah sebuah komunitas yang mewadahi kader kammi se-Malang Raya, lebih berafiliasi pada kepenulisan, sesekali pentas monolog ‘ligualis kader marjinal’, dan forum diskusi kecil.

Penulis : Muhammad Azami Ramadhan (Pegiat Komunitas MAGMA)
Editor : SCE
like fanpage : MAGMA “komunitas pegiat kammi malang raya”

Leave a Reply

Scroll To Top