Wednesday , 21 November 2018
update
Guru Sejati

Guru Sejati

“Pada seorang Guru yang sebenar berilmu, kan kau reguk Adab yang tak disediakan oleh buku-buku.” -Ibn ‘Athaillah-

Pada komunitas Indonesia mengajar, saya sangat bangga dan berterimakasih, mereka adalah titipan Tuhan untuk pembangunan karakter bangsa ini. Lalu pada guru-guru yang berada di tempat yang serba keterbatasan, ajarkanlah kepada kami arti kesyukuran, karena banyak sekali guru yang berada diposisi “Uenak” cenderung belum kreatif.

Sudah menjadi trend masa kini para guru meningkatkan kapasitiasnya, mereka meng-up gread kemampuan diri, mengikuti pelatihan pengelolaan kelas, mengikuti even lomba-lomba, menulis buku, menjadi trainer dan sebagainya. Contohnya saja Bambang Kariyawan (saya pernah dalam 3 tahun berada dalam komunitas yang sama di Forum Lingkar Pena Pekanbaru), seorang guru sekolah cendana di Pekanbaru, yang menginsprasi murid-muridnya untuk menulis cerpen, karena kemampuannya menulis cerpen hingga beberapa kali memenangkan lomba cerpen kaliber nasional dan even-even penelitian lainnya, lalu ada juga yang menjadi trainer, gurunya guru, dialah bapak yang telah memberi trik mengajar yang menyenangkan kepada guru-guru ditanah air ini, dan juga guru yang menjadi inspirasi bagi Andrea Hirata, dalam novelnya Laskar Pelangi.

Tersebutlah seorang guru bernama Ibu Mus atau kepanjangannya Ibu Muslimah, keikhlasannya berbuah jadi inspirasi jadi karya yang berkah dan menghidupkan kembali kenangan emas tentang perjuangan sekolahnya, dan kenangan itu dielu-elukan hingga kini. Bahkan novel Laskar Pelangi tersebut telah diiterjemahkan kedalam berbilang bahasa. Dahsyat! Tentunya banyak lagi sosok mengispirasi tentang guru yang kita punya yang kesejatian mereka memberi makna dalam kehidupan ini ini.

Tapi ada juga trend negatif yang saat ini marak diberitakan media, khususnya di Tanjungpinang, marak terdengar kasus pelecehan yang oknumnya adalah guru bahkan kepala sekolah. Setidaknya ini menggambarkan bahwa ada guru yang lupa tugasnya, lupa bahwa betapa mulianya amanahnya sebagai guru, yang seharusnya masa depan bangsa ini ada di tangan kreatifnya tapi malah jadi perusak misi besar itu.
Dalam mendefinisikan guru sejati kita akan menemui para ilmuan dan buku-buku mengungkapkannya begini;

“Pada seorang Guru yang sebenar berilmu, kan kau reguk Adab yang tak disediakan oleh buku-buku.” -Ibn ‘Athaillah-

Dari ungkapan Ibnu Athaillah sejenak kita resapi bahwa guru memiliki dua sifat alami seperti halnya manusia biasa, keburukan dan kebaikan. Guru sejati akan senantiasa menghadirkan energi kebaikan, dalam tindakannya, di ruang-ruang kelas peradaban, dia hadir dengan pesona yang menginspirasi tentang adab-adab, mencontohkan secara langsung bagaimana berbuat, makannya tak cukup hanya dengan membaca, tapi secara nyata murid harus menjadi timba yang langsung bertatap muka dengan guru untuk mengetahui secara jelas penerapan teori-teori dalam buku, karena buku bersifat pasif, tak bisa ditanya dan tentunya tak bisa menjawab pertanyaan secara langsung, tapi pada guru sejati kita akan mendapatkan pemahaman, dapat bertanya langsung dan melihat ekspresinya merasakan teduh tatap matanya, begitulah guru sejati, akan menghadirkan contoh kesejatian adab.

Ada juga makna talaqqi dari ungkapan hikmah ibnu Athailah di atas, Talaqqi berasal dari kata liqo yang berarti pertemuan, sedangkan talaqqi bermakna, menuntut ilmu langsung bertatap wajah dengan seorang guru, seorang murid akan melihat langsung bibir guru mengucapkan ilmu, melihat langsung kedeipan mata guru, dan semua ekspresi guru saat menstransfer ilmunya.

Sejenak kita lihat definisi guru dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, “ Guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.”

Jikalah profesi guru hanya dijadikan sebagai profesi untuk menghasilkan uang, maka yang terjadi adalah guru-guru tak memiliki ruh pendidik, mengajar hanya keisengan untuk menanti gaji bulanan, setelah dapat gaji bulanan, untuk bayar kredit angsuran.

Tentang kesejatian seorang guru, kita kenal dengan Lukman Al Hakim, seorang yang disitimewakan Allah sehinggalah namanya tercantum sebagai salah satu nama surah dalam Al Quran, dari lukman Al Hakim kita belajar tentang kesejatian sosok guru, yang ia ajarkan pertama kali kepada muridnya (Anaknya) adalah tentang mengesakan Allah, ilmu Tauhid,
“Ya Bunayya La Tusyriq billah, innaysirka Lazulmun Adziim,”

Ia memanggil anaknya dengan sebutan yang lembut dan menentramkan, “Ya Bunayya” wahai anakku yang tercinta, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu adalah dosa yang teramat besar,! Hendaknyalah kita calon guru, atau memang guru benar-benar mengetahui bahwa nilai tauhid yang harus di tanamkan kepada anak-anak peserta didik.

Dalam gurindam 12 juga tergamabar ciri seorang guru sejati, bahwa guru sejati adalah guru yang boleh memberi tahu tentang hal-hal buruk yang dapat menggangu kstabilan akhlaknya, aqidahnya, dan tsaqofah Islamiyahnya, artinya guru sejati akan memberikan pengawasan, kontol terhadap kondisi Iman dan kesehatan dirinya, bahwa :

guru sejati tidak menyembunyikan ilmu.
Cahari olehmu akan guru:
yang boleh tahukan tiap seteru
(gurindam 12 pasal keenam bait kedua)

Demikianlah sekian ciri guru sejati, dari sekian banyak ciri dan tandanya, kita dapat melihatnya dari siroh Nabi Saw, dari para sahabat dan orang-orang soleh, dan bangsa ini harus menjadi bagsa yang menghargai jasa-jasa guru, agar bangsa ini menjadi bangsa yang terrahmati, terberkati, untuk menjadi baldatun toyyibatun warobun gofur., sebagaimana kita ketahui dalam sejarah Nagasaki dan Hiroshima, saat dibombardir dan luluh lantak, yang pertama ditanya adalah, masih ada berapa guru yang tersisa?! Ini adalah tanda bahwa mereka menyadari, betapa urgennya kehadiran guru untuk mewujudkan bangsa yang jaya!

Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
(Gurindam 12 pasal ke 12 bait keempat)

Penulis : Rudi Rendra (Ka.Humas PK KAMMI Bintan), Guru Bahasa Arab SDIT Al Madinah Tanjungpinang, Kepri
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top