Wednesday , 21 November 2018
update
Habibie: Butuh Data yang Rinci untuk Membuat Kebijakan Berkemajuan

Habibie: Butuh Data yang Rinci untuk Membuat Kebijakan Berkemajuan

JAKARTA—The Habibie Center (THC) pada Kamis (20/3) menggelar Seminar Nasional “Konflik Kekerasan dan Konsolidasi Demokrasi Pasca-Gerakan Reformasi di Indonesia” di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.

Acara yang juga dirangkai dengan peluncuran buku “Segregasi, Kekerasan, dan Kebijakan Rekonstruksi Pasca-Konflik di Ambon” itu adalah hasil kerjasama THC dengan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra).

Mantan Presiden Republik Indonesia sekaligus B.J. Habibie didaulat sebagai keynote speaker dalam acara tersebut. Turut hadir pula Deputi Bidang Pendidikan dan Agama Kemenko Kesra RI Agus Hartono.

Dalam ceramahnya, Habibie menghimbau segenap elemen bangsa untuk bisa hidup bersama dan saling menghargai mengingat fakta pluralitas di Indonesia.

Ihwal kebijakan yang sebaiknya diambil pemerintah RI berkaitan dengan akan bergulirnya masa demokratisasi menjadi demokrasi yang “mature” (matang—red), Habibie menekankan perlu adanya beberapa hal yang mesti diperhatikan. Rumus itu, lanjut Habibie, juga berlaku dalam setiap dimensi kehidupan agar kita bisa mencapai hal yang kita harapkan.

“Pertama ialah kita mesti meninggikan kualitas bangsa Indonesia. Dengan demikian, risiko untuk selalu menjadi korban dalam persaingan yang makin ketat lebih kecil. Kemudian, harus juga on schedule. Ada perencanaan dan pembagian waktu yang jelas. Dan yang terakhir itu semua harus didukung dengan data yang rinci,” terang Habibie.

Sementara itu, seminar dibagi menjadi dua sesi. Masing-masing sesi diisi oleh tiga panelis dari THC, praktisi, pengamat, dan/ atau ahli di bidang masing-masing.

Dalam salah satu sesi, THC mensosialisasikan Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) Indonesia yang sudah berjalan sejak 7 Desember 2012. SNPK ini disebut sebagai bank data kekerasan yang terjadi di seluruh Indonesia yang bisa dijadikan landasan para pembuat kebijakan dan penelitian lebih dalam (in-depth research) guna mencari solusi permasalahan sosial di Indonesia.

Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top