Saturday , 18 November 2017
update
Haji Agus Salim, The Grand Old Man

Haji Agus Salim, The Grand Old Man

H. Agus Salim merupakan sosok yang cukup populer dikalangan masyarakat Indonesia. Beliau adalah salah satu dari sekian tokoh ulama yang cukup disegani oleh kawula muda. Para aktivis pergerakan pemuda ketika itu juga banyak belajar darinya. Mereka belajar tak hanya dari segi keislaman, namun juga segi pengalaman pergerakan dan nafas perjuangan tentang nasib Indonesia kedepan.

H. Agus Salim lahir di bumi Minangkabau, Sumatera Barat dengan nama Masyudul Haq yang memiliki arti “Orang yang menyaksikanatau orang yang membela kebenaran”. Beliau kemudian tumbuh menjadi mentor pergerakan para aktivis. Natsir, Kartosuwiryo, M. Roem adalah buah pembinaan dan didikan tangan beliau. Mereka seringkali bertanya dan meminta nasihat dari beliau. Meski demikian, beliau membangun hubungan tak sebatas sebagai guru, tetapi juga sebagai sahabat perjuangan.Ouwe Heer Salim “Orang Tua Salim” adalah sebutan yang disematkan kepada beliau oleh aktivis pemuda pergerakan saat itu.

Ouwe Salim tak hanya pandai berpolitik, namun juga memiliki pengetahuan seluas samudera. Beliau adalah diplomat ulung yang pakar dalam berkomunikasi dan melobi berbagai macam negara. Kiprah beliau begitu besar dalam membangun hubungan luar negeri dengan negara lain.

Kehadiran Jong Islamietend Bond (Perhimpunan Pemuda Islam)pun tak lepas dari kontribusi seorang H. Agus Salim. Jong Islamietend Bond pada akhirnya berkembang menjadi sebuah organisasi pemuda Islam yang banyak mencetak bibit unggul dalam pergerakan Indonesia. Organisasi itu tercatat pernah diikuti oleh Natsir dan juga Fachroedin Al Kahiri.

Satu lagi yang perlu diketahui, ternyata darah priyayi pun mengalir dalam tubuh H. Agus Salim. Ayah Salim bernama Sutan Muhammad Salim, seorang jaksa yang bekerja di Riau. Sementara itu, ibu Agus Salim bernama Siti Zainab. Dalam darah Salim mengalir keturunan ulama besar. Pamanannya, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi,adalah ulama asal Sumatera Barat yang cukup dikenal di Makkah dan memiliki banyak murid. K.H Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyahmerupakan salah satu murid Syaikh Ahmad Khatib.

Kemampuan dalam organisasi yang mengakar dalam kepribadian Salim tidak diragukan lagi. Bersama HOS Cokroaminito yang aktif di Sarekat Islam, Agus Salim menjadi aktivis pergerakan organisasi islam  di tahun 1915. Bergabungnya Haji Agum Salim dalam barisan HOS Cokroaminoto, membuat Sarekat Islam berkembang pesat, sehingga memperoleh massa  yang cukup banyak.SI kemudian mampu bersaing dengan Budi Utomo yang berdiri lebih dulu tahun 1908.

Tak lama setelah Salim bergabung menjadi bagian dari Sarekat Islam, organisasi massa ini pecah menjadi dua. SI merah yang bernafaskan komunis dipimpin oleh Semaun yang tak lain murid Cokroaminoto dan satu lagi SI yang dipimpin Cokroaminoto dan Agus Salim. Central Sarekat Islam pun berubah nama menjadi Partai Sarekat Islam Hindia Timur pada tahun 1923.

Agus Salim berkontribusi besar dan berperan aktif dalam berbagai kongres umat Islam  yang diadakan diberbagai daerah. Dalam Kongres Al-Islam yang digelar 24-26 Desember 1924 di Surabaya, Salim memaparkan ide dan gagasannya terkait Khilafah Islamiyah. Salim menyatakan“Bahwa nasionalisme berdasarkan Islam adalah memajukan negeri dan bangsa berdasarkan cita-cita Islam. Pemikiran ini sejalan dengan Tuan Ahmad Hasan (tokoh besar PERSIS) yang juga guru besar bagi Natsir. Tak heran, pemikiran Natsir yang senantiasa berlandaskan Islam tak lepas dari campur tangan kedua Gurunya; Haji Agus Salim dan Tuan Ahmad Hasan.

Setelah era kemerdekaan, Haji Agus Salim memiliki andil besar dalam melobi negara lain untuk segera mengakui kemerdekaan Indonesia. Menjabat sebagai Menteri Muda Luar Negeri semakin mengukuhkan peran beliau sebagai sang diplomat ulung. Kepiawaannya dalam berdiplomasi membuatnya disegani di dunia Internasioanl. Haji Agus Salim tercatat pernah menyambangi Mesir dan duduk berdampingan dengan Hasan Al-Banna dengan tujuan agar Mesir bersedia mengakui kemerdekaan Indonesia sebagai salah satu negara pertama yang mengakui kemerdakaan Indonesia. Tak hanya Mesir yang beliau sambangi, namun juga Palestina. Tercatat dalam sejarah, kedua negara inilah yang mengakui kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya.

*Diadaptasi dari buku Belajar Dari Partai Masyumi

Kontributor : Dina Fauziah (Sekretaris Umum KAMMI Komisariat Madani 2013/2014)

Editor : Nur Afilin

 

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top