Wednesday , 17 January 2018
update
Hakikat Intelektualisme Kita! (Bagian 1)

Hakikat Intelektualisme Kita! (Bagian 1)

Di kala Rasionalitas dan Agamamu jadi Arogan!

Mungkin hari ini adalah waktu yang tepat untuk memperbincangkan kembali apa yang terjadi di masa lalu. Ditengah gemuruhnya penghambaan terhadap berbagai macam konsepsi feminisme, liberalisme, komunisme, modernis dan post-modernisme yang dianut oleh kalangan muda telah membuat mereka menafikkan keber-Tuhan-an dan keber-Islam-an. Tidak dipungkiri, bahwa hal itu terjadi dikarenakan berbagai macam ideologi yang berkembang tersebut muncul dari semangat pembebasan dari keagamaan yang selama ini justru menindas mereka.

Hal ini senada dengan George Balandes yang mengatakan bahwa dalam hubungannya dengan politik, agama mempunyai dua sisi yang kontradiktif. Pada sisi yang pertama, agama dijadikan sumber bagi terbentuknya institusi yang menciptakan berbagai tata-aturan, sedang pada sisi yang kedua ia dapat dijadikan legitimasi tindakan.

Lebih jauh lagi, Karl Marx menyatakan bahwa agama adalah candu. Agama adalah suatu sistem, keyakinan, dan tata ketuhanan yang diciptakan oleh kaum borjuis untuk mengendalikan kaum proletar. Atas nama spirit ‘ketuhanan’, kaum borjuis berkehendak sesuka hati untuk mengeksploitasi kaum proletar. Hal ini justru berkebalikan dengan Neitzsche yang menganggap bahwa agama diciptakan oleh kelas proletar dalam rangka untuk memberikan spirit ketabahan atas penderitaan yang dialami oleh mereka selama ini. ‘Tuhan’ pun menjadi pegangan penderitaan bagi kaum proletar. Wajarlah jikalau Friedrich Nietzsche menganggap bahwa “Tuhan telah mati”, sebab dengan adanya Tuhan, justru masyarakat merasa nyaman dengan penderitaan dan kemiskinannya.

Namun, apakah pernyataan Nietzsche tersebut tidak menjadi kontradiktif, -sebagaimana diterangkan oleh Murthahari- ketika justru Nietzsche sendirilah yang menyarankan bahwa sudah saatnya kaum miskin diberanguskan, mereka adalah orang-orang yang tidak layak untuk hidup di dunia dan menjadi beban bagi negara.

Pertanyaannya adalah, lalu agama manakah yang dimaksud dalam rekam jejak Karl Marx dan Friedrich Nietzsche? Untuk membicarakan perihal ini, perlu kiranya kita untuk membuka kembali sejarah keagamaan Barat –yang menjadi ketakutan mereka- dimasa lalu.

Eirich Fromm menjelaskan bahwa dalam babak pertama evolusi agama di Barat, Tuhan digambarkan sebagai penguasa mutlak. Dia yang menciptakan alam dan manusia, dan jika Dia tidak menyukai mereka, Dia bisa menghancurkan apa yang telah Dia ciptakan. Tapi kekuasaan mutlak Tuhan atas manusia ini diimbangi oleh ide bahwa manusia adalah saingan Tuhan yang potensial. Manusia bisa menjadi Tuhan hanya jika dia bisa makan dari pohon pengetahuan dan buah dari pohon kehidupan. Selanjutnya, dengan adanya kewenangan mengubah Perjanjian lama menuju Perjanjian baru yang mengatas namakan “ketuhanan” oleh sang editor Alkitab untuk menempatkan manusia ke arah yang lebih maju, yaitu dengan menjadikan Tuhan sebagai dzat yang berhenti menjadi penguasa mutlak. Tuhan berubah dari yang “mutlak” menjadi monarki (konstitusional). Tuhan telah kehilangan kebebasan untuk bertindak secara sewenang-wenang, dan manusia mendapat kebebasan untuk menentang Tuhan atas nama janji Tuhan sendiri. Manusia diberikan kebebasan yang sempurna oleh Tuhan, bahkan kebebasan dari Tuhan itu sendiri. Disinilah letaknya, versi Alkitab digunakan untuk menyokong ide baru atau hukum agama, hal itu kerap dikutip keluar konteks, dan interpretasi digunakan padanya seringkali melenceng jauh dari arti sebenarnya. Bahkan, pada saat terjadi distorsi, umumnya Alkitab lebih banyak menampung versi kepentingan kelompok tertentu dengan dalih “kebergunaan” ketimbang tafsir dari konteks yang terjadi secara keseluruhan.

Pertanyaannya adalah, mengapa perubahan radikal terhadap konsep ketuhanan Barat itu terjadi? Jonathan Lyons mengemukakan tentang salah satu kemunduran masyarakat Eropa pada masa lalu justru dikarenakan oleh kehendak pemuka agama yang mereka anut itu sendiri. Tindak kekerasan, peran gereja dalam memberanguskan kemajuan akal pikiran ‘untuk berpikir kritis dan ilmiah terhadap ajaran agama’ masyarakat Eropa pun terus terjadi. Perihal tersebut dilakukan atas nama Alkitab, atas nama otoritas Gereja. Tak pelak, sebagian para pemuka agama justru menganjurkan tindak kekerasan terhadap para penyebar ilmu yang tidak sesuai dengan kepentingan keilmuan gereja.

Anna Comnena seakan menggambarkan masyarakat Eropa pada masa itu, selain ditimpa kebodohan –karena diberanguskannya tradisi berpikir kritis dan pendidikan-, mereka adalah orang-orang yang hanya mengandalkan fanatisme, mereka kotor, kurang makan, sakit, dan kelelahan- . Anna Comnena mengungkapkan “situasi saat itu lebih parah dan mengerikan daripada wabah kelaparan.”

Ketika Kita Lupa akan Sejarah Masa Lalu

Di saat keterpurukan seperti itulah, Adelard, salah seorang pemuda yang berasal dari Inggris berhijrah dari Eropa untuk menelusuri dunia Arab, berpindah dari satu kota ke kota yang lainnya, hingga ia pun takjub dengan dunia Arab pada saat itu. Hingga akhirnya, disanalah dia menemukan rahasia zaman yang terkubur selama enam abad di balik kekacauan yang timbul oleh dunia Kristen Barat. Pengelana Inggris ini segera memahami kekuatan pengetahuan Arab untuk mengubah dunia yang dia kenal selama ini.  Dengan pengetahuan yang berasal dari masyarakat Muslimlah yang diperjuangkan oleh Adelard dari Bath, telah mengubah lanskap intelektual Eropa. Jangkauannya meluas hingga abad ke-16 dan seterusnya, mendasari karya terobosan Copernicus dan Galileo. Ibnu Rusyd, seorang filsuf Muslim dari Spanyol untuk pertama kalinya memperkenalkan pemikiran rasionalis kepada Eropa Barat. Canon of Medicine (Al-Qanun fi At-Tibb) karya Ibnu Sina menjadi teks standar di Eropa hingga tahun 1600-an.

Sebagaimana diungkapkan oleh Jonathan Lyons, melalui kehadiran perkembangan ilmu –baik sains maupun filsafat- yang dikembangkan oleh kalangan muslim inilah, telah berhasil mengubah Barat yang terbelakang menjadi penguasa sains dan teknologi. Laksana “eliksir” –dari kata al-iksir dikalangan ahli kimia saat itu- yang bisa mengubah logam dasar menjadi emas, diakui atau tidak sains Arab telah sangat mengubah Kristen abad pertengahan. Untuk pertama kalinya setelah berabad-abad, Eropa akhirnya membuka mata pada dunia di sekitarnya. Perjumpaan dengan sains Arab ini bahkan menghidupkan kembali ilmu mengenali waktu yang lenyap di kalangan Kristen Barat pada awal Abad Pertengahan.

Dikala Sejarah Dunia yang “Disamakan”

               Dari perihal diatas, maka timbullah pertanyaan selanjutnya, apakah setiap sejarah agama sama sebagaimana yang dipandang oleh Karl Marx, David Hume, Auguste Comte, Friedrich Neitzsche, dsb?

Tentu, seharusnya dunia ilmiah masa kini mampu menerangkan wilayah objektivitasnya diatas prinsip ilmu yang subjektif. Dunia ilmiah masa kini menjadi semakin rancu, ketika sebuah sejarah dan pandangan keagamaan yang terjadi di Barat harus disamakan dalam memandang sejarah dan pandangan keagamaan yang terjadi di seantero dunia yang lainnya. Atas nama otoritas ilmu, kita bebas berkehendak untuk seakan-akan mencoba menyamakan pandangan sejarah keagaamaan yang sama, namun sejatinya amatlah berbeda. Mereka lupa, bahwa bangunan keilmuan dunia Arab yang menjadi inspirasi mereka justru bermula dari spirit keagamaan dalam Islam.

Sejarah keagamaan yang menindas di Barat telah menjadi “traumatik” tersendiri bagi masyarakat Barat itu sendiri. Perkembangan sains Islam yang berkembang di Barat telah membukakan mata mereka untuk mencapai kemajuan mereka, membuka pikiran mereka untuk berkehendak terhadap sesuatu hingga terjadilah revolusi pemikiran yang menentang otoritas keagamaan yang terjadi pada Renaissance, yang berarti ‘dilahirkan’, tentu mencerminkan iklim intelektual pada masa di mana orang Barat merasa dirinya dilahirkan ke dunia baru dengan kemungkinan-kemungkinan baru; suatu kesadaran baru akan kekuatan dan potensinya.

S.M.N Al Attas menyatakan, jikalau Renaissance dilahirkan, maka englightenment bagi orang Barat merujuk pada proses ‘pendewasaan’ yang menganggap manusia bisa memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Setelah pemikiran Kant di abad ke-18, metafisika dalam dunia Barat hanya dianggap sebagai penuntun yang tidak diperlukan lagi dan menipu dalam mencapai realitas dan kebenaran, sehingga harus ditinggalkan oleh manusia yang rasional dan berfikir.

Atas dasar kebencian terhadap agama yang pernah menistakan mereka, mereka pun , menistakan kebenaran agama yang haq, atau jikalau tidak menistakan agama lamanya, yang mereka lakukan adalah dengan cara mengkonstruksi pedoman agama mereka sendiri untuk disesuaikan dengan kepentingan-kepentingan ekonomi-politik mereka itu sendiri.  Hal ini senada dengan William James yang berpendapat bahwa hakikat kewujudan Tuhan sebagai satu aspek ajaran agama tidaklah penting; sebab yang terpenting adalah jikalau kepercayaan tersebut boleh memberikan kesejahteraan kepada orang yang mempercayainya. Perihal ini pula lah yang menjadi kegelisahan E.L. Mascall yang menyatakan bahwa bukannya dunia yang diubah oleh Kristian, tetapi Kristianlah yang diubah oleh dunia.

Kehidupan tradisi ilmu Barat pun memiliki kesamaan dengan tradisi kehidupan Yahudi. Abba Eban menggambarkan; mereka menghayati suatu kegairahan mencari makna “passion for meaning” yang telah membuat mereka berusaha mengarungi segala kesusahan sepanjang sejarah, dan mereka pun memberikan keutamaan terhadap ilmu yang menegasikan relasinya dengan Tuhan, yang mampu membebaskan diri daripada kemelaratan dan penindasan.

Kehidupan pun semakin pragmatis, semangat terhadap kemajuan hanyalah yang dimaksud untuk mencapai kemajuan ditentukan dengan kepemilikan terhadap suatu benda, alat produksi, atau pun kekayaan terhadap individu. Ilmu untuk kesejahteraan individu!. Kemenangan ruhaniah bagi mereka adalah ketika mereka memenangkan kekayaan jasmaniahnya. Perihal inilah yang dijadikan konsepsi oleh Max Weber sebagai “The Capitalism and Protestant Ethic”. Sedangkan Eirich Fromm lebih menekankan bahwa sesungguhnya Barat memiliki dua agama, yang pertama ialah agama formal, yaitu Kristen atau pun Yahudi, yang kedua adalah “agama rahasia” yaitu agama kapitalisme itu sendiri.

Sebagai penutup, menarik kiranya kita menoleh Murtadha Murthahari yang menggambarkan bahwa persepsi Barat terhadap apa-apa yang kita sebut sebagai prinsip-prinsip kemanusiaan, kemuliaan, dan kehormatan manusia, semuanya adalah omong kosong. Akan tetapi mereka menambahkan bahwa terdapat nilai-nilai yang bersifat ilusi, yang jika diterima akan memberikan manfaat kepada manusia. Tetapi jika tidak memberikan manfaat, ia tidak berarti apa-apa. Mereka melihat bahwa kekayaan dunia, tampan, memiliki banyak uang, adalah kekayaan yang abadi, yang mampu membahagiakan dirinya sendiri, maka sifat kehewanannya pun muncul untuk tiada pernah puas mencari kekayaan, sebagaimana yang digambarkan Georg Simmel, uang yang awalnya hanyalah sebatas alat untuk transaksi, namun kini ia menjadi tujuan untuk dicari, dan diperhambakan, akan tetapi ia lupa, bahwa dibalik kekayaan materil itu ada hal yang jauh lebih penting, yaitu kekayaan mata batin dan fitrah kita sendiri.

 

Nuun.. Wal Qolami Wamaa Yasturuun..

Penulis : Fachri Aidulsyah (Penerima Beastudi Aktivis Bakti Nusa Angkatan 4 Dompet Dhuafa)
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top