Wednesday , 14 November 2018
update
Hamka, Mutiara Perjuangan dan Keteladanan Hidup

Hamka, Mutiara Perjuangan dan Keteladanan Hidup

ayah

Judul buku          : Ayah… Kisah Buya Hamka
Penulis                 : Irfan Hamka
Penerbit              : Republika Penerbit
Tahun terbit       : Mei, 2013
Tebal buku          : 320 halaman
ISBN                      : 978-602-8997-71-3

”Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ”mati”, sebab dia bukan orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mampunyai cita-cita, lain dari pada kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat. Dia  bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup.” (Hamka)

Buku ini adalah buah hasil dari kasih sayang dan keteguhan jiwa seorang Hamka yang diteladani oleh anak kandungnya sendiri. Buah cintanya telah menjadi kobaran api semangat  perjuangan yang mengokohkan hati Irfan Hamka untuk menuliskan berbagai macam kenangan dan pengalaman cintanya bersama seorang Ayah yang begitu berarti bagi kehidupan diri dan keluarganya, yaitu Buya Hamka.

Sebagaimana kita ketahui, Buya Hamka adalah sebuah nama dengan berjuta catatan sejarah yang menorehkan risalah perjuangan Bangsa ini. Ia adalah salah seorang ulama besar yang pernah lahir di Indonesia dan menjadi bagian dari catatan penting perjuangan seorang muslim dalam melawan penjajahan Belanda, saat kemerdekaan, maupun paska kemerdekaan bangsa ini.

Sebagaimana kita ketahui, ia adalah seorang ulama yang sangat toleran terhadap sesama manusia, namun sangat teguh ketika berbicara menyangkut aqidah. Salah satu peristiwa yang paling penting adalah ketika beliau menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama. Dengan berani ia mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam merayakan Natal Bersama. Akibat fatwa tersebut, akhirnya beliau memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Ketua Umum MUI karena tidak sejalan dengan pemerintah yang memintanya untuk mencabut fatwa tersebut.

Dalam buku tersebut juga dikisahkan tentang bagaimana seorang Hamka di fitnah secara sistemik oleh surat kabar Pro-PKI yang didalangi oleh Pramoedya Ananta Toer seperti Bintang Timur atas tuduhan terlibat dalam komplotan yang berencana membunuh Soekarno dan Menteri Agama Syaifuddin Zuhri. Akibat tuduhan tersebut, Hamka dijebloskan ke dalam sel tahanan secara paksa –tanpa ada bukti dan pengadilan- selama 2 tahun 4 bulan. Namun, di dalam penjara itulah akhirnya ia menciptakan karya masterpiece-nya yang hingga kini banyak dikagumi oleh umat Islam, yaitu Tafsir Al-Azhar.

Dalam kata pengantar buku tersebut, Taufik Ismail menggambarkan tentang sebuah peristiwa yang menggetarkan jiwanya. Ketika itu Hamka berceramah di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tahun 1969, ia ditanya oleh salah seorang jama’ah tentang dua hal, yang salah satunya adalah; tentang bagaimana sikapnya terhadap Pramoedya Ananta Toer yang telah menghancurkan nama baiknya beberapa tahun di Lentera /Bintang Timur hingga menyebabkan ia dijebloskan kedalam sel tahanan. Dengan sangat bijak, Hamka menyatakan bahwa peristiwa tersebut dan berbagai macam aktor yang terlibat didalamnya, sudah beliau maafkan.

Sungguh, ketika itu para hadirin di Teater TIM terdiam hening, mendengarkan pernyataan seorang Hamka yang ternyata telah membuat para hadirin banyak yang menitikkan air mata lantaran kelembutan hatinya dalam memaafkan orang lain.

Mari Belajar Keteladanan pada Hamka

Jika kita ingin mengetahui mengapa ia bisa menjadi orang yang sangat berpengaruh dan ternama dikemudian hari, maka marilah kita melihat risalah perjuangan kehidupannya. Begitu pun ketika kita ingin melihat ke-ulama-an dan inspirasi perjuangan seorang Hamka, marilah kita melihat biografi kehidupannya hingga menyebabkan ia menjadi orang yang berpengaruh terhadap ke-Indonesia-an hingga hari ini.

Sejak kecil, Hamka adalah orang yang suka membaca buku. Ketika di Padang Panjang dibuka Taman Bacaan, setiap hari sepulang sekolah diniyah, mulai pukul 10 pagi hingga pukul 1 siang Hamka selalu menghabiskannya untuk membaca beragam buku di Taman Bacaan tersebut. Ketika berusia 13-14 tahun, Hamka telah membaca buku-buku tentang pemikiran Djamaluddin Al-Afgani, Muhammad Abduh, HOS Tjokroaminoto, KH. Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusumo, H. Fachruddin, dan lain-lain. Di usia muda itulah, Hamka sudah menajamkan pikirannya tentang berbagai macam risalah pergerakan Islam.

Di usia 15 tahun, Hamka merantau ke Pulau Jawa dalam rangka belajar dengan berbagai macam tokoh-tokoh ternama pada zaman itu. Selama di Jawa, Hamka belajar berbagai macam ilmu sosial maupun agama pada HOS Tjokroaminoto, H. Fachruddin, R. M. Soeryopranoto, maupun Ki Bagus Hadikusumo. Karena kehausannya dalam mencari ilmu, beberapa tahun setelah meninggalkan Jawa akhirnya dengan tekad yang kuat ia putuskan untuk menimba ilmu agama lebih dalam lagi di Kota Mekkah. Ketika sesampainya di Mekkah, Hamka merasakan penderitaan yang sangat pahit lantaran untuk memenuhi biaya hidupnya di sana, Hamka terpaksa bekerja di sebuah percetakan. Di dalam gudang percetakan tersebut terdapat puluhan buku-buku agama. Di sela-sela pekerjaannya dari pagi hingga sore, Hamka memanfaatkan waktu istirahatnya untuk membaca beragam buku agama. Mulai dari pelajaran tauhid, filsafat, tasawwuf, sirah, dan banyak lainnya. Ketika itu usianya belum lagi berumur 18 tahun.

Masa muda Hamka bukan dihabiskan oleh Hamka dalam menuntut ilmu yang memperkukuhkan keimanannya. Dalam Islam, keimanan bukan hanya sebatas keyakinan kepada Allah subhanahu wata’ala, melainkan juga memberikan kebermanfaatan kepada seluruh umat manusia dalam rangka menyerukan ketaatan dan beribadah kepada Allah.

Dari semangat inilah, Hamka bukan hanya sebatas menjadi seorang ulama besar yang hanya sebatas melakukan ceramah dari satu tempat ke tempat yang lainnya, melainkan juga ikut terjun dalam aktivitas pergerakan, melakukan perjuangan melawan segala macam penjajahan yang ketika itu tengah menindas rakyat. Pada umur 40 tahun, Hamka menjadi pimpinan Front Pertahanan Nasional (FPN) yang melakukan berbagai macam gerilya di daerah Sumatera melawan agresi ke-2 Belanda pada tahun 1948. Ketika itu, Hamka melakukan berbagai macam perlawanan dengan berjalan kaki dari satu daerah ke daerah lain, dari satu gunung ke gunung lain dengan berbagai macam perlengkapan seadanya. Ia merelakan meninggalkan anak dan istrinya selama bergerilya, namun disetiap kesempatan luang ia pun selalu menyempatkan untuk menjenguk dan memindahkan mereka di tempat yang aman.

Masih banyak sekali kisah tentang keteladanan seorang Hamka yang ditorehkan oleh anaknya sendiri baik dalam keteladanan akhlaknya yang begitu memuliakan sesama, bahkan binatang dan tumbuhan pun dimuliakan olehnya. Kerap memberikan kisah tersendiri tentang bagaimana Si Kuning (nama kucing kesayangan Hamka) yang selalu menemani perjalanan dakwah Hamka selama hampir 25 tahun lamanya hingga Hamka wafat. Keteguhannya dalam mempertahankan aqidah, kedekatannya dengan Al-Qur’an yang selalu ia baca sebelum tidur sejak muda hingga ia tua renta telah meneguhkan jiwa dan raganya untuk selalu mengoptimalisasikan diri mencari keridhoan Allah baik dalam hal ketaatan maupun dalam hal perjuangan tanpa pernah mengenal batas usia, tanpa pernah mengenal kita masih “muda” atau sudah “tua renta”.

“Saya lebih mantap mengirim calon menantuku untuk diislamkan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik.” Pramoedya Ananta Toer

 

Peresensi: Fachri Aidulsyah, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Pegiat Gerakan Indonesia Berdaulat!
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top