Tuesday , 16 October 2018
update
Hatta : Jejak Melampaui Zaman (2)

Hatta : Jejak Melampaui Zaman (2)

HATTA : Membaca, Menulis, Diskusi

Bung Hatta mempunyai peran besar dalam menanamkan bibit persatuan melalui tulisan-tulisannya yang menjadi referensi para pemuda, terutama Manifesto Poltik 1925. Beliau jugalah yang menjadi rekan diskusi Mohammad Yamin saat di Jong Sumatranen Bond dan yang menyetujui Sunario Sastrowardoyo sebagai ketua Kongres Pemuda II 1928 yang mencetuskan Sumpah Pemuda. Sebagai tokoh yang dikenal sebagai seorang yang sangat mencintai buku dan mempunyai kebiasaan membaca yang kuat, BungHatta dapat menjadi titik refleksi tentang roh membaca buku yang sejati.

Bung Hatta adalah seorang pecinta buku yang sejati. Sejak kecil Bung Hatta tidak pernah dapat dilepaskan dari buku, tiada hari tanpa membaca. Bahkan ketika ia diasingkan oleh Belanda, buku selalu menjadi perhatiannya. Ketika ia diasingkan, ia selalu membawa koper yang berisi buku-buku. Dalam sehari Bung Hatta menghabiskan waktu dengan buku antara 6 sampai 8 jam sehari. Ketika di pengasingan, Bung Hatta memiliki waktu lebih leluasa untuk melahab buku-buku koleksinya. Pun setelah beliau berhenti sebagai wakil presiden, BungHatta semakin mencintai hari-harinya bersama buku-buku.Ada satu cerita yang menunjukkan betapa dekatnya Bung Hatta dengan buku. Ketikamenikah, Bung Hatta menjadikan buku yang ditulisnya saat di pengasingan sebagai maskawin. Sempat ibunda Bung Hatta gusar karena Bung Hatta memberikan buku karangannya itu untuk Sang Istri. Bung Hatta tetap pada pendiriannya, akhirnya buku berjudul Alam Pikiran Yunaniitu menjadi mas kawin pernikahan Bung Hatta kepada Rahmi Rachim.

Yang penting disimak dari kebiasaan membaca Bung Hatta adalah bagaimana kebiasaan itu membentuk karakteristik perjuangan yang terus diyakininya, sebelum dan setelah Indonesia merdeka. Karakter perjuangan Bung Hatta adalah dengan mendorong terbentuknya generasi terpelajar yang mampu menghadirkan organisasi perjuangan dan serangan intelektual terhadap rezim penindas. Melalui organisasi pergerakannya, PendidikanNasional Indonesia, Bung Hatta mengarahkan para kader pada analisa serta memecahkan masalah nyata. Para kader Pendidikan Nasional Indonesia pun dianjurkan membaca bacaanwajib seperti buku Indonesia Vrij dan Tujuan Politik Pergerakan Nasional di Indonesia karanagan Bung Hatta sendiri, buku Indonesia Menggugat karya Bung Karno, serta majalah Daulat Rakyat.

Menurut bung Hatta dalam Memoir Mohammad Hatta menunjukkan bahwa membaca itu tidak sekedar menyerap informasi ataupun memperluas wawasan tetapi juga mendorong orang pada aksinyata. Kebiasaan membaca Bung Hatta telah membuka cakrawala berpikirnya dan pada gilirannya membentuk karakter hidup dan perjuangannya. Dengan demikian, kebiasaan membaca sungguh menjadi proses pembentukan karakter yang mewarnai pilihan hidup sehari-hari yang konkret.

Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul “Lampau dan Datang”. Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul “Menuju Negara Hukum”.

Dina Fauziah Sofian
NB : Penulis mengagumi Bung Hatta, sejak duduk di bangku SD :)

Sumber :

http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/1302-sang-proklamator
http://www.academia.edu/2241709/Menggali_Roh_Membaca_dari_Bung_Hatta
Hermien, dkk. (2010).Hatta :Jejak yang Melampaui Zaman. Gramedia:Jakarta

Leave a Reply

Scroll To Top