Wednesday , 17 January 2018
update
Ibnu Maskawih

Ibnu Maskawih

Februari 1937

Sedikit perbandingan dengan Schopenhauer – Sigmund Freud, Psychoanalyst – Instropective Method

Abu ‘Ali Al Chazin bin Muhammad bin Jacub terkenal dengan nama Ibnu Maskawih, berasal dari Persia, hidup di awal abad ke-5 Hijriah (wafat tahun 421 H). Ibnu Maskawih tadinya beragama Majusi kemudian masuk Islam.

Mazhab Aristoteles
Ibnu Maskawih termasuk salah satu dari pemikir yang memberikan jejak dalam sejarah kebudayaan. Ia mempunyai ilmu tentang kulturpurba dengan luas dan sempurna. Selain sebagai fisuf, ia juga seorang penyair masyhur.

Seperti filsuf Islam yang lain yang gemar akan filsafat Yunani, Ibnu Maskawih mempelajari mazhab Aristoteles, seperti juga mereka yang gemar akan filsafat ketasawufan (mutasawwifin) belakangan menurut mazhab Al-Ghazali dan mereka yang gemar kepada filsafat amaliah menurut mazhab Ibnu Khaldun.

Ibnu Maskawih dan Schopenhauer
Ibnu Maskawih merupakan seorang filsuf yang berjalan di atas jalan yang dipilihnya sendiri. Inti dari falsafahnya ialah hendak menggambarkan kepada manusia satu contoh hidup yang tinggi dan suci sebagai manusia dan bagaimana jalan mencapai cita-cita itu dengan amal dan pendidikan diri sendiri yang juga seperti tujuan dari filosof Schopenhauer (1788-1860) yang membentangkan buah fikirannya dalam kitabnya (yang diterjemahkan dalam bahasa Perancis) : “la sagesse de la vie” – kebijaksanaan hidup.

Psikologi, Intropeksi
Yang sangat dipentingkan oleh Ibnu Maskawih dalam filsafatnya ialah ilmu nafs atau psikologi. Sampai ke zaman Ibnu Maskawih, umum orang yang hendak mempelajari filsafat, memulai dengan ilmu mantik (logika) dan bermacam ilmu alat yang lain sebagai perkakas pencapai falsafah. Akan tetapi Ibnu Maskawih merintiskan jalan baru yang boleh dikatakan berlawanan dengan itu.

Maskawih memulai dengan menyuruh memperhatikan diri sendiri dan mendidik ruhani sendiri; membersihkan ruhani dari segala macam syahwat dan tabiat yang kurang baik. Setelah itu akan dapat menerima ilmu dan hikmah dan berdasarkan kepada ilmu tentang mengenal diri sendiri itu akan dapatlah kita meneruskan pemeriksaan kaedah dan undang-undang dunia filsafat yang lebih jauh dan lebih sulit.

Inilah cara yang dinamakanorang sekarang sebagai metode introspeksi yang rupanya sudah dijalankan oleh filsuf muslim Ibnu Maskawaih 900 tahun lalu. Mari kita dengarkan sedikit buah penanya yang penting, ringkas, dan tajam dalam bukunya “Pendidik Budi” bab “Obat Takut Mati” :

“Sesungguhnya takut mati itu tidak akan dirasa kecuali oleh orang-orang yang tak tahu arti mati yang sebernarnya dan tidak mengetahui ke mana dirinya akan pergi; dan dia menyangka apabila badannya akan hilang dan rusak pula dirinya sendiri dengan arti hilang semata-mata. Atau dia menyangka bahwa dalam mati itu ada sakit yang luar biasa yang sangat berlainan dengan sakit yang biasa dirasai hingga menyampaikannya ke lubang kubur dan menjadikan kerusakannya. Dia yang mempunyai kepercayaan akan adanya siksaan yang akan menimpanya sesudah mati; tidak mengetahui apakah yang akan dihadapinya dan dia merasa sayang meninggalkan harta benda dan hasil keringatnya. Ini semua persangkaan yang bukan pada tempatnya dan tidak ada buktinya.”

Demikianlah sedikit kutipan yang barangkali sangat modern terdengar di zaman kita ini bagi mereka yang sedang gemar menyelidiki psikologi umumnya dan bagi mereka yang sedang menelaah buku Sigmund Freud, psikoanalis yang terkenal di Weenan itu silakan juga mencari tahu seperti Tahdzinbul Akhlak, memudahkan menambah penghargaan dari kalangan muslim kepada pujangga kita zaman dulu yang sampai sekarang hanya mendapat penghargaan dari orang lain saja.
Dan mudah-mudahan akan menjadi sedikit obat penyembuh yang menyembuhkan penyakit ‘perasaan kecil’ yang melemahkan ruhani yang umum ada di kalangan muslim sekarang ini.

Dari Pedoman Masyarakat

NB : Diambil dari Bunga Rampai tulisan M. Natsir
SCE | Redaksi

Leave a Reply

Scroll To Top