Friday , 19 October 2018
update
Ibnu Sina

Ibnu Sina

ibnu sina

(980-1037 M)

FEBRUARI 1937

 Bila Al-Farabi telah meninggalkan pusaka yang tak ternilai dalam ilmu filsafat dan musik, maka Abu ‘Ali Husein bin ‘Abdullah bin Sina tidak kurang pula meninggalkan jasa yang amat besar dalam ilmu tabib dan falsafah.

 

Ibnu Sina dilahirkan pada bulan Safar tahun 370 H atau bulan Agustus tahun 980 M. dinegeri Afsyanah, yaitu negeri kecil dekat Kharmitan ( Daerah Persia yang kini menjadi Uzbekistan-ed).

Di umur 10 tahun, Ibnu Sina sudah hafal Al-Quran dan mengetahui sebagian besar dari ilmu-ilmu Islam lainnya dan ilmu nahwu. Kepintarannya sebagai anak yang masih berumur 10- 11 tahun itu sangatlah menakjubkan banyak orang.

Di rumah ayahnya, tinggallah seorang alim bernama ‘Abdullah Natila. Dari alim itulah Ibnu Sina mendapat pelajaran yang pertama tentang berbagai macam hal. Tidak berapa lama Sang Alim mengajarkan Ibnu Sina, Sang Alim menyatakan bahwa tidak ada lagi bahan ajaran yang bisa ia ajarkan kepada muridnya tersebut karena otaknya yang sangat tajam dalam mencari dan memahami sebuah ilmu. Meski pun begitu, Ibnu Sina tak puas begitu saja dengan ilmu yang dihasilkan dari Sang Alim, melainkan ia terus belajar secara mandiri dalam  memperdalam ilmu- ilmu alam, terutama ilmu fisika, ilmu logika, dan ilmu metafisika.

Setelah beberapa lama kemudian, ia pun  mulai mendalami ilmu kedokteran dengan belajar pada seorang guru yang beragama Nasrani, Isa bin Yahya namanya. Ketika ia  berusia 16-17 tahun, ia telah menjadi sosok dokter yang termasyur di berbagai macam daerah, lebih masyhur daripada sang guru, Isa bin Yahya sendiri. Ketika itu, Ibnu Sina sudah kehabisan guru yang bisa mengajarinya, lalu bagaimanakah ia akan memetik ilmu lagi?

Suatu ketika, seorang Penguasa Dinasti Samaniah dari Bukhoro yang bernama Nuh Bin Mansur sedang sakit keras. Ketika itu, tak ada satu pun dokter yang mampu mengobati penyakit yang dideritanya itu.

Lalu, pihak kerajaan memanggil Ibnu Sina yang masih berusia 17 tahun untuk membantu mengobati Sang Raja. Ternyata, penyakit Sang Raja dapat disembuhkan oleh Ibnu Sina. Pasa saat itulah, peristiwa tersebut sangat mengagumkan dokter-dokter yang lain lantaran kepandaian Ibnu Sina dalam menyembuhkan penyakit Sang Raja yang begitu sulit disembuhkan oleh mereka. Maka sebagai salah satu hadiah untuk seorang dokter muda dan tangkas ini, Sang Raja membukakan Bibliotek yang sangat luas dan lengkap itu untuknya dan diizinkannya untuk menelaah berbagai macam ilmu dengan sesuka hatinya. Disinilah Ibnu Sina melepaskan dahaganya siang dan malam, yakni dahaga mencari ilmu pengetahuan lebih jauh dan lebih dalam lagi yang kini telah terbuka jalan kemudahan baginya.

Dengan semangat kemauan yang kuat dan otak yang tajam Ibnu Sina dalam menghidupkan kegiatan belajar mengadar di Bibliotek itulah, ia telah melahirkan berbagai macam universitas dan melahirkan professor di berbagai macam bidang. Berkat keluasan ilmunya itulah, ia dijadikan sebagai seorang Alim ternama pada masanya, yang kekayaan intelektualnya diakui oleh seluruh dunia pengetahuan.

 

Otodidak

Ibnu Sina ialah salah satu contoh seorang otodidak Muslim yang sanggup meluaskan dan memperdalam pengetahuannya dengan kekuatan hati dan otaknya hingga menyebabkan dirinya tidaklah membutuhkan gelar kesarjanaan apa pun; ia mementingkan amal ketimbang hanya sebatas pujian atau gelar ijazah semata, ia lebih mementingkan memperdalami hakikat keilmuan ketimbang hanya mempercantik dirinya dengan berbagai macam gelar.

Namun malang! Sumber tempat melepaskan dahaganya, Bibliotek Amir Nur yang dikelola oleh Ibnu Sina hancur dimakan api. Mereka yang iri kepada Ibnu Sina melakukan berbagai macam fitnah yang menuduh bahwa Ibnu Sina sendirilah yang membakar bibliotek tersebut agar tidak ada satu pun orang yang mampu melebihi kepintaran Ibnu Sina. Demikianlah fitnah yang keji itu!

Meskipun seperti itu, Ibnu Sina mencoba menyemangati hati kembali untuk terus bekerja dengan giat sepenuh jiwa dan raganya, meski ketika itu ia terus difitnah secara bertubi-tubi dari berbagai macam kalangan. Karya fenomenalnya yang terpenting dari buah kerja kerasnya saat itu adalah ensiklopedia yang berjudul Kitab Asy-Syifa’ yang terdiri dari 19 jilid besar dan kini masih tersimpan satu naskah lengkap kitab tersebut di Bibliotek Oxford University.

Atas usaha Raymond Aartbischop di Toledo (1130-1150 M), karang-karangan Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dicetak berkali-kali hingga buku tersebut booming di Eropa Barat.

 

Iman dan Falsafah

Untuk menjelaskan filsafat yang dikembangkan oleh Ibnu Sina dengan lengkap, tentu akan membuat kita membahasnya sangat panjang daripada hanya sebatas satu artikel yang bersifat ikhtisar ini.

Ketika ia sedang bertemu dengan suatu masalah yang rumit, sesuatu hal yang sulit dipecahkan oleh otaknya dalam menyelesaikan masalah tersebut, kerap ia berwudhu lalu pergi ke masjid dalam rangka sembahyang dan berdo’a kepada Allah agar diberikan Hidayah untuk-Nya dalam menyelesaikan masalah tersebut. Setelah itu, ia melanjutkan penelaahan dan berpikir kembali. Ia begitu sadar akan kelemahan dirinya sebagai manusia yang memerlukan petunjuk dan hidayah Allah dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

“..Innama yakhsyallaha min ibaadihil ‘ulamaa…”. Sesungguhnya yang takut kepada Allah adalah diantara hamba-hambanya adalah ‘Ulama (orang yang memiliki ilmu)” (Q.s. Faathir: 28).

 “Aristoteles mungkin tidak akan dikenal”.

Ibnu Sina, salah seorang yang gilang gemintang bagaikan bintang gemerlapan yang memancarkan cahaya indah dilangit kebudayaan.

Betapa besar jasanya dalam memperkenalkan kebudayaan Yunani di Eropa Barat. Banggalah kiranya jika kita mendengar pernyataan Roger Bacon, seorang filsuf Eropa Barat di Abad Pertengan:

“Sebagian besar dari filsafat Aristoteles sedikitpun tidak dapat memberi pengaruh di Barat, karena karya-karyanya tersembunyi entah dimana. Dan sekiranya ditemukan, pastilah sangat sukar sekali didapatinya. Selain itu, filsafatnya sangat susah dipahami dan tidak digemari orang. Selain itu juga filsafatnya kian ditinggalkan karena terjadi peperangan-perangan yang bermarajalela disebelah Timur —sampai tibalah saatnya Ibnu Sina dan Ibn. Rusjd dan (juga pujangga Islam yang lainnya)  membangkitkan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas”.[1]

Demikianlah pernyataan penghargaan dan pengakuan yang jujur dari seorang filsuf Barat seperti Roger Bacon itu. Setelah Ibnu Sina merasa sudah saatnyalah meninggalkan dunia yang fana ini, maka ia memanfaatkan sisa umurnya dengan beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Pada usia 57 tahun, Ibnu Sina meninggal dunia tepat pada bulan Ramadhan pada tahun 428 H bersamaan dengan bulan Juli 1037 M. Ia telah meninggalkan pusakan yang sedang menantikan ahli-ahli waris keilmuannya, yakni pemuda-pemuda Islam yang menaruh himmah, yang memiliki cita-cita tinggi!

 

Dari Pedoman Masjarakat

Disunting Oleh: Fachri Aidulsyah
Editor : SCE



[1] Roger Bacon, diuraikan oleh Alfred Guillaume, cfr. “Legacy of Islam”, hal. 259.

Leave a Reply

Scroll To Top