Tuesday , 18 December 2018
update
Idolaku (1)

Idolaku (1)

“Idola saya Jend. Soedirman, Pak,” jawabku mantap.

Sontak seisi kelas tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perut masing-masing. Pasalnya, hanya Justin Bieber, Shakira, Brad Pitt , Keanu Reeves dan artis luar negeri lain yang sejak tadi disebutkan teman-temanku.

Pak Ahmad tersipu sambil berkata, “Sudah…sudah…! Kalian ini ada teman yang mengidolakan seorang pahlawan malah ditertawai. Gimana, tho? Ahmad, coba  jelaskan kepada teman-temanmu mengapa kamu mengidolakan Jend. Soedirman!”

Dengan mental diberani-beranikan kujelaskan mengapa aku mengidolakan beliau. Sejak kapan aku mulai mengidolakannya. Dan apapun yang kuketahui tentang Jend. Soedirman.

Tiba-tiba Toni, sang preman kelas, berujar, “Teman-teman. Menurut kalian pantas tidak seorang Ahmad yang kecil, pendek, dan sakit-sakitan mengidolakan seorang Jend. Soedirman? Kayak pungguk merindukan rembulan, ya? Mana mungkin dia bisa mengikuti jejak seorang jenderal besar. Paling banter jadi petugas security kampung yang tiap malam begadang keliling kampung. Betul, tidak?”

“Betuuul…!” seisi kelas mendadak mengeluarkan satu suara yang sama seperti paduan suara.

Kriiing…!

Bel sekolah menyelamatkan aku dari situasi tak menyenangkan ini.

*

Apa yang baru saja aku alami masih terus mengganggu pikiranku. Aku tak habis pikir kenapa teman-teman memandang idola hanya sebatas apa yang terkait dengan  ketenaran, kekayaan, rupa fisik, dan sebagainya. Hal itu sungguh kurang tepat menurutku.

Sesampai di rumah, kurebahkan badan sejenak. Aku kemudian makan siang bersama ibu dan adikku satu-satunya, Zahra. Ketika suapan terakhir sempurna kutelan, kulempar pertanyaan pada adikku.

“Zahra, idolamu siapa?”

Adikku yang baru beranjak ingin merapikan piring-piring pun keheranan.

“Emm…idola Zahra itu cowok ganteng yang nyanyi lagu Baby” itu, lho. Yang kemarin konser di Jakarta. Tapi, Zahra lupa namanya. Mas tau namanya, nggak?”

Masya Allah. Adikku sendiri ternyata punya konsep yang sama dengan teman-temanku tentang idola. Ada apa ini sebenarnya. Ini tidak bisa didiamkan.

“Kenapa, Mas? Ditanya kok malah diam?”

“Mas lagi capek, Dik. Mas istirahat dulu, ya?”

“Oh iya, Mas. Monggo istirahat, Mas, biar capeknya cepet ilang.”

Tubuh ini pun kurebahkan lagi di atas tikar pandan di kamarku. Lelah yang kualami sekarang sebenarnya lebih disebabkan karena pikiran, bukan lelah fisik. Aku masih belum bisa menerima persepsi yang keliru tentang idola itu.

*

Keesokan harinya di kantin sekolah.

“Ehemm…minggir-minggir ada jenderal lewat!” Toni mulai berulah lagi hari ini.

“Apa? Jenderal? Mana ada jenderal kecil, kerempeng, hidup lagi. Iya, nggak?” Bondan, si ‘asisten’ Toni ikut-ikutan menyulut emosiku.

Tawa membahana para siswa pun memadati udara kantin. Tak ada yang peduli denganku. Kucoba menguasai diri. Berurusan dengan mereka bagiku hanyalah membuang energi.

*

Jam 18.45 Pak Rasyid selesai mengajar ngaji anak-anak. Aku pun menghampiri imam mushola sekaligus ketua RT itu.

Tanpa bertele-tele aku tumpahkan segala perasaan yang terus membayangiku dua hari terakhir ini. Pak Rasyid memang seorang pendengar yang baik. Beliau tidak banyak berkomentar ketika aku bercerita. Lima menit kuhabiskan untuk menceritakan semuanya.

“Bagaimana menurut, Bapak?” tanyaku dengan nada mengharap ada masukan jalan keluar.

Pak Rasyid menghela nafas sejenak.

“Memang itulah fakta yang remaja saat ini, Nak Ahmad. Banyak di antara remaja yang salah mengambil idola. Padahal yang patut dijadikan idola adalah Rasulullah SAW. Beliaulah sosok manusia yang memang dijadikan role model oleh Allah SWT untuk kita. Namun demikian, kita juga boleh mengambil contoh atau teladan dari manusia biasa asalkan memang orang tersebut adalah orang yang baik dalam tinjauan agama kita. Sejauh yang saya ketahui, Jend. Soedirman ialah seorang yang soleh dan selalu mendirikan sholat dalam kondisi apapun, termasuk saat perang. Beliau pun rajin sekali sholat Tahajud. Jadi, sah-sah saja kalau kamu menjadikan beliau sebagai salah satu panutan.”

Kemudian, beliau menjelaskan panjang lebar tentang beberapa kisah tentang Jend. Soedirman. Ternyata Pak Rasyid tahu banyak tentang Jend. Soedirman. Aku mendapat banyak tambahan informasi yang belum kudapatkan dari Bapakku tentang gambaran watak Jend. Soedirman.

Lega benar rasanya diriku seusai mendengar pemaparan  beliau.

Adzan Isya menggema. Kami beserta jama’ah lain pun tenggelam dalam nuansa khusyu’ menghamba pada Ilahi.

(Bersambung)

Oleh: Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top