Saturday , 18 November 2017
update
Imam Al-Thabari, Bapak Ahli Tafsir yang Zuhud

Imam Al-Thabari, Bapak Ahli Tafsir yang Zuhud

Para pengkaji tafsir tentu akrab dengan kitab Tafsir Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an. Kitab ini menjadi kitab tafsir terbaik yang dikarang oleh al-Imam al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari, sang guru besar tafsir.

Metode yang digunakan dalam tafsir ini yakni tafsir bi al-ma’tsur yang maksudnya menafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an, hadits, dan ijtihad sahabat. Dalam kitab karangan al-Thabari, ia menjelaskan tentang aqidah. Misal makna istiwa dalam al-Baqarah ayat 29. Dijelaskan dengan gamblang bahwa makna istiwa adalah ‘ala wa irtafa’, yang artinya ketinggian kerajaan dan kekuasaan Allah, bukan berubahnya ketinggian atau berpindahnya ‘Arasy.

Imam al-Thabari mendapat julukan marja’ul maraji’ (induk para ahli tafsir). Selain sebagai mufasir, al-Thabari juga seorang fuqaha. Kitab fiqihnya yakni berjudul Ikhtilaf al-Fuqaha (perbedaan pendapat para ulama).

Di samping itu, Imam al-Thabari juga merupakan ahli hadits dan sejarah. Ia sering menolak hadits dengan pijakan lemah ataupun jika hadits tersebut tidak sesuai dengan tafsiran ayat yang ia tafsiri.

Dalam bidang sejarah, karyanya diabadikan melalui kitab Tarikhul Umam wal Muluk (Sejarah Umat-Umat dan Para Rajanya) dan Tarikh al-Rasul wa al-Muluk yang dikenal dengan Tarikh al-Thabari. Kitab ini menjadi kitab rujukan karena berisi sejarah peristiwa-peristiwa secara lengkap yang belum pernah ditulis sejarawan lain sebelumnya.

Kitab terkenal ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berisi tentang sejarah Arab, Parsi, Romawi sebelum Islam. Sedang di bagian kedua pasca-Islam. Kitab ini mengilhami karya Ibnu Asir, sejarawan besar setelah al-Thabari, berjudul al-Kamil fi al-Tarikh.

Kecerdasan dan kecintaan al-Thabari akan ilmu sudah nampak sejak ia kecil. Pada usianya yang 8 tahun, ia bahkan didapuk menjadi imam bagi orang dewasa di daerahnya lahir yakni Thabaristan, Parsi, atau sekarang dikenal dengan Iran. Di usia 9 tahun, ia sudah menulis banyak hadits.

Di tahun 225 H/839 M, Thabari memulai pengembaraannya mencari ilmu. Ia memulainya dari Rayy, Iran. Kemudian ke Baghdad, Iraq, untuk menemui Imam Hambali. Namun sayangnya, Imam Hambali telah wafat sebelum al-Thabari mencapai kota tersebut (241 H/855 M).

Al-Thabari melanjutkan perjalanannnya ke Wasit dan Basrah untuk mengikuti beberapa kuliah. Kemudian ia ke Kufah untuk mendalami ilmu hadits. Ia berguru pada ulama besar hadits, Muhammad bin Humaid ar-Razi. Darinya, al-Thabari mampu menulis lebih dari 100 ribu hadits. Ia juga menuliskan sejumlah hadits yang sama dari gurunya yang lain, Abu Kuwait.

Al-Thabari kembali ke Baghdad untuk belajar ilmu al-Qur’an dan fiqih, utamanya fiqih Imam Syafi’i. Di Baghdad inilah karya-karya besarnya berhasil ditelurkan. Konsistensi dan ketekunan al-Thabari akan ilmu membuahkan hasil yang hingga kini dimanfaatkan oleh dunia.

Meskipun dikenal oleh banyak orang, Thabari tetap hidup berbalut kesederhanaan. Bila musim panas tiba, ia hanya mengonsumsi kurma yang dicampur minyak. Tempat tidurnya pun hanya beralaskan kain tipis. Menjadi kebiasaan al-Thabari, usai Zuhur ia menulis hingga empat puluh halaman. Hal ini dilakukannya selama 40 tahun. Waktu Ashar ia bergegas menuju masjid untuk shalat berjamaah kemudian mengkaji al-Qur’an. Lepas shalat Maghrib, ia mengajar hingga menjelang Isya’.

Al-Thabari wafat pada tahun 310 H di Baghdad dalam usia 86 tahun.

Sumber : Majalah Suara Hidayatullah Edisi III Juli 2013
Sofistika Carevy Ediwindra

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top