Sunday , 19 August 2018
update
Ingatlah Tiga Kengerian

Ingatlah Tiga Kengerian

Segala puji bagi Dzat yang memutus perjalanan hidup setiap makhluk beryawa. Maha suci Allah yang, dengan segala kekuasaan dan ketinggian, merendahkan aneka makhluk dengan menentukan jatah hidup masing-masing. Dengan memonopoli hak keabadian, Dia menentukan kematian sebagai solusi untuk orang-orang bertakwa dan bencana bagi orang-orang durjana. Kebaikan pasti dibalas dengan surga, kejahatan niscaya diganjar dengan neraka.

Namun, manusia yang tenggelam dalam arus dunia tidak akan mengingat ajal, selain meratapi dunia dan mencela kematian. Hanya orang beriman yang selalu bertobat, kemudian gemar memperbanyak mengingat kematian. Dia begitu dicekam rasa takut kalau kematian menjemput, sementara dirinya belum memiliki bekal memadai. Itulah orang yang disebut oleh Rasulullah sebagai manusia paling cerdas.

Ibnu Majah menukil riwayat dari Ibnu Umar tentang seorang Anshar yang bertanya mengenai siapa orang yang paling cerdas dan paling mulia. Rasulullah menjawab, “Ialah orang yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan paling siap untuk menghadapinya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas. Mereka pergi membawa kemuliaan dunia dan akhirat.”

Sungguh beruntung sekali siapa saja yang masuk dalam gambaran Rasulullah itu. Kematian adalah musibah paling besar sepanjang sejarah hidup manusia. Soalnya, kematian merupakan pergantian dari suatu keadaan ke keadaan lain, perpindahan dari suatu negeri ke negeri lain. Kendati demikian, musibah yang lebih besar dari kematian ialah berpaling dari mengingat kengerian kematian. Tidak ada rasa khawatir karena menganggap kematian sebatas proses alamiah belaka.

Dalam sebuah buku berjudul “Tazkiyatun Nafs: Penyucian Jiwa dalam Islam” (2014), Dr Ahmad Farid membeberkan tiga kengerian kematian. Pertama, kengerian saat sakaratul maut. Dinyatakan, kondisi sekarat menjelang kematian lebih sakit dari ditebas dengan pedang, disabet dengan gergaji, dipotong dengan gunting.

Ketika disakiti waktu ruh masih bersatu dengan badan, orang bisa berteriak dan meminta tolong. Tetapi dalam kondisi sekarat, suara telah terputus karena rasa sakit yang sangat. Rasa sakit itu telah menyebar ke seluruh pori-pori tanpa menyisakan sedikit kekuatan untuk sambat.

Kedua, kengerian saat melihat malaikat maut. Menurut Rasulullah, ketika seorang hamba beriman terputus dari dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat yang berwajah putih seperti matahari. Mereka membawa kafan dan balsam dari surga. Mereka lalu duduk dari orang itu sejauh mata memandang. Kemudian malaikat pencabut nyawa datang dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik. Keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.”

Sementara, ketika hamba kafir meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat berwajah hitam sambil membawa kain tenun yang kasar. Lalu datang malaikat pencabut nyawa dan duduk di dekat kepalanya sambil berkata, “Wahai jiwa yang kotor. Keluarlah kamu menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.”

Ruh hamba kafir itu segera menyebar di badan. Lalu malaikat maut mencabut ruhnya sebagaimana mencabut bulu dari kulit domba basah. Ketika ruh itu dibawa ke Allah, serta-merta Allah berfirman, “Tulislah namanya dalam Sijjin di bagian bumi yang paling bawah.” Terbukalah baginya salah satu pintu neraka dan dibentangkan untuknya tilam dari neraka.

Ketiga, kengerian saat su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Inilah kengerian paling mengerikan bagi orang yang meninggal dunia. Menjelang akhir hayat, ruh telah pasrah untuk keluar dari badan. Tetapi, setiap ruh tidak akan keluar sebelum mendengar dua kabar yang disampaikan oleh malaikat pencabut nyawa, yaitu “Bergembiralah wahai wali Allah dengan surga” atau “Bergembiralah wahai musuh Allah dengan neraka.”

Momen menegangkan itulah yang membikin Abu Hurairah menangis sendu saat kematiannya tiba. “Demi Allah. Aku tidak menangis karena sedih terhadap dunia. Bukan pula karena takut berpisah dengan kalian. Tetapi, aku menunggu salah satu pembawa kabar gembira dati Tuhanku dengan surga atau neraka,” tuturnya memelas.

Ya Allah. Sadarkanlah kami dari kelalaian akibat segala tipuan dunia. Leburkanlah dosa-dosa kami dengan samudera ampunan-Mu. Berikanlah kekuatan lahir dan batin kepada kami untuk senantiasa meniti langkah-langkah kebaikan. Mudahkanlah jalan kami untuk dapat kembali bersua dengan-Mu sepenuh ridha dan Engkau ridhai. Amin.

M. Husnaini (Penulis buku Dan Allah pun Tertawa)

 

Leave a Reply

Scroll To Top