Tuesday , 18 December 2018
update
Jangan Gadaikan Muktamar KAMMI!

Jangan Gadaikan Muktamar KAMMI!

riyan new

Muktamar hampir usai. Agenda ini diwarnai dengan aneka pergolakan yang terjadi pra maupun saat pelaksanaan, menandai betapa dinamisnya organisasi ini, KAMMI. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang hingga detik tulisan ini dipublikasikan tengah mengadakan perhelatan akbarnya dalam rangka memilih pemimpin, Muktamar.

Muktamar KAMMI VIII ini tidak kosong dan sepi tanpa aral. Mulai dari pergeseran waktu dan perubahan tempat, Muktamar untuk mencari pengganti Muhammad Ilyas ini sangat hangat terasa. Beragam siar berita membumbung di udara KAMMI nusantara. Mulai dari berita ditolaknya LPJ, adanya isu ataupun fitnah tentang dana KAMMI, ataupun kabar adanya calon yang bertindak ‘aneh’ di belakang.

KAMMI adalah organisasi kepemudaan yang terbilang masih muda. Usianya yang bahkan belum menginjak 20 tahun namun ia telah menggeliat sedemikian rupa dengan aksi dan kadernya yang masif. Aksi KAMMI menggaung dan menyentuh masyarakat bukan hanya dalam tataran komisariat, daerah, wilayah, namun juga pusat (nasional). KAMMI kerap responsif terhadap perhelatan masyarakat yang muncul di sekitar. Sebut saja gerakan intelektual KAMMI; Gerakan KAMMI Mengajar, Gerakan KAMMI Menulis, hingga gerakan sosial KAMMI melalui pembinaan masyarakat ataupun KRC (KAMMI Reaksi Cepat). Ditambah lagi, jumlah kader KAMMI tersebar melimpah di banyak kampus di tanah air. Ia menjadikan bargaining position KAMMI semakin strategis di tataran negara dan bangsa.

Menjadi pemimpin nomor wahid organisasi ini tentu merupakan hal yang membanggakan. Namun demikian, KAMMI berbeda dengan organisasi lainnya. Landasan Islam sebagai sandaran utamanya menjadikan organisasi ini bukan sekadar organisasi paguyuban atau massa yang hanya mengunggulkan kuantitas kader. Visi KAMMI jelas melahirkan pemimpin Islami sebagai iron stock kepemimpinan tanah air. Dan itu KAMMI landaskan dengan Islam sebagai way of life.

KAMMI adalah miniatur negeri ini. Ia merepresentasi wujud masyarakat ibu pertiwi dari Sabang sampai Merauke. Maka menjadi pemimpin KAMMI berarti siap dengan segala heterogenitas dan dinamisasi yang KAMMI miliki. Kompetensi, ide/gagasan, aksi dan karya adalah pertarungan yang mesti diadukan. Bukan lagi politik uang yang dijadikan perwajahan utamanya.

Menjadi kader KAMMI berarti menjadi pemimpin. Dalam berpikir, bersikap, dan berlaku, terang mesti berlandas pada apa yang menjadi landasan KAMMI. Ia merdeka dalam bersikap, terutama saat menentukan pemimpin. Kader KAMMI seyogyanya menilai dan cerdas juga dalam mengambil pemimpin yang akan mengepalai gerakannya ke depan. Bukan seperti kebanyakan masyarakat kita yang notabene masih mudah tergiur dengan material dan jabatan yang ditawarkan calon terlebih sekadar uang (TIKET PESAWAT).

Muktamar KAMMI sejatinya adalah ujung tombak, sebuah awalan bagi KAMMI dalam kembali meregenerasi nafas pergerakannya. Seperti apapun dinamisasi yang muncul di perwajahan Muktamar, memiih pemimpin yang jelas adalah kepastian. Jangan sampai kita memilih “Penjahat Dakwah” sebagai pemimpin, yakni mereka yang melakukan politik transaksional sekalipun dalam gerakan dakwah KAMMI. Ajang Muktamar adalah arena pertarungan ide dan gagasan dan bukan arena pembagian uang. Memilih ketua umum KAMMI yakni lantaran kompetensi, karya, dan gagasannya untuk KAMMI. Agar KAMMI terbebas dari keterkungkungan dan kejumudan gerakan.

KAMMI mesti tampil beda dan membawa angin segar bagi kancah tanah air. Saatnya KAMMI Bangkit!

Penulis : Riyan Fajri
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top