Thursday , 21 June 2018
update
Janji Anak Kampung

Janji Anak Kampung

Sebelum fajar menyeberang dan hadir
Sebelum air embun gugur di tanah air
Sebelum udara sejuk mengawan hingga menghilang
Sebelum aku larut dan jatuh di padang ilalang..

“Hei Anak Kampung! Kenapa kau tak tepati janjimu?’
“Janji apa, Bu?”
“Janji kau akan dapat peringkat lima besar!”

***

“Nan, bangun ayo, ayah sudah menunggumu sejam yang lalu,”
“Iya Bu, sebentar lagi ya,” pintaku.
“Nanti kesiangan  lo, kalian harus ke sekolah juga,” sambil mengelus rambutku yang hitam mengkilat

Ternyata, janji keramat kami terbawa hingga jadi mimpi, Kawan. Memang keramat, lebih keramat dari pada makam di depan rumahku. Beruntung ibu membangunkanku.

Warna eloknya bak emas yang berharga. Begitu merata mergembira bersama sambil berdendang, menyayikanlagu semilir. Mengundang rekan  anginagar ikut besenandung. Indah nian padi yang tersorot warna senja mentari. Kalaukau ingin aku melupakan tanah airku, maka kau adalah orang terbodoh yang kutemui, jangan kan untuk melupakanya, ku tinggalkan pergi saja aku pikir-pikirdulu.

 ***

Minggu ini masih minggu-minggu menegangkan. Bagaimana tidak? Aku harus mendapatkan nilai maksimal untuk meraih juara lima besar. Adit, Anam, dan pak ketua sibuk masing-masing sedang mengerjakan tugasnya. Tak ada lagi kerjasama dengan Adit yang kuanggap sia-sia.

Bayangkan, waktu menunggu kehadiran  si keras kepala itu, memakan waktu dua kali lipat waktu kami belajar. Tak usah terkejut, Kawan. Kalau kau bertemu dengan si keras kepala jangan kau tegur, apalagi bermuka manis. Langsung saja berdoa semua anak cucu kalian tak  akan serupadengannya. Terutama di bagian tabiatnya.

Aku pun siap-siap berangkat ke sawah. Ya, untuk memanen padi kami. Jika dikerjakan pada siang hari, panasnya luar binasa bukan lagi biasa namun  membinasakan.

“Jam berapa sekarang, Bu?” tanyaku sambil mempersiapkan perlengkapan ke sawah.
“Pukul tiga,”
“Mana Dimas, Bu, katanya ia mau ikut ke sawah?”
“Itu di luar dengan ayahmu, dia sudah lebih dahulu bangun,” lirik ibu padaku.

Memang benar, Kawan. Selain menjadi seorang pelajar, aku juga harus membantu ayah di sawah. Tak terperikan melihatnya membanting tulang sendiri. Warna kulitnya yang gosong bak jagung bakar yang hangus karena tak diangkat saat di panggang, semakin gosong karena sengatan matahari yang tak kenal kompromi. Ditambah uban di kepalanya yang mulai menjamah ke segala penjuru menjadi pelengkap bahwa ia memang benar-benar sudah tua.

Aku selalu diajarkan oleh ayah bagaimana mengatur waktu yang baik. Agar tak kacau balau dan katanya sebagai bekal jika nanti aku sudah menjadi seorang yang sibuk.

Setelah mengaji di madrasah, tak kutunda sedetik pun untuk membuka buku. Kemudian aku istirahat pukul 22:00 dan dibangunkan ibu untuk pergi ke sawah jam 02:00. Pulang pagi-pagi sekali untuk kemudian persiapan diri ke sekolah. Aku heran. Mengapa setiap kami ujian semester bertepatan dengan panen padi? Entah karena sistem sawah irigasi yang memungkinkan pemanenan terjadi dua kali dalam setahun atau apa.

***

Pertengan Juni nanti kami akan bagi rapor. Kali ini ada yang spesial, rapor diambil oleh orang tua. Aku tak mengerti ada hal apa , Kawan. Mengapa harus wali murid yang mengambil rapor?

“Yah, minggu depan pengambilan rapor. Kali ini wali murid yang harus mengambilnya,”
“Tidak seperti biasanya, Nan?” ayah menghadapkan wajahnya padaku, hangat.
“Adnan juga tak mengerti, Yah,”
“Insya Allah nanti Ayah yang ke sekolah,” jawabnya melegakan.
“Baik, Yah,” sambutku antusias.

Kusambangi pria tua yang menggunakan kemeja putih lengan pendek itu. Ia tengah duduk tepat di kursiku saat aku sedang belajar di sekolah. Hanya wali murid saja yang boleh masuk ke dalam ruangan. Aku mengerti. Ruangan yang tak karuan itu seluas meja tenis meja. Ya,meja tenis meja. Kami akan bertarung untuk memperebutkan oksigen di sana.

Kembali kuperhatikan pria tua itu dalam-dalam. Nanpak kulitnya yang gosong dan ubannya yang tumbuh subur itu sedang memperhatikan wali kelasku. Sebaiknya kutinggalkan ia. Aku rasa jika sebatas berebut oksigen ia tak akan kalah. Sengatan matahari saja ditahannya apalagi hanya berebut oksigen.

“Dil, ayo kita duduk depan perpus saja,” ajakku kepada Adil.
“Aku ingin melihat ayahku, Nan,” pintanya.
“Baiklah,“

Perpustakan tak begitu jauh dari kelas. Tepat sekali di depannya hanya berjarak kira-kira 15 meter. Sambil menunggu ayah keluar kelas, aku mencoba mengingat-ingat janji kami kepada Bu Yani. “Lima besar, Boy”. Mantap. Sampai-sampai terbawa dalam mimpiku.

Tak berapa lama, kulihat para wali murid keluar dari tempat kutukan itu. Bak keluar dari kandang kambing yang tak pernah dibersihkan kotorannya, namun raut muka mereka terlihat cerah. Bahagia lepas dari cobaan hidup. Segera kubergegas menuju ayah. Ayah melihatku dari kejauhan. Ia tersenyum seolah berkata  dalam hatinya, “Hai Bujang, kemarilah. Ini hasil ujianmu, Anak Sawahan”.

“Bagaimana hasilnya, Yah?” tanyaku penasaran.
Ayah memberikan rapor yang berwarna hijau tua dengan tertuliskan nama panjangku di bawahnya, ‘MUHAMMAD ADNAN’, sambil tersenyum. Ketika kubuka halamannya terpampang di bagian bawah, “Juara 2 dari 35 Murid”.

 ***

Ini hadiah untukmu, Pak Tua. Kau lelaki terhebat yang kumiliki. lelaki hebat dengan tak pernah mengeluh sekalipun. Aku baru bisa memberikan ini wahai Ayahanda. Anakmu akan terus mencoba memberikan yang terbaik untukmu. Kuputarkan puisi untuknya

jika kau berlabuh di bumi yang gersang
Tanpa menemukan kehidupan yang kau inginkan
Ketika kau akan mati karena terpaan kehidupan
Tanpa seorang bertanya kepadamu bagaimana keadaan
Rindu sentuhmu ayah
Karena semua kegersangan dan kesengsaraan akan habis terbuang
Saat kau tersenyum lebar..

(bersambung)

Penulis : Anton Nuari
Editor : SCE

 

Leave a Reply

Scroll To Top