Saturday , 21 October 2017
update
JERUSSALEM

JERUSSALEM

Dunia senantiasa berkabung dan marah setiap kali kebiadaan Israel berlaku, setiap nyawa dan darah anak-anak Palestina tercecer. Ribuan berita tentang Palestina menyerbu kita. Arus yang besar di mana-mana. Menggugah amarah, mencuatkan emosi. Seperti ada sebuah kesepakatan tertutup, arbitrer, dan diamini begitu saja tanpa upacara dan pertemuan. Dunia bersepakat tanpa musyawarah: Israel bedebah.

Ada banyak sarana informasi. Sms, tv, facebook, laman web, lembar koran, bahkan ceracau mulut para pendebat. Semua berada dalam oktaf yang sama. Sangat kencang, tegang, garang, dan secara kumulatif dapat disebut sebagai nada tertinggi dari yang namanya marah. Mungkin alun dan alirnya bisa berbeda. Gaya dan asalnya memang tak sama. Namun liriknya cuma satu: Israel memang bedebah.

Suatu ketika, di halaman depan harian Kompas, pada beberapa hari setelah Mavi Marmara bernasib begitu naas, terpampang sebuah coretan: ” It’s not about Christianity, nor Islam, nor Jews, but its all about Humanity”. Coretan sederhana di selembar karton, dicoret dengan spidol saja, dan diusung seorang gadis berjilbab. Sederhana. Dan nampak tak ada apa-apa. Biasa saja.

Banyak pergulatan dan ratusan tumpuk teori ketika kita menyebut dua nama nagara, Israel-Palestina. Dunia Arab yang bingung bukan kepayang, mengapa mereka tak dapat bersatu untuk menghadapi “sekadar” Israel? Padahal mereka semua Islam, padahal mereka semua Arab, dan padahal mereka semua manusia. Muncul nada frustasi. “Jika tak dapat bersatu karena Islam mari kita bersatu karena kita Arab” ujar mereka di antara semua kegagalan mengendalikan “secuil” tanah Yahudi.

Islam didudukan sebagai perkara, bukan penyelesaian. Dan penyelesaian yang ditawarkan ialah mengenyahkan Islam lalu menggantinya dengan ke-Arab-an atau kemanusiaan. Itu lebih universal, itu lebih relevan, itu lebih rasional. Ucap para penceloteh..,

Persatuan Bangsa-Bangsa, lembaga konyol yang menyerahkan veto pada negara-negara adi kuasa, tumpul tak berdaya. Sidang-sidangnya yang tak mampu menghukum para pendosa terus diusahakan di atas gagalnya perdamaian dunia.

Dan di sini, di negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar sedunia, kita (juga) latah terlalu lantang berteriak. “Ini bukan soal agama, ini soal kemanusiaan!!!”
..,
Kita masih mengenang, Rachel Corrie, perempuan penghadang tank Israel. Luka derita perempuan itu patut meneteskan penghormatan dari kita semua. Iman yang berbeda tak harus menggugurkan rasa kita padanya. Walau pada akhirnya ada batas di mana kita harus tetap berpihak pada keyakinan. Darah Corrie tak memestikan pengakuan kita pada kebenaran agama yang diyakininya. Sebab penghormatan pada mereka yang telah menjadi korban tak mengharuskan pengakuan pada keyakinan yang berbeda.
Di Palestina sana, ada orang-orang Masehi Orthodox. Merekalah yang karena persengketaan Arius dan Athanasiuss memisahkan diri dari kepausan Roma. Kerajaan Vatikan. Mereka memiliki kekristenan yang lebih “Arab” dibandingkan orang-orang yang meng-Eropa-kan Kristus secara radikal. Mereka minoritas di Gaza. Mereka sama (tersiksa dan terjajah) dengan orang-orang yang mengucap takbir di Palestina. Lalu apakah, surga pun akan mereka cecah diakhir sana?

Keselamatan dan kebenaran tak harus menjadi tanda tanya di reruntuhan air mata..,

..,
JERUSSALEM, tiga agama terlibat pengakuan kesucian di sana. Di Jerussalem, orang-orang berkhayal tentang benar dan salah. Para penceloteh berujar: “Semua menjadi bid’ah sebagaimana semua menjadi sunnah. Dan sejarah diperebutkan sebagai daging Kristus yang suci. Tuhan mana yang hakiki? agama mana yang sejati? Surga mana yang paling pasti?”
Dan di Jerussalem, pertanyaan-pertanyaan membentur debu, meletus mesiu. Jerussalem berdarah, namun siapa sanggup meraba jiwanya? Kata-kata terbang, dan kebenaran menjadi sebuah yang entah. Begitu jauh, begitu sepi. Jerussalem menawarkan keimanan, sekaligus menyediakan keraguan atas iman itu sendiri.
Dan sanggupkah manusia mengenyahkan iman demi damai Jerussalem? Atau agama tak pernah selaras dengan damai? Jerussalem ialah sebuah tawaran: agama atau damai semua manusia? Kata-kata berbondong di media masa, membaris memanggul-manggul kemanusiaan di punggung Jerussalem. Agama ditodong tanya: untuk apa ada jika hanya menghadirkan sengketa?

Jerussalem menjadi soal mereka yang salah kaprah, ambisi yang anti agama.
..,
Pada suatu ketika di Palestina sana dan di Indonesia ini, diucap takbir yang sama, tahlil yang sama dan tahmid yang sama. Sebagaimana takbir Nabi Suci Muhammad Saw. Sebagaimana tahlil Shalahuddin pemberani. Takbir dan Tahlil yang tak pernah berbeda. Melampaui masa. Melampaui peta-peta.
Kita sama dengan mereka, meyakini kerasulan Muhammad Saw, Keesaan ALLAH Swt. Kiblat kita ialah kiblat mereka. Kiblat yang sama. Kabah yang satu. Bukan karena negara, bukan karena air mata. Palestina di sana dan Indonesia di sini sama pada takbirnya, fatehahnya, dan imannya. Kita dan mereka bersujud pada Tuhan yang sama. Dengan cara yang sama. Mengikuti Rasul yang sama. Kita sama. Seiman, seagama.
Dan darah di Jerussalem kita tangisi bukan karena iman kita dikepung tanda tanya. Ini bukan tentang kemanusiaan, ini tentang agama.
Dan siapa hendak mengucap salam di Jerusalem seperti salam Umar bin Khatab, seperti salam Shalahuddin. Salam tanpa ambisi dan darah.
Hendak kah kemanusian yang mengenyahkan Tuhan memberikan salam kepadanya? Sebagai salam para penjajah yang menyerbu tanah tropis Melayu dengan jiwa Athena mereka? Athena yang menaklukkan para dewa, lalu menyerahkan segalanya pada manusia? Hendak kah salam tanpa Tuhan disampaikan pada debu-debu Jerussalem yang kerontang, tebal, dan panas?

..,

Ada satu tanya yang begitu pasrah di masa lalu:

APALAH ARTINYA ATHENA TANPA JERUSSALEM ?

 

 

Abi Subhi Fadlillah, Pegiat INSIST
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top