Wednesday , 15 August 2018
update
Jika Sebatas Level Dunia

Jika Sebatas Level Dunia

Benar kata orang, hidup memang sawang-sinawang. Kendati kebahagiaan hidup tidak diukur dari segala yang tampak oleh mata, kita kerap saja tertipu segala milik orang. Yang “orang kecil” bilang, alangkah enak menjadi “orang besar” itu, saban hari keluar kota, bahkan lintas negara, mendapat undangan ke mana-mana, mengenal dan dikenal siapa saja, selalu menjadi berita di media massa, berbicara di sini dan di sana, uang membanjir tanpa susah bekerja.

Tanpa disadari, ternyata yang “orang besar” juga bilang, alangkah nikmat menjadi “orang kecil” itu, saban hari bersama keluarga, hubungan akrab dan gayeng bersama tetangga, waktu tidak dijadwal oleh siapa saja, nyaman bekerja khusuk beribadah, aman dari sorotan media massa, bisa mendidik putra-putri setulus jiwa, hidup sederhana sepenuh bahagia.

Sudah pasti, kebahagiaan memang bukan sekadar karena harta berlimpah. Kendati demikian, tidak sedikit orang hanya mempersempit makna bahagia hanya dengan kepemilikan harta. Karena itulah, dalam sejarah, ada dua tipologi manusia kaya di dunia. Pertama, orang kaya yang menjadikan harta sebagai visi dan misi hidupnya. Kedua, orang kaya semata akibat dari kesungguhan, perjuangan, pengabdian, dan kesyukurannya kepada Tuhan.

Tipologi orang kaya yang pertama tidak kenal haram dan halal. Jiwanya lapar. Menu makanannya adalah segala yang ada di hadapan mata. Yang lain, dipaksa minggir. Jika tidak mau minggir, akan dimangsa juga. Kita mendapati orang-orang semacam itu adalah Namrud, Qarun, Firaun, Abrahah, Abu Jahal, Abu Lahab, dan semisalnya.

Tipologi orang kaya yang kedua sangat hati-hati memungut harta. Dia tegas memilah antara halal, haram, syubuhat. Akalnya cerdas. Hatinya ikhlas. Jiwanya nirmala. Badannya tangguh mengikuti ritme dunia. Kita mendapati orang-orang semacam itu adalah Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf, Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, dan para sahabat selevelnya.

Terserah kita, ingin masuk rombongan pertama atau kedua. Yang jelas, tidak sedikit dari kita yang masih terseret ke rombongan pertama. Pusing amat dengan rambu agama. Mungkin kebanyakan kita masih beragama, tetapi tidak lagi bertuhan. Kita sudah cukup bangga mencantumkan nama agama di KTP, meskipun kelakuan kita telah menginjak-injak ajaran agama. Ke mana-mana kita mengaku sebagai penganut agama, tetapi cara hidup kita selalu saja menerjang tuntunan suci agama. Lihatlah korupsi, suap, dan aneka kecurangan di mana-mana. Bukankah pelaku semua itu adalah mereka yang mengaku beragama?

Ternyata agama baru sebatas sebagai bangga-banggaan. Lebih tepatnya, seperti arloji. Fungsinya tidak lain hanya untuk aksesori belaka. Menjadikan agama hanya sebagai aksesori, menyebabkan kita minim penghayatan. Kita lupa kalau keberuntungan kerapkali datang justru ketika kita sama sekali tidak mengupayakannya. Sebaliknya, kegagalan sering bertandang ketika kita malah sangat memimpikan sesuatu sembari menafikan Tuhan.

Paling berbahaya ialah jika melambungnya level keduniaan kita tidak diikuti dengan meningkatnya maslahat kita bagi sesama. Lantas, apa yang terjadi?

Kerakusan orang kenyang lebih dahsyat bahayanya daripada kerakusan orang lapar. Kejahatan orang pandai lebih hebat mudaratnya daripada kejahatan orang bodoh. Kelicikan orang berpangkat lebih besar rusaknya daripada kelicikan orang melarat. Kekikiran orang kaya lebih parah efeknya daripada kekikiran orang papa. Kemaksiatan orang alim lebih buruk kesannya daripada kemaksiatan orang awam. Kelengahan orang waskita lebih awet sesalnya daripada kelengahan orang abai. Kebangkrutan orang besar lebih lama pulihnya daripada kebangkrutan orang kerdil.

M. Husnaini (Penulis Buku Menemukan Bahagia)

Leave a Reply

Scroll To Top