Thursday , 13 December 2018
update
Ka’bah : Spirit Kemajuan, Spirit Pembangunan

Ka’bah : Spirit Kemajuan, Spirit Pembangunan

Seringkali para pemimpin bangsa, termasuk para ilmuwan atau cendekiawannya, ketika berbicara mengenai pembangunan, selalu menjadikan atau menyebut-nyebut negara maju seperti Singapura, Amerika, Jerman, Australia, dan lain-lain sebagai contohnya. Cara seperti itu kiranya tidak terlalu salah, manakala bersedia melengkapinya dengan menyebut sejarah pembangunan umat manusia yang justru paling sukses, yaitu pembangunan manusia yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan juga Nabi Muhammad saw.

Tidak jarang orang memaknai kata pembangunan hanya pada batas-batas yang amat sederhana, misalnya hanya menyangkut aspek yang bersifat fisik. Seorang tokoh disebut sukses dalam menjalankan kepemimpinannya manakala mereka berhasil membangun jalan tol, menyelesaikan persoalan kemacetan, mengatasi banjir, perumahan kumuh, membuat jembatan, proyek lapangan kapal terbang, atau akhir-akhir ini mengisukan jalan tol di atas laut. Semua itu memang penting, tetapi aspek staregis dalam membangun manusia bukan hanya sebatas yang bersifat fisik itu.

Aspek yang justru lebih penting dalam membangun kehidupan manusia adalah yang langsung terkait manusia itu sendiri. Sekali lagi bahwa tidak berarti aspek fisik tidak penting, akan tetapi pembangunan kualitas manusianya itu sendiri jauh lebih penting dan seharusnya selalu diutamakan. Manakala kualitas manusianya telah berhasil dibangun, yaitu dari aspek keimanannya, ketaqwaannya, kecerdasannya, akhlaknya, kejujurannya, perilaku, karakternya, profesionalitasnya, maka aspek-aspek lainnya akan menyusul menjadi jauh lebih baik. Negara yang berhasil membangun manusia-manusianya menjadi unggul, maka kemudian sekedar membangun fasilitas kehidupan berupa fisik, sebagaimana disebutkan di muka, akan mudah sekali dilakukan dan berhasil.

Sebaliknya, manakala pembangunan aspek manusianya masih gagal, maka kebutuhan sederhana seperti beras, jagung, kedelai, daging, terigu, minyak, dan lain-lain masih harus impor ke negara lain. Lebih jauh dari itu, akibat kegagalan membangun manusianya, tatkala harus import barang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masih beresiko, yaitu dikorup oleh oknum pejabatnya. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini, tatkala impor beras,daging, kedelai, garam, dan seterusnya masih ada oknum yang mengkorup. Bahkan, beberapa hari terakhir ini, ketika pemerintah berusaha menegakkan keadilan, ternyata justru oknum penegak hukum sendiri ketahuan memanfaatkan jabatannya, melakukan tindakan bejat, mau suap, sekedar untuk mendapatkan uang haram.

Agar tidak terjadi kesalahan fatal seperti itu, maka semestinya dalam hal membangun manusia yang bersifat strategis itu, bangsa ini seharusnya berkiblat ke Ka’bah. Sehari-hari umat Islam, tidak terkecuali para pemimpinnya yang muslim, dalam bershalat, selalu menghadap Ka’bah. Ka’bah pasti dijadikan kiblatnya. Shalat menjadi tidak sah manakala tidak berkiblat ke Ka’bah. Bahkan, tatkala menjalankan ibadah haji dan umrah, orang harus mendatangi Ka’bah. Para jama’ah haji berthawaf, mengelilingi ka’bah, ——–setidaknya 21 kali putaran, yaitu terdiri atas 7 kali puratan untuk umrah, 7 kali untuk haji, dan 7 kali lagi sebagai thawwaf wadak. Ka’bah semestinya benar-benar menjadi kiblatnya kaum muslimin secara utuh dan komprehensif.

Akan tetapi rupanya, berkiblat ke ka’bah hanya sebatas tatkala menjalankan kegiatan ritual sebagaimana disebutkan di muka. Dalam kegiatan selainnya, kaum muslimin masih lebih berkiblat ke selain ka’bah. Mereka mengidolakan Singapura, Amerika Serikat, Jerman, Perncis, Australia, Jepang, dan akhir-akhir ini ke China. Negara-negara itu dijadikan kiblat, termasuk oleh pemimpin-pemimpin Islam dalam membangun bangsanya. Akibatnya, seperti yang kita rasakan sekarang ini, terjadi korupsi, manipulasi, konflik setiap hari, saling tuduh menuduh, jatuh menjatuhkan, bahkan bunuh membunuh, dan lain-lain. Akibat selanjutnya, penjara menjadi penuh sesak sebagai buah dari mengurus manusia berkiblat ke tempat yang tidak tepat.

Mempercayai kebenaran Islam semestinya harus utuh. Demikian pula, tatkala berkiblat harus utuh dan menyeluruh pada semua aspek kehidupan. Tatkala berbicara Ka’bah sebagai kiblat umat Islam, maka harus terbayang konsep tentang tauhid yang benar, persatuan, kebersamaan, kasih sayang, bertolong menolong, saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran, dan bukan sebaliknya berusaha mengintai kesalahan orang lain. Umpama konsep berkiblat ke ka’bah itu dijalankan, maka tidak akan ada seseorang yang tertangkap basah melakukan kejahatan. Sebelum kejahatan itu terjadi atau dijalankan, seseorang yang mengetahui, akan segera mengingatkan agar yang bersangkutan tidak jadi melakukannya. Sebaliknya, bukan sebatas mengintai orang yang akan menyuap dan disuap, kemudian menangkap setelah kejahatan itu benar-benar terjadi. Islam mengajarkan agar selalu menyelamatkan saudaranya dari jurang kesalahan dan malapetaka.

Selain itu, tatkala berkiblat ke Ka’bah maka yang terbayang adalah kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya, serta Nabi Muhammad dalam menunaikan amanah membangun masyarakatnya. Kedua tokoh yang amat dicintai oleh Allah itu telah berhasil membangun umat manusia secara gemilang. Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail, membangun Ka’bah. Banyak sekali makna agung dan mulia dari bangunan ka’bah itu menyangkut nilai-nilai kemanusiaan. Demikian pula Nabi Muhammad saw., meneruskan ajaran Ibrahim, as., berhasil membangun masyarakat Madinah dan Makkah dengan hasil kemilang dalam waktu yang tidak lama. Nabi Muhammad membangun manusia secara utuh dan komprehensif, meliputi aspek spiritual, akhlak, ilmu atau intelektual, keadilan, kejujuran, dan keharusan bekerja secara shaleh atau profesional. Akhirnya, kedua Rasul itu dipandang sebagai utusan Tuhan yang sukses dalam membangun kemanusiaan. Namun, rupanya apa yang dilakukan oleh kedua Rasul itu belum dijadikan kiblat di dalam membangun bangsa. Sementara ini tampaknya, para pemimpin kita justru berkiblat ke bangsa-bangsa sebagaimana disebutkan itu, padahal mereka itu baru sukses dalam membangun aspek yang bersifat fisik semata.

Kelupaan berkiblat ke Ka’bah secara utuh dan sempurna, juga menjadikan banyak orang tatkala merumuskan konsep tentang ukuran-ukuran pemimpin ideal yang akan dipilih juga sederhana sekali. Seorang pemimpin dianggap ideal, manakala yang bersangkutan berhasil mengatasi persoalan banjir, jalan macet, memindah pasar, merenovasi perumahan kumuh, membebaskan SPP anak-anak sekolah, dan sejenisnya. Hal-hal seperti itu bukannya tidak penting. Semua itu adalah sangat penting. Akan tetapi, yang seharusnya disadari, bahwa masih ada konsep pembangunan kehidupan manusia yang ideal dan sempurna, yaitu sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad.

Membangun bangsa, yang mayoritas muslim, seharusnya berkiblat ke Ka’bah dalam pengertian yang seluas dan sedalam-dalamnya. Ka’bah tidak cukup hanya dijadikan arah dalam menjalankan shalat, tetapi juga harus dijadikan konsep dalam membangun kemanusiaan seutuhnya, yang hal itu telah diimplementasikan oleh Nabi Ibrahim as., dan penerusnya, yaitu Nabi Muhammad saw. Keduanya telah sukses dalam membangun manusia dan oleh karena itu seharusnya konsep atau pengalaman itu dijadikan kiblat. Wallahu a’lam.

Oleh Prof Imam Suprayogo, Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top