Tuesday , 22 May 2018
update
Kader Dakwah, Kader Pemimpin

Kader Dakwah, Kader Pemimpin

Menjadi sebuah kampus madani akanlah menjadi sangat utopis jika kita tidak memandangnya secara integral dan yang paling penting adalah sikap konsistensi. Yang dibutuhkan kader dakwah kampus adalah penyamaan muatan isi akan narasi-narasi besar peradaban Rabbani. Kampus madani adalah bicara soal narasi besar peradaban, bukan bicara soal warna-warna lembaga.

Menjadi lebih penting lagi dari bagaimana kita memandang secara integral, kita mampu memandang secara komperehensif semua sektoral objek dakwah. Jika kita masih terkotakkan pada kotak-kotak kecil yang semakin menyempitkan pemahaman dan menyesatkan kita, kita akan sulit menafsirkan apa sebetulnya itu kampus madani. Ingat kawan, bahwa islam itu syummul dan islam itu rahmatan lil’alamin.

Kemudian selanjutnya berkaitan dengan konsistensi. Hanya dengan narasi besar akan peradaban rabbanilah kampus madani itu akan terwujud. Pencapaian kampus madani adalah pencapaian yang jauh ke depan, bukan pencapaian parsial dan sektoral saja, serta ia memiliki syarat utamanya yakni ia mampu berkelanjutan dan dapat diwariskan ketiap generasi.

Jika kita hanya memandang kampus madani taktis dan teknis saja, niscaya hal itu belumlah tentu akan mampu sesuai dengan arus perubahan sosial dan zaman. diperlukan narasi yang mampu membaca kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang. Paska itu, turunannya adalah gerakan penyamaan visi antar lembaga ataupun lembaga dakwah fakultas. Pengibaratannya yakni, kita menyatukan balon yang berisi gas nitrogen niscaya balon itu akan terbang bahkan dengan balon yang banyak akan mampu mengangkat beban yang berat.

Biarkan saja balon itu berbeda warna, yang terpenting adalah penyamaan akan muatan isi, visi ke depan. Jika kita belumlah mampu memahami beban apa yang akan kita bawa, kemudian masih saja menceraikan diri satu dengan lainnya, niscaya beban itu akan sulit terangkat.

Hingga sampai fase ini, maka pengemasan langkah kerja taktis dan teknis haruslah mampu dikemas dengan warna yang berbeda-beda dengan nilai pesan-pesan yang universal, artinya bahwa pesan ini harus mampu diterima setiap orang.

Perubahan sosial

Terdapat satu anomali yang begitu mencolok dari yang saya amati akan perubahan atmosfir kampus saat ini umumnya di seluruh Indonesia. Katalis berupa pesatnya teknologi informasi, menjadikan kehidupan sosial kampus semakin berubah. Ia menjadi astral, samar bahkan gelap akan arah perubahannya.

Mahasiswa adalah salah satu user utama dari teknologi Informasi. Ia kalangan generasi pemuda cerdas yang akan menjadi prototype utama dari dampak langsung penggunaan teknologi informasi.

Paling tidak dampak praktisnya dari teknologi informasi adalah begitu mudahnya informasi itu di dapat oleh setiap orang yang di dalamnya berisi dengan berbagai macam konten. Selain itu, bahkan teknologi informasi mampu menghubungkan manusia dari berbagai belahan bumi dalam waktu singkat saja.

Konsekuensi yang paling logis dari hal ini adalah mahasiswa menjadi generasi serba simpel. Setiap permasalahan yang ada ataupun kebutuhan informasi akan semakin mudah didapat dan parahnya hal ini justru berdampak pada matinya daya kritis dan analisis mendalam dari mahasiswa.

Kekhawatirannya adalah hal ini akan menjadikan manusia-manusia Indonesia ke depan yang tidak akan mempunyai narasi jauh. Padahal, hanya dengan analisis yang mendalamlah pembacaan zaman itu harus dilakukan. Bahkan Rasulullah Saw haruslah berkontemplasi secara mendalam terlebih dahulu ketika wahyu pertama itu muncul ataupun perihal gerakan lain dalam dakwah beliau.

 

Anomali Mahasiswa

Mahasiswa adalah sebagai generasi pemuda yang paling diharapkan. Pada pundaknya terletak tampuk kepemimpinan bangsa ini. Kita tidak bisa membayangkan apa jadinya jika pemuda sebagai generasi penerus bangsa, pemikirannya hanyalah pada tataran praktis-pragmatis saja. Yang terjadi adalah akan adanya kebancian karakter bangsa. Bangsa ini akan muncul menjadi bangsa yang liar-liberal tidak tahu jenis kelaminnya sendiri. Jangan sampai kelemahan analisis dan daya kritis ini menjadi budaya simpel yang membuat pada mahasiswa hanyalah materil, hiburan dan penempatan posisi. Itukah mahasiswa?

Apa jadinya mahasiswa yang dibilang sebagai generasi intelektual, jika pada tataran pemikirannya sendiri saja mereka belum selesai? Hal inilah juga yang perlu dibaca oleh kader dakwah kampus. Sifat integral dan sikap konsistensi yang perlu diterapkan. Bukankah Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,” QS.13:11

Maka peradaban madani pun harus dilihat secara kenegaraan. Tidak boleh tidak, karena sebagai generasi penerus bangsa, kader dakwah kampus harus memandang dakwah kebangsaan. Ia mesti melihat perubahan moralitas secara kebangsaan, melihat kesyirikan seacara sudut pandang kebangsaan, melihat tauhid secara sudut pandang kebangsaan, bangsa Indonesia.

Jika bukan kader dakwah kampus yang menjadi pemimpin Indonesia, lalu siapa lagi orang baik yang diharapkan?

“Salam Muslim Negarawan”
Oleh : Ade Listyo
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top