Sunday , 26 October 2014
update
Kail Kehidupan Anak Kampung

Kail Kehidupan Anak Kampung

Kami berempat duduk di beranda rumah Adit. Sepulang sekolah biasanya kami berkumpul di sana. Bercanda dan menuliskan cita-cita anak kampung yang sangat sulit untuk digapai, mungkin. Sesekali kami pojokan Anam yang sibuk dengan tebunya. Terkadang pula kami merencanakan untuk pergi ke suatu tempat yang indah ketika nanti sudah beranjak dewasa.

Kami ingin sekali berjumpa di bawah Eiffel Kawan, ya, Paris, Perancis. Di sana kami akan datang malam hari. Kami tak akan pergi sebelum polisi setempat mengusir kami. Memang sedikit brutal karena kami tahu untuk pergi ke sana banyak hal yang harus dikorbankan. Hitung-hitung sebagai reuni.

Semua sudah punya cara masing-masing untuk ke sana, meski baru berupa tulisan-tulisan di buku tulis kami. Selain itu,  kami ingin keliling dunia, Kawan. Dimulai dari tanah air sendiri. Walaupun terkadang aku berpikir, keliling negeri ini sudah cukup karena kata mereka negeri kita negeri surga. Namun karena aku haus akan sebuah perjalan maka tak akan kutentukan seberapa banyak negeri yang akan kukunjungi.

“Sudah sore, sebaik kami pulang, Dit,”
“Iya Dit, aku harus membantu ayah bersih-bersih gerobak sayuran,” Adil menimpali.
“Baik Boy, hati-hati kalian semua.”

Hari minggu selalu kami nanti. Sebuah agenda yang telah disusun di rumah si keras kepala sudah terencana dengan baik. Kusiapkan perkakas untuk memancing dan bekal nasi putih serta air mineral dengan botol warna merah tua yang tutupnya menempel pada lehernya. Semuanya siap. Sudah menunggu Anam di depan rumah. Kami berdua berangkat bersama ke rumah Adit. Kemungkinan pak ketua sudah ada di sana.

Benar saja. Anggota sudah lengkap saatnya kami meluncur ke tempat tujuan. Memancing hari minggu merupakan satu hobi bersama yang sangat kental dari empat pentol korek api ini. Tujuan berikutnya adalah sungai di bawah jembatan di desa sebelah, Desa Suka Maju.

Angin menggoyangkan semua padi hijau yang sedang remaja. Semunya bak permadani yang indah, terkadang mereka bergerak ke arah kami seraya berkata, “Mari ikut bernyayi bersama”. Sekelompok bangau putih sedang berburu ikan-ikan kecil yang garis  kematiannya berada pada paruh bangau itu. Semuanya seperti menyambut kegembiraan ini. Belum lagi pelepah kelapa dan daunnya yang saling bersenggolan,  melambai serempak menunjukakn sebuah koreografi tarian yang sangat indah. Semuanya bak tontonan teater indah khas desa kami.

Tiba di tempat pemancingan, kami mencari bambu atau kayu untuk membuat semua gubuk tempat kemi berteduh. Terik matahari menerjang tak diundang. Bagian kerangka sudah dipasang. Ia hanya seluas 2m,  dan menutup atapnya dengan daun pisang. Ini sudah cukup melingdungi kami dari ancaman-ancaman tadi.

Kuletakkan semua perbekalan.Saatnya untuk mencari umpan untuk memancing. Ada yang menggunakan cacing, tempe yang digerus, atau telur serangga. Ada juga yang menggunakan kelapa muda. Sesuai dengan persepsi masing-masing mana umpan yang akan membuat air liur ikan jatuh.

Kami duduk di tepian sungai bak jamur di pinggiran kayu yang sudah lapuk.

Perut sudah tak bisa diajak bermusyawarah. Namun,  kami tetap semangat menunggu ikan pertama yang kami dapat. Pak ketua mengangkat kailnya. Dia orang pertama yang mendapatkan ikan. Kalau di desa kami ikan ini bernama wader. Warnanya silver bentuknya kecil, kira-kira sebesar tiga jari. Nah seperti ikan mas, namun ukurannya lebih kecil. Diikuti Anam dengan umpan tempe gerusnya. Anam berteriak hingga tebu di mulutnya lepas, “Boy, aku dapat!!”. Dan kemudian giliran kami berdua, aku dan Adit.

Kami merasa sudah cukup dengan ikan yang didapat. Adit membuat api di pinggir sungai dibantu Anam. Aku dan Adil membersihkan ikan yang akan kami panggang. Kami memanggang ikan yang berjumlah 12 ekor.  Artinya masing-masing dari kami mendapatkan 3 ikan. Adil mengeluarkan racikan sambel yang telah ia warisi dari ibunya. Aromanya menusuk hidung hingga membuatku bersin. Ditambah irisan jeruk nipis perut.

“Dit, bagaimana keadaan nenekmu?” tanya Adil.
“Masih saja belum membaik Boy,” jawabnya lirih.
“Semoga lekas sembuh Dit,” aku menambahkan.
“Amin, terima kasih Boy.”

Adit memang tinggal bersama nenek dan ibunya. Sedangkan ayah Adil sudah tak ada sejak ia berumur tiga tahun. Waktu itu ayahnya meninggal setelah pulang dari kebun, entah apa sebabnya. Beban  ekonomi di pundak ibunya yang berdagang. Sedangkan nenek membantu persiapan barang  yang akan dijual. Warung kecil-kecilan di dekat pasar telah menghidupi mereka bertiga bertahun lamanya. Saat nenek tak sehat seperti ini, Adit yang membantu ibunya untuk menyiapkan barang jualan. Terkadang mereka sudah bangun jam 03:00 WIB pagi-pagi buta dan ibunya pergi ke kios dekat pasar pukul 05:00 WIB pagi. Hanya jualan kue dan berbagai adonan untuk memasak telah ia siapkan.

Kami senang tak kepalang hari ini. Kami bersiap-siap pulang. Kumatikan api yang telah gunakan untuk memanggang ikan. Hujan pun turun dari atas sana. Sepertinya ia mengerti dan tak ingin menghancurkan agenda kami untuk pergi memancing bersama. Di tepi-tepi sawah, rintik hujan menyerang deras sekali. Terkadang sesekali menampar muka ini. Ia bekerja sama dengan angin dan menghantamkan tubuhnya yang kecil itu dengan sekuat-kuatnya. Rasanya perih mukaku.

Penulis : Anton Nuari
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top