Saturday , 18 November 2017
update
KAMMI Sikapi Hari Aids Sedunia

KAMMI Sikapi Hari Aids Sedunia

1 Desember, sebagai Hari AIDS sedunia masih perlu menjadi perhatian kita bersama tidak terkecuali siapa pun. Dari tahun ke tahun khususnya di Indonesia, jumlah penderita HIV/ AIDS masih menunjukan angka yang mengkhawatirkan . Berdasarkan data dari  Ditjen PP & PL Kemenkes RI, jumlah kasus baru  (per Januari-September 2014), HIV : 22.869, AIDS : 1.876, dan meninggal : 211.

Perlu diketahui bersama, penyebaran virus ini dapat terjadi oleh beberapa faktor berikut :

Sumber: Ditjen PP & PL Kemenkes RI

aids sourceIni menunjukkan faktor terbesar dari tingginya jumlah kasus HIV/ AIDS disebabkan oleh seks bebas (heteroseksual dan homo-biseksual). Akan tetapi, realita yang terjadi saat ini kekhawatiran pelaku seks bebas terhadap virus HIV/ AIDS sangat kurang. Mereka menganggap dengan memakai kondom kemungkinan terjangkit virus HIV/ AIDS tidak akan terjadi. Padahal kondom bukanlah alat andalan untuk bebas dari penularan HIV/ AIDS.

Coba kita perhatikan temuan dari Prof. Dr. dr. Dadang Hawari dalam bukunya yang berjudul “Global Effect HIV/ AIDS”  yang mengungkapkan 5 fakta bahwa kondom tidak dapat mencegah penularan HIV/ AIDS :

  1. Kondom terbuat dari bahan latex (karet). Bahan ini merupakan senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berati mempunyai serat dan berpori-pori. Di samping itu, karena proses pembuatan pabrik kondom juga memiliki lubang cacat mikroskopis atau “pinholes”.
  2. Dalam konferensi AIDS Asia Pasifik di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa pengguna kondom aman tidaklah benar. Pori-pori kondom berdiameter 1/60 mikro dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaaan meregang pori-pori tersebut mencapai 10 kali lebih besar. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom.
  3. Pernyataan dari M. Potts (1995), Presiden Family Health Internasional, salah satu pencipta kondom sebagai berikut:

“Kami tidak dapat memberitahukan kepada kalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini memakai kondom, sama saja artinya menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya”

  1. Pernyataan dari V. Cline (1995), Profesor Psikologi dari Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/ AIDS atau penyakit kelamin lainnya berarti mereka telah tersesat.
  2. Kim Barnes (2003) dari BBC London, menyatakan bahwa cara terbaik agar terhindar dari virus HIV/ AIDS adalah abstinentia, yaitu tidak melakukan hubungan seks di luar nikah.

Oleh karena itu, Bidang Perempuan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), mengajak masyarakat Indonesia untuk :

  1. Menjauhkan diri dari seks bebas dan hal-hal yang dapat mempengaruhi diri melakukannya seperti mengakses video, situs atau gambar-gambar hubungan seks.
  2. Memberikan perhatian lebih kepada anggota keluarga khususnya para remaja agar terhindar dari pergaulan yang berdampak pada tindakan seks bebas.
  3. Mendesak pemerintah untuk lebih serius lagi dalam menanggulangi HIV/ AIDS dengan :
    1. Mengontrol peredaran dan penjualan kondom yang saat ini masih mudah diakses oleh semua kalangan.
    2. Pengadaan sosialisasi mengenai bahaya seks bebas dan HIV/ AIDS ke sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan pemukiman-pemukiman secara berkala.

 

 

Jakarta, 27 November 2014

-Irma Budiarti,
Bid. Perempuan PP KAMMI-

Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top