Saturday , 24 June 2017
update
Kasih Tak Sampai Di Bawah Lindungan Ka’bah

Kasih Tak Sampai Di Bawah Lindungan Ka’bah

“Sekarang barulah saya tahu bahwa diri saya ada harganya buat hidup, sebab ada orang yang mencintai saya, yaitu orang yang saya cintai!” (Hamid, Di Bawah Lindungan Ka’bah)

Kisah Di Bawah Lindungan Ka’bah lahir pada tahun 1938 oleh tangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang masyhur dipanggil Hamka. Ia bercerita tentang sesosok tokoh bernama Hamid, pemuda tanah air yang tengah mukim di tanah suci kurang lebih setahun lamanya. Hamid menuturkan pada Hamka kisah hidupnya yang membuatnya gundah gulana tak berkesudahan.

Hamid lahir dan besar di tanah Padang dalam sebuah keluarga yang melarat. Hamid kecil sudah ditinggal ayahnya hingga hiduplah ia berdua dengan sang ibu. Mulanya keluarga Hamid kaya. Ayahnya yang pedagang tetiba jatuh dan wariskan mereka demikian. Akan tetapi, Hamid dan ibunya hidup dalam ketangguhan. Tak diajarkannya Hamid untuk mengemis. Disuntikkannya Hamid semangat untuk menempuh pendidikan sekolah meski sampai waktunya belum jua ibunya mampu sekolahkan Hamid.

Adalah Haji Ja’far, saudagar kaya yang baru datang dan mukim di daerah Hamid tinggal. Haji Ja’far dan istrinya teramat baik pada Hamid. Hamid yang kala itu menjajakan gorengan dipanggilnya oleh istri Haji Ja’far dengan iba. Tanpa bersikap merendahkan, dimintanya Hamid untuk memanggil ibunya ke rumah besar mereka. Dan jadilah ibu Hamid dan istri Haji Ja’far dua wanita yang bersahabat tulus.

Keluarga Ja’far memiliki seorang anak gadis. Zainab namanya. Oleh Haji Ja’far, Zainab disekolahkan bersamaan dengan Hamid. Tak berhingga girangnya hati Hamid dan ibunya dengan kebaikan hati keluarga itu.

Waktu demi waktu berjalan. Hamid dan Zainab dikukuhkan dengan ikatan ‘Abang dan Adik’ laiknya kakak beradik sungguhan. Mereka bermain bersama, sekolah bersama, bertengkar dan bercanda. Hingga masanya mereka beranjak dewasa. Zainab tak lagi melanjutkan sekolah dikarenakan adatnya mengharuskan ia masuk dalam masa pingitan sementara Hamid melanjutkan sekolah agama yang memang ia sangat ingini.

Kekosongan hati mulai mendesir di hati Hamid saat ia mesti berjangka dari Zainab. Sejak itu, uring-uringan bergelayut di hidupnya. Ia sadar benar akan posisinya sebagai yang lebih rendah dari keluarga Ja’far meski keluarga itu jelas tak mempermasalahkan soal kasta demikian. Ia juga merasa tak patut untuk meminta Zainab yang keluarganya sudah sedemikian berjasanya pada ia. Jadilah ia bak raga tanpa ruh memikirkan nasibnya dan apa Zainab seiya sekata akan perasaan itu.

Bencana bertubi datang di episode kehidupan keduanya berikutnya. Ayah Zainab meninggal. Menyusul kemudian ibu Hamid meninggal yang sebelumnya ibu Hamid berwasiat pada Hamid untuk membuang jauh perasaan cinta pada Zainab mumpung cinta itu belum seberapa berkobarnya. Ibu Hamid berwejangan pada Hamid agar ianya sadar diri jangan serupa kacang lupa kulitnya.

Dua kehilangan itu sedemikian beratnya bagi Hamid ditambah lagi ia diminta ibu Zainab untuk membujuk agar Zainab mau kawin dengan kemenakan keluarga mereka. Sudah jatuh bertambah lebur pula hati Hamid. Diteguhkannya dirinya untuk mengatakan kemauan istri Haji Ja’far yang jua berjasanya dalam hidup Hamid. Saat dikatakannya hal itu, Zainab luluh air matanya. Tak disangkanya Hamid memaksanya kawin layaknya ibunya.

Selepas itu tak lagi dirasa kuat Hamid pergi merantau. Dikiriminya surat perpisahan pada Zainab dan ia berpindah dari satu kota ke kota lain. Dari satu negara ke lain negara hingga berlabuh di Mekkah. Di tanah suci ini, Hamid bertemu dengan Saleh yang merupakan kawannya dari tanah air. Saleh beristrikan Rosna yang rupanya sahabat karib Zainab. Dikabarkanlah oleh Saleh bahwa ia tengah bersama Hamid di Mekkah pada istrinya. Rosna mendengar kabar itu memberitakan pada Zainab yang nyatanya ia teramat rindu dan cinta pada Hamid.

Mendengar kabar keberadaan Abang yang ternyata dikasihinya, timbullah semangat hidup pada diri Zainab yang saat itu tengah sakit. Zainab belum juga kawin lantaran ia menolak paksaan ibunya. Hamid pun girang mengetahui bahwa Zainab cinta akan dia. Namun tak berapa jua tubuhnya tak sekuat dulu. Ia amat ringkih sekarang. Pada saat rukun haji hendak diselesaikannya, tubuh Hamid bergeming. Ia ditandu untuk thawaf. Ia demikian inginnya segera menyelesaikan haji dan pulang ke tanah air. Namun apa mau dikata. Nasib tak berpihak pada dua sejoli yang terpisah itu. Rosna mengabarkan bahwa sakit Zainab kian parah dan meninggallah Zainab. Sementara itu, saat mengabarkan pada Hamid, Saleh sungguh tak tega namun tetap dikabarkannya. Mendengar harapan hidupnya tiada, Hamid lemas dan tak lagi kuat menanggung hidup. Ia pun tiada.

Kisah Di Bawah Lindungan Ka’bah sangat sederhana dan tak sepanjang novel lain yang meliku ceritanya. Ia mengisahkan tentang kasih tak sampai yang terpisah lantaran latar sosial yang berbeda maupun ketakutan untuk menyampaikan cinta. Kisah ini juga melukiskan tentang hakikat cinta bahwa kita berharga dikarenakan adanya orang yang mencintai kita.

 

Sofistika Carevy Ediwindra

One comment

Leave a Reply

Scroll To Top