Saturday , 18 November 2017
update
Keblingernya Pers Indonesia

Keblingernya Pers Indonesia

Sejarah pers di Indonesia baru dimulai pada abad ke-20 ketika R.M Tirto Adhi Surjo menerbitkan mingguan Soenda Berita pada 17 Agustus 1903. Kemudian, pada 1 Januari 1907 Tirto dkk. menerbitkan mingguan medan Prijaji yang sering mengkritik korupsi  serta pemborosan terhadap pejabat Belanda maupun pribumi. Di masa peralihan dari orde baru ke orde reformasi inilah pers memegang peran yang sangat penting, yaitu menjadi salah satu pilar perjuangan yang menumbangkan rezim orde baru. Selanjutnya, seiring berjalannya orde reformasi peran pers di Indonesia semakin vital, yakni menjadi salah satu pilar pembangunan dan demokrasi di republik ini.

Pramoedya Ananta Toer Mengatakan, “Di zaman modern ini setiap pergerakan harus memiliki media, dan setiap media mewakili watak dan karakter pergerakan yang ada dibelakangnya”. Inilah watak alamaiah pers yang akan muncul di setiap zaman, selalu mewakili pergerakan atau atau kepentingan yang ada di dalamnya. Hal ini mirip dengan lembaga-lembaga pers pribumi yang menjadi corong perlawanan rakyat terhadap pemerintah kolonial. Juga tak jauh beda dengan pers penguasa yang menjadi senjata untuk meredam gerak langkah para oposisi di zaman Orde Baru.

Hari ini, para pengusaha di negeri ini berbondong-bondong mengambil pers sebagai salah satu armada bisnisnya dan para politisi membuat pers sebagai corong pencitraan kepentingan politiknya. Dengan demikian, pers Indonesia seakan menjadi pisau bermata dua: pertama, sisi merupakan pilar demokrasi dan pembangunan, namun di sisi lain menjadi pedang yang menjaga keabsolutan power para politisi yang di back up para pengusaha. Tentu saja aroma corrupt absolutely kental sekali di sini.

Kepentingan Politisi dan Pengusaha

Kekuatan pers yang hari ini diimani sebagai salah satu pilar demokrasi merupakan alat utama para politisi sebagai pembentuk agenda (agenda setting) dalam pembentukan opini publik. Selain itu, media massa mampu menjadi tempat berdialog para politisi dengan masyarakat luas untuk transfer ide dan gagasan. Bagi penguasa, media massa merupakan bagian dari mekanisme penguasa untuk mempertahankan kedudukannya melalui keterangan-keterangan yang diungkapkan dalam media massa.

Bagi para pengusaha, industri pers hari ini adalah industri yang memiliki masa depan sangat cerah. Fungsi pers sebagai sarana pendidikan, refreshing, advertising, dan bahkan politik merupakan komoditi yang sangat menarik untuk dikelola. Selain itu, kedekatan dengan para politisi merupakan poin plus bagi para pengusaha dalam mengakses informasi, proyek, maupun keamanan dalam bisnis mereka.

Pers Indonesia Keblinger

Memaknai lagu rakyat “Gundul-Gundul Pacul”, Cak Nur pernah menyampaikan bahwa memimpin itu ibarat nyunggi wakul (mambawa bakul nasi di atas kepala). Jika kita gembelengan bermain-main, dan tidak melakukan kewajiban sebagaimana mestinya bakul nasi akan ngglempang (jatuh) dan segane dadi sak latar (amanah rakyat akan jatuh tercecer di mana-mana).

Memang demikian, sebagian besar pers Indonesia kini mulai keblinger dalam menjalankan amanahnya sebagai salah satu pilar demokrasi. Ia harus segera kembali on the track agar bakul nasi amanat rakyat yang dipercayakan pada pers tidak ngglempang ke mana-mana. Pemerintah harus segera membuat garis demarkasi yang jelas agar hubungan pegiat pers, pemilik modal, dan politisi agar tidak justru menjadi hubungan yang menyelingkuhi cita-cita perjuangan Republik Indonesia.

Arif Syaifurrisal (Pegiat KAMMI Surabaya)

Editor : Nur Afilin

 

 

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top