Wednesday , 24 October 2018
update
Kenali, Siapa Temanmu

Kenali, Siapa Temanmu

Hari itu, Abu Thalib bin Abdul Muththalib paman Rasulullah, terbaring lemah di ranjang. Aroma kematian tengah menyelimuti antero ruangan. Ada tiga orang yang menyertainya. Mereka adalah Rasulullah beserta dua tokoh kafir Mekah, Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah. Kepada paman tercinta, Rasulullah berseru, “Paman! Katakanlah bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kalimat itu akan aku jadikan bahan pembelaan bagimu di hadapan Allah.”

Spontan dua dedengkot kafir itu menimpali. “Abu Thalib! Apakah kamu membenci agama Abdul Muththalib?” Ketika Rasulullah terus menuntun Abu Thalib dengan kalimat tauhid itu, Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah juga tidak kalah keras dalam melancarkan pengaruh. Hasilnya, Abu Thalib tetap enggan mengucapkan kalimat tauhid dan memilih agama Abdul Muththalib. Dia mati dalam kekufuran.

Simaklah, betapa dahsyat pengaruh teman sebagaimana tersirat dalam kisah di atas. Pengaruh jahat orang-orang sekeliling telah berhasil menghalangi Abu Thalib untuk mengikuti jalan Islam, kendati nuraninya sendiri membenarkan ajaran keponakan yang telah dirawatnya sepenuh cinta sejak kecil itu. Lantas, salahkah kalau kita bersikap ekstra waspada dalam kaitan memilih teman?

Dari sekian manusia, kiranya hanya beberapa yang layak bergaul secara dekat dengan kita. Memilih teman bukan perkara enteng. Islam sendiri selalu memerintahkan kita untuk memilih teman terbaik sesuai kacamata agama. “Seseorang itu akan mengikuti agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karib,” demikian tutur Rasulullah sebagaimana dinukil Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad.

Faktanya, kalau membeli sendal jepit saja memilih, kenapa menentukan teman harus membabi buta. Jika pakaian harus memilih yang berkualitas bagus, pastilah tidak pantas kita memilih teman yang berkualitas buruk. Keliru dalam memilih profesi mungkin menyebabkan kedudukan kita dipandang rendah oleh manusia di dunia. Salah memilih teman bisa-bisa menjadikan nasib kita hina selamanya dalam pandangan Allah.

Apa kiranya alasan memilih teman menjadi persoalan penting? Menurut Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim, sifat manusia itu gampang terpengaruh dengan teman pergaulannya. Bahkan, manusia bisa terpengaruh dengan seekor binatang ternak. Ungkapan yang dinyatakan oleh imam Masjid Nabawi sekaligus hakim di Mahkamah Syariah Madinah itu sebetulnya penjabaran dari sabda Rasulullah dalam riwayat Bukhari Nomor 3499 dan Muslim Nomor 187, ialah “Kesombongan dan keangkuhan terdapat pada orang-orang yang meninggikan suara di kalangan penggembala onta, dan ketenangan terdapat pada penggembala kambing.”

Tergambar sudah bahwa menggembalakan onta berpengaruh terhadap timbulnya kesombongan dan keangkuhan, sementara menggembalakan kambing berpengaruh terhadap munculnya sifat tenang. Jika dengan hewan ternak yang tidak berakal saja, manusia potensial terpengaruh, lantas bagaimana pula dengan manusia yang bisa berbicara dan bersiasat untuk menjerumuskan kita demi memenuhi hawa nafsunya?

Kendati demikian, penting menjadi catatan bahwa menganjurkan mencari teman yang baik bukan berarti melarang bergaul dengan orang-orang sekitar yang rusak dan bejat. Dalam urusan terakhir ini, kita harus mampu mempertimbangkan sisi maslahat dan mudarat yang mungkin terjadi pada diri dan lingkungan sekitar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bertutur, “Jika bergaul dengan orang-orang fasik menjadikan sebab datangnya hidayah bagi mereka, maka pergaulilah. Engkau bisa mengundang mereka ke rumahmu atau kamu datang ke rumah mereka. Dengan syarat tidak mengotori kehormatan dirimu. Betapa banyak orang-orang fasik yang mendapatkan hidayah setelah berteman dengan orang-orang baik.” (Al-Ta’liq Al-Tsamin ala Syarhi Ibn Al-Utsaimin li Hilyati Thalabi Al-Ilmi).

Dengan demikian, berarti pergaulan kita dengan mereka semata untuk tujuan dakwah. Karena itu, sebelum memutuskan, pertimbangkan secara matang: adakah mereka nantinya mampu kita bimbing untuk menjadi lebih baik, atau justru kita yang akan menjadi korban pengaruh buruk teman dan lingkungan. Menarik kita camkan sebuah ungkapan mutiara dari Imam Syafi’i dalam kitab Ma’alim fi Thariqi Thalabi Al-Ilmi, “Sekiranya air dingin dapat merusak kehormatanku, niscaya aku tidak akan meminum air kecuali yang panas saja.” Ingat! Tidak ada pilihan ketiga.

M. Husnaini (Penulis buku Dan Allah pun Tertawa)

 

Leave a Reply

Scroll To Top