Wednesday , 21 November 2018
update
Kepingan Puzzle Jiwaku

Kepingan Puzzle Jiwaku

Mengajar itu seperti makan permen. Sebanyak apapun aku memakannya, aku tidak pernah merasa kenyang. Semakin lama aku mengunyahnya, semakin manis saja rasanya. Bahkan semakin
kucoba permen yang lain, semakin kurasakan sensasi berbeda tapi tetap terasa luar biasa. Ya seperti itulah rasanya diriku kala mengajar. Semakin lama aku mengajar, semakin indah saja rasanya.

Episode hariku bersama mereka selalu terasa istimewa. Bagiku, anak-anak adalah guru kehidupan. Dari mereka aku belajar tentang arti hidup, persahabatan, kerja keras, bahkan sebuah mimpi. Kepingan kehidupan mereka pun mampu menginspirasi diriku. Sekali lagi, Rasanya begitu indah, Mereka seperti mozaik kehidupan yang menjadi bagian dari puzzle jiwaku. Ingin kuceritakan tentang salah seorang muridku. Ia merupakan salah satu murid perempuan di salah satu kelas yang ku ajar. Badannya tegap dan tinggi, kulitnya sawo matang, tawanya renyah, senyumnya selalu penuh semangat, suara bass-nya yang cetar menjadi ciri perangainya yang periang. Untuk ukuran tubuh anak SMP, ia kelihatan lebih dewasa. Kesan pertama ketika bertemu dengannya adalah unik, seunik namanya Aming Shan-Shan.

Pertama kali mengajar di kelas, pertama kali yang kulihat adalah dirinya. Suara khasnya yang cetar membahana sering mengacaukan kelas, apalagi ditambah dengan hobinya menyanyi dan sikapnya
yang sedikit tomboy, urakan, cuek serta berani. Aku sering dibuatnya kalah. Semua jurus dan metode yang pernah kupelajari dalam mengelola kelas, seolah-olah tak ada yang manjur untuk menghadapi anak ini. Mungkin ini salah satu yang membuat diriku kesal padanya. Otomatis namanya pun masuk ke dalam hatiku menjadi salah satu daftar nama siswa bandel dikelas. Sejak bertemu dengannya aku sudah tertarik, entah tertarik pada sikapnya yang sering membuat diriku hilang kesabaran, atau tertarik karena ia menyimpan sesuatu yang berbeda. Rasanya seperti ada magnet yang membuat diriku ingin memperhatikannya. Aku tak tahu magnet apakah itu.

Dan kini, episode hariku mengajar selalu ada yang baru dan menarik. Pagi ini pun kumulai aktivitas mengajarku dengan semangat penuh cinta. Begitu cerah, secerah wajahku yang pagi ini akan mengantar para finalis lomba sebagai duta sekolah. Dag dig dug hati ini membayangkan anak-anak akan tampil nanti. Ah terasa istimewa. Ini pertama kalinya mereka mengikuti cabang lomba ini sejak satu setengah tahun yang lalu sekolah mereka berdiri. Meski belum terbiasa mengikuti lomba, semangat mereka tetap luar biasa. Aming Shan-Shan, menjadi bagian dari salah satu duta lomba itu. Suaranya yang khas mengantarkan ia menjadi salah satu personil duta Nasyid akhwat sekolah.

Bagiku ia unik, seunik namanya. Ketika yang lain memilih berangkat lomba naik mobil, ia justru memilih untuk berangkat naik motor. Dan aku? Huft, aku ditugaskan menjadi Driver pribadinya. Dan ia benar-benar membuatku keki. Setiap kali motorku berada di belakang mobil, ia selalu protes. Bisa mabuk katanya. Ah, akhirnya kutemukan juga kelemahannya. Alergi naik mobil. Aku tersenyum bangga. Meski begitu, Selama di perjalanan, tak henti-hentinya ia mendendangkan lagu. Ketika aku yang protes karena terganggu, ia bilang itu latihan. Sungguh ini tidak adil. Namun dibalik keunikan
dirinya, ia menyimpan duka yang dalam. Baru kupahami kondisi dirinya saat berada diperjalanan pulang. Ia yang duduk di boncengan belakang motorku hanya diam membisu. Aku pun mulai bosan.

Untuk mengusir rasa bosanku, awalnya aku memintanya untuk bernyanyi. Tak sengaja, aku memintanya menyanyikan lagu tentang Ayah, lagu yang mewakili perasaan hatiku. Iapun menyanggupi, dan tak lama berselang kita sudah hanyut menyanyikan bait lagu itu.

Untuk ayah tercinta aku ingin bernyanyi
Walau air mata mata dipipiku
Ayah dengarkanlah aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi..

Namun tiba-tiba ia berhenti bernyanyi. Lupa, katanya. Aku yang tak tahu perasaan batinnya malah menuturkan cerita tentang ayahku sendiri. Ia mulai simpatik dengan ceritaku. Tanpa disangka ia pun membuka diri, dan mulai menceritakan tentang perasaan batinnya.

Aku terperangah. Aming Shan-Shan, muridku yang berbeda. Ia kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Ibunya sudah meninggal 6 tahun yang lalu karena melahirkan adik kecilnya, dan kini ayahnya hidup dengan istrinya yang baru. Sosok seorang ayah yang seharusnya berada di sampingnya dan memperhatikan dirinya telah hilang. Tak pernah lagi memberikan nafkah atau sekadar memberi recehan uang jajan kepadanya. Hidupnya seolah-olah tak bernada.

Kini ia tinggal bersama saudara dari bude-nya. Beberapa bulan yang lalu ia sempat punya keinginan untuk keluar dari sekolah, karena rumahnya yang jauhtidak memungkinkannya untuk berangkat. Apalagi jika sepeda yang menjadi kendaraan satu-satunya rusak, sementara tidak ada yang memperhatikan dirinya. Hal ini menjadi tekanan batin untuknya. Andai sekarang ia tak berangkat sekolah 2 kali lagi mungkin ia akan dikeluarkan.

Aming Shan-Shan, muridku yang tegar. Di balik ujian hidup yang menimpanya, ia masih bisa bertahan. Senyum dan tawanya selama ini mampu menutupi luka batinnya. Tak ada yang tahu apa yang dialaminya. Baru kupahami, beginilah seharusnya menjadi guru. Mengerti dan memahami kondisi murid-muridnya. Separah apapun kenakalan seorang murid, itu bisa dipengaruhi oleh kondisi keluarganya. Dan seorang guru, harus mampu menjadi Ing ngarso sungtulodo inmadyo mangunkarso tut wuri handayani.

Aming Shan-Shan. Hari-harinya memang kelihatan biasa. Ia masih bisa tersenyum. Ia masih tertawa. Namun siapa sangka ia punya luka batin yang menganga. Mungkin ini jawaban mengapa aku selalu tertarik untuk memperhatikannya sejak pertama kali berjumpa.

Penulis : Dwi Puji Astuti, Guru di SMP IT Insan Mulia, Batanghari, Lampung
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top