Monday , 25 June 2018
update
Kiai dan Jaran Kepang

Kiai dan Jaran Kepang

Menghentikan tindakan buruk terkadang memang tidak harus dengan melarang pelakunya secara langsung. Sering kita lihat, ketika pelaku keburukan dicegah, justru dia semakin berulah. Sudah menjadi tabiat manusia, semakin dicegah malah semakin menggila, semakin dibenci justru semakin menjadi, semakin dipaksa pasti semakin meronta.

Kisah berikut saya terima dari seorang kiai desa. Dikisahkan, beliau tengah mengajari anak-anak desa mengaji Al-Qur’an di masjid. Anak-anak usia sekolah yang belajar lumayan banyak. Mereka sangat antusias belajar melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an pada kiai bersahaja itu.

Masalah muncul. Setiap pembelajaran mengaji berlangsung, ketika itu juga ada permainan jaran kepang di pinggir desa. Seolah sengaja, pemain jaran kepang memainkan tarian dengan mengempit anyaman bambu berbentuk kuda itu tepat pada waktu anak-anak sedang mengaji.

Tentu itu sangat mengganggu. Kiai sendiri merasakan betapa anak-anak yang mengaji di masjid lambat laun semakin berkurang. Penyebabnya, tidak sedikit dari anak-anak di masjid itu yang lebih tertarik menonton permainan jaran kepang. Setelah berpikir, kiai akhirnya mendatangi rumah pemain jaran kepang itu.

Mengetahui siapa yang datang, tuan rumah langsung menaruh curiga. Pikirnya, apa lagi tujuan kiai datang ke rumahnya, selain untuk menghentikan permainan jaran kepangnya. “Jaran kepang ini kan kesenian yang sudah lama di sini. Memangnya ada yang salah, Kiai ?” Tuan rumah yang sekaligus pemain jarang kepang itu membuka obrolan.

“Lo, siapa bilang itu salah,” jawab kiai ramah. “Kecil saya juga sangat senang dengan permainan itu. Hanya yang saya enggak suka, kamu bermain kok pakai jaran jelek kayak gitu. Mestinya, ya yang bagus!”

“Terus gimana, Kiai?” sela pemain jaran kepang.

“Jaranmu yang itu kamu buang saja. Nanti saya belikan yang baru dan bagus, kemudian kamu pakai, supaya lebih menarik,” jawab kiai yang disambut senyum mengembang oleh pemain jarang kepang.

Esoknya, kiai langsung membelikan jaran dan segala perlengkapan baru yang dibutuhkan. Tentulah pemain jaran kepang girang bukan kepalang. “Nah, sekarang kamu harus tahu, anak-anak yang mengaji di masjid itu juga ingin sekali lihat jaran kepang,” tutur kiai.

“Maksudnya, Kiai?” potong pemain jaran kepang.

“Ya, kamu kalau main jangan pas anak-anak mengaji, supaya mereka juga bisa melihat. Kamu lihat saja jadwal mengaji di masjid, sesuaikan dengan waktu kamu bermain,” terang kiai.

Tanpa pikir, pemain jaran kepang setuju. Sejak itulah, permainan jaran kepang tidak lagi bersamaan dengan jadwal mengaji. Terang saja, anak-anak senang. Mereka bisa tetap mengaji sekaligus juga menonton jaran kepang sepulang dari mengaji di masjid. Jumlah anak-anak mengaji yang sempat berkurang kembali normal, malah semakin bertambah beberapa anak.

Kembali kiai datang ke rumah pemain jaran kepang. Tidak seperti dulu, kedatangan kiai kali ini disambut dengan senyum ramah oleh pemilik rumah. Setelah basa-basi, kiai lantas mengutarakan maksud, “Ini anak-anak yang mengaji kan semakin banyak. Mereka senang bisa menonton jaran kepang. Tapi anak-anak jaran kepang itu kok enggak ke masjid. Mbok ya kamu suruh, supaya juga bisa belajar mengaji sedikit-sedikit.”

Pemain jaran kepang langsung mengiyakan usulan kiai. Kini, anak-anak semakin semangat mengaji di masjid. Kiai merasa lega. Dengan telaten, kiai membina anak-anak desa itu. Tidak lagi terdengar kabar tentang jaran kepang yang dulu sempat menggelisahkan hati itu. Program mengaji berjalan lancar, tanpa terganggu oleh permainan jaran kepang.

Berjalan sekian tahun, tiba-tiba lelaki tinggi besar pemain jaran kepang itu datang untuk menemui kiai di rumah beliau. Hampir saja kiai tidak mengenalinya. Lelaki yang dulu dikenal sebagai pemain jaran kepang itu sekarang penampilannya berubah. Tampak lebih bersih. Berbaju koko dan berpeci lagi. Tidak kalah dengan penampilan seorang santri.

Setelah dipersilakan duduk, lelaki itu lantas bercerita, “Saya ini bingung, Kiai. Lo, orang-orang itu kok minta saya bermain jaran kepang lagi.”

“Kamu bukannya masih bermain jarang kepang itu?” tanya kiai.

“Sudah lama saya berhenti, Kiai”, sahut lelaki itu. “Tapi, tiba-tiba ini kok banyak orang menyuruh saya bermain lagi. Wah gimana ini?”

Sambil menyodorkan minuman, kiai bilang, “Ya kamu mainkan lagi saja. Kalau perlu, nanti saya bantu modal. Ini ada uang dua juta, silakan kamu pakai. Enggak usah kamu bayar. Tapi begini, uang ini enggak harus kamu pakai untuk beli peralatan jarang kepang. Umpama kamu merasa perlu untuk kebutuhanmu sendiri, juga enggak apa-apa. Silakan pakai!”

Bukan main senangnya lelaki itu. Dia merasa, setiap bertemu kiai satu ini, semua masalahnya pasti tuntas. Beres. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih. Sambil malu-malu, dia menerima uang pemberian kiai dermawan itu, kemudian pamit pulang. “Matur sembah nuwun, Kiai, matur sembah nuwun,” kata lelaki itu sambil mencium tangan kiai. “Saya pulang dulu. Alhamdulillah!”

Hati lelaki itu sungguh-sungguh berbunga. Ingin rasanya segera sampai rumah. Sepanjang jalan, dia terus memacu langkahnya. Tiba di rumah, dia langsung menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Apakah dia segera membeli perlengkapan jaran kepang dan memainkannya lagi? Tidak. Uang dua juta itu, seluruhnya diserahkan kepada istrinya. Uang itu mau dia gunakan sebagai modal membuka usaha meracang di rumah.

Sejak itu, tidak ada lagi permainan jaran kepang. Pemainnya dengan sadar hati telah berhenti tanpa dipaksa siapa pun untuk berhenti.

M. Husnaini (Penulis buku Menemukan Bahagia)

Leave a Reply

Scroll To Top