Tuesday , 12 December 2017
update
Kisah Adil

Kisah Adil

“Assalamualaikum,”
“Wa’alaikum salam,” jawab ibu dari dalam rumah.
“Dil, ayo mampir ke rumah dulu” ajakku.
“Tidak, Boy, terima kasih,” tolaknya halus.

Rumah kami memang satu arah. Satu gang pula, yaitu Gang Mudin. Sambil melepaskan sepatu kulihat lagi tubuh anak kampung yang tinggi subur bak pohon pisang diberi pupuk kompos. Adil memiliki tubuh yang sangat  sempurna dibading kami bertiga. Tegap dan tinggi.

Janji keramat kemarin telah kubayar lunas dengan ibu Yani. Namun tak seperti aku, si keras kepala, Adit, masih memiliki hutang. Ia finish di urutan sepuluh. Para pengikut setianya pun dari hari ke hari kian berkurang. Nampaknya ini pukulan telak bagi ketua adat yang di elu-elukan para pengikutnya.

###

Pagi masih mengikat embun yang berada di permukaan daun. Ia menggantung di dedaunan seolah memberikan timbal balik yang saling menguntungkan. Jika dalam disiplin ilmu pengetahuan alam hal ini disebut simbiosis Mutualisme.

Kukayuh kaki ini hingga dari pandangan terlihat gerbang reot sekolahku. Berwarna hijau muda yang mentereng, meski  tidak lagi semuda dulu. Warna hijaunya telah lesuh. Kalah dengan semangat hujan dan sengatan matahari yang tak menyerah melumpuhkan cinta abadi sang cat hijau muda dengan besi tua. Akhirnya kandaslah cinta mereka di tengah jalan.

Di depan kelas, tak seperti biasanya. Ada gedebog  pisang yang sedang melamun, segera kuhampiri dan kutanya.
“ Kau baik-baik saja, Dil?”
“Ya,” jawab seperlunya.

Aku masih penasaran dengan gedebog  pisang ini. Nampak jelas di raut mukanya menyembunyikan sebuah tanda  tanya besar. Benar dugaanku. Dalam kelas pun ia terdiam seharian. Coba kucari tau dengan kutanyai  Anam dan Adit.
“Kalian berdua tau kenapa ketua kita melamun?”
Tanpa dikomandoi mereka menggelengkan kepala serentak. Sambil memandang tajam  Adil seraya berkabung.

Duh, rasa ingin tahuku mengalahkan semua yang sedang kukerjakan. Apakah ini masalah sama yang dihadapi seperti Anam? Atau seperti si keras kepala? Makin penuh kepalaku dengan pertanyaan yang tak jelas ini.

Adil adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakak tertuanya tak mampu diharapkan. Ia sendiri sebagai sosok yang mencoba keluar dari baying-bayang keluarga yang keras  ini. Kakaknya dulu pergi dari rumah lantaran tak tahan dengan sifat ayah mereka yang kasar. Siapa yang tak kenal Pak Bahrin. Kalau ada nominasi penghargaan dalam katagori orang temperamental, maka bukan hanya masuk nominasi saja. Beliau juga menyabet penghargaan tersebut.

Biasanya jika ada permasalah di rumah, Adil tak membawanya hingga ke sekolah. Ia adalah teladan bagi kami. Setelah pulang sekolah, ia mengurusi dua adiknya yang duduk di kelas 2 SD dan bungsu berumur 5 tahun. Kemudian berangkat upahan mengambil kerikil di sungai. Memang kejam, Kawan. Tapi kami terbiasa dengan hal ini. Pekerjaan ayahnya sebagai pedagang sayur keliling tak mencukupi empat mulut yang berada di rumah. Kerap kali terjadi pertengkaran antara ayah dan ibunya perihal ekonomi.

###

“Sepertinya kita harus cari tau apa yang terjadi dengan ketua kita,” usul Adit pada kami berdua.
“Benar,” jawab kami berdua, Anam dan aku, serentak.

Sepulang sekolah, kami memutuskan ke sungai bersama untuk menemui Adil. Setelah selesai mengganti seragam kami melesat ke Sungai Tanjung Senang.

“Dil…” panggil Adit dari tepi sungai.
“Ya Boy, tunggu sebentar,” sambil meletakkan ember dari pegangannya.
“Ini untukmu,” Anam memberikan tebu bagian milik Adil.
“Akhir-akhir ini kau terlihat murung Boy?” tanya Adit.
“Apakah benar?” balik bertanyalah ia.
“Ya,” Adit menimpali.
“Ayolah, Boy, cerita pada kami tentang apa yang sedang kau pikirkan itu,” tambahku.
“Tak ada apa-apa, mungkin hanya firasat kalian saja,”
“Anam yang bodoh dan tak pernah akan pintar pun tau kalau kau ada masalah, Boy,” Anam pun mengeluarkan biji matanya ke hadapan Adit.

Suasana pun kian cair. Kami tertawa mendengarkan perkatan Adit yang memojokan Anam. Akhirnya ia menceritakan tentang suasana di rumahnya yang kacau. Dia tak tahu harus bagaimana lagi menjaga telinga kedua adiknya dari teriakan  Kedua orang tuanya bertengkar hebat. Bahkan ayahnya tak segan-segan memukul ibunya. Kontak fisik ini membuatnya sedih. Pokok permasalahannya masih tentang seputar peliknya ekonomi, Kawan.
Kami terdiam seribu bahasa mendengarkan cerita Adil. Adit yang sok pintar pun diam, seperti kehilangan otak kanannya. Ia diam bak anak disable. Begitu pun kami.

Setelah mendengarkan cerita Adil , kini tugas kami mencarikan solusi. Ya, memang masalah ekonomi. Kupandangi plavon kamarku yang berwarna kitam. Atapnya yang sudah berubah warna karena asap lampu tempel kamarku membuat suasana kamar semakin tak karuan. Kubayangkan anak sekecil itu menanggung penderitaan yang tiada tara ini.

Mungkin benar jika air danau itu keruh
mungkin benar jika tanah itu kotor
namun coba kau tanyakan..
bagaimanakah air keruh  membuat bunga teratai menjadi indah?
bagaimanakah tanah kotor itu membuat guci yang terpajang menjadi sangat cantik?

(bersambung)

Penulis : Anton Nuari
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top